Revolusi
Rusia
(1905-1917)
Revolusi
Sosial adalah perubahan yang cepat dan mendasar dari masyarakat dan struktur
kelas suatu negara, dan revolusi tersebut dibarengi serta sebagian menyebabkan
terjadinya pemberontakan kelas dari bawah. Adanya revolusi berawal dari sebuah
negara di dataran Eropa yang dikenal dengan Revolusi Perancis yang terjadi pada
1790-an. Adanya revolusi tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap
keberlangsungan kehidupan masyarakat dengan membawa perubahan pada organisasi
negara, struktur kelas sosial dan ideologi yang dominan. Revolusi Perancis
telah menjadikan negara tersebut sebagai kekuatan baru dalam dunia dimana
Perancis menjadi negara yang berhasil menaklukan benua Eropa. Selain itu juga
terdapat Revolusi Rusia yang menjadikan negara tersebut menjadi negara adidaya
industri dan militer.
Revolusi
Rusia terjadi pada pertengahan pertama tahun 1917. Revolusi ini telah membuat
Bangsa-bangsa kapitalis barat tercengan
terhadap Rusia. Selain itu dengan adanya Revolusi Rusia ini telah memberikan
semangat bagi negara-negara yang sudah tumbuh dan berkembang untuk menunjukkan
suatu kekuatan negara revolusioner, untuk dapat merubah negara yang sektor
ekonominya berdasarkan pertanian yang dikenal masih terbelakang menjadi sebuah
negara yang mempunyai kekuatan industri dan militernya yang merupakan terbesar
kedua di dunia, dengan memerlukan waktu yang tidak lama yaitu dalam waktu dua
generasi.
Rusia
menjelang abad ke-20 merupakan sebuah negara yang ditakuti oleh negara Eropa.
Rusia dikenal sebagai “Cendarme of
Europe” yaitu suatu pembalasan terhadap harapan-harapan revolusiaoner di
Eropa Tengah. kekaisaran Rusia bersifat Otokrasi yang lebih condong pada
militeristis dan birokratis. Pada masa
pemerintahan kekaisaran Peter Agung (Peter the Great) (1682-1725). Ia
menerapkan teknik-teknik perang laut dan darat Eropa yang terbaru serta dengan
dominasi administrasi yang “rasional”. Dengan penggunaan teknik perang tersebut
berhasil menaikkan kekuatan angkatan perang Rusia dimana hal tersebut
berpengaruh pada kekuasaan/kekuatan Rusia dimata bangsa-bangsa Eropa. Angkatan
perang tersebut terdiri atas prajurit-prajurit yang berasal dari kalangan
budak-budak dan bangsawan yang sudah di rekrut oleh pemerintah Rusia. Setelah
mengalahkan tentara Swedia dalam perang “Great
Northem War” tahun (1700-1721) menjadikan Rusia sebagai kekuatan militer yang
multietnis.
Perekonomian
Rusia bertumpu pada sektor agraris yang didasarkan pada perbudakan. Menjelang
pertengahan abad ke-19 sekitar 8% sampai dengan 10 % atau sekitar 60 juta jiwa penduduk Rusia
tinggal di kota. Sedangkan kondisi di pinggiran kota petani-petani budak
terikat oleh pekerjaan mereka dimana mereka harus mengelola lahan-lahan
pertanian yang sangat luas milik para bangsawan atau negara. di derah yang
tanahnya subur para budak tersebut menyelenggarakan barshchina atau bursa tenaga kerja bagi “demesne” atau para tuan tanah dalam waktu satu setengah minggu
atau bahkan lebih dari waktu yang telah ditentukan. Apabila musim kering telah
datang Teknik pertanian yang digunakan masyarakat pada saat itu terdapat 2
teknik yaitu sistem peladangan luas yang terpencar-pencar, peladangan komunal
yang menggunakan sistem bajak.
Pertanian
di Rusia tumbuh secara pesat yang dibarengi dengan pertumbuhan penduduknya yang
bertambah 4 kali lipat dari 16 juta penduduk menjadi 60 juta penduduk dalam
kurun waktu selama 1719 sampai dengan 1858. Pertumbuhan penduduk tersebut
berasal dari daerah-daerah alamiah ditempat yang lama dimana penduduk daerah
tersebut tidak dijadikan sebagai budak dalam angkatan perang Rusia. Selain
bekerja sebagai petani terdapat juga masyarakat yang mempunyai pofesi sebagai
pengrajin dan pedagang.
Industrialisasi yang berkembang sejak abad ke-19
mempunyai dampak pada kondisi geopolitik Rusia. Hal tersebut mamaksa Rusia
untuk mempertahankan arena-arena perang dan diplomasi politiknya yang mana
tujuan utamanya adalah mengkontrol pintu masuk ke Laut Hitam. Revolusi 1917
berawal dari kekalahan angkatan perang Rusia dalam perang Crimean dalam
perebutan benteng Sevastopol yang terjadi pada tahun 1854-1855. Dalam
mengkontrol pintu masuk ke Laut Hitam Rusia berhadapan dengan angkatan perang
Perancis dan Inggris tanpa mendapatkan bantuan pasukan dari bekas sekutunya
yaitu Austria. Dengan jumlah angkatan perang serta teknologi kapal yang
tertinggal maka Rusia berhasil dikalahkan. Kekalahan rusia tersebut membuatnya
harus meninggalkan pangkalan Angkatan Lautnya di Laut Hitam.
Dengan kekalah tersebut berdampak pada situasi kondisi
politik dalam negeri Rusia dimana terjadi ketidak seimbangan sistem kekaisaran
yang selama ini digunakan dengan masyarakatnya yang praindustri dan perbudakan.
Disamping itu kekalahan tersebut telah merusak citra terhadap kekuatan militer
Rusia yang selama ini dianggap sebagai yang di takuti dan terkuat di dataran
Eropa.
Bangsawan pemilik
tanah di Rusia memiliki kelemahan yaitu dimana mereka harus tunduk dan patuh
dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh kaisar Rusia. Bangsawan tanah
dijadikan sebagai pelayan negara dimana sumber pendapatan dan kesejahteraan
mereka harus dibayar dengan mengabdikan dirinya kepada tsar. Para budak tanah ditarik oleh utusan tsar yang
di tugaskan untuk menarik dari rakyat sumber-sumber secukupnya untuk mendukung
militer agar dapat mempertahankan wilayah kekuasannya yang terancam oleh negara
lainnya di samping itu militer tersebut juga digunakan untuk melakukan ekspansi
ke beberpa wilayah lainnya. Para bangsawan pemilik tanah di berikan kebebasan
untuk memperbudak petani dan di berikan hak atas tanah milik mereka. Pemberian
hak tanah tersebut di berikan oleh pemerintah yang mencakup wilayah yang
berbeda-beda bukan hanya terpusat pada satu wilayah. Dengan kondisi tersebut
maka tidak memungkinkan bagi bangsawan tanah untuk membangun solidaritas
regional maupun lokal dalam membangun suatu kekuatan yang baru.
Tujuan utama otokrasi pada pemerintahan tsar adalah
diberlakukannya kebijakan meliberalisasi
kaum budak adalah untuk menstabilkan kekaisaran. Dengan adanya kebijakan
tersebut maka tsar dan para pegawainya memberikan “kebebasan” hukum kepada
petani untuk mengelola sebidang tanah
sekaligus pemberian hak atas tanah tersebut. Kebijakan tersebut tentu sebagai
penghambat adanya reformasi emansipasi dimana petani hanya memiliki sedikit
tanah yang luasnya tidak seberapa, selain itu para bagsawan dituntut untuk
mendorong investasi dengan menggunakan tenaga kerja yang murah yang disediakan
oleh tsar. Hasil dari reformasi emansipasi adalah memberikan peran kepada
negara kekaisaran yang bersifat langsung dan ekslusif dalam mengontrol para
petani, serta memperoleh hasil pertanian tersebut yang sudah dikerjakan oleh
petani.
Setelah diadakannya reformasi
modern pasca perang Crimean maka diadaknnya usaha untuk membangun industri
dari atas yang dikendalikan oleh negara. Hal tersebut baru terlaksana setelah
diadakannya eksperimen inisial kebijakan laissez
faire kapitalis. Sepanjang tahun 1860-an sampai dengan tahun 1970-an Rusia
membuka diri dengan perdaganagn Internasional. Hal tersebut dilakukannya guna
mendapatkan modal untuk membangun industri modernnya denagn materi dan teknik
yang lebih canggih dalam ranggka membangun basis militernya gunak mengahdapai
perang dengan sekutu-sekutunya.
Melalui menteri keuangan Rusia Sergei Witte yang
menerapkan kebijakan Crash program
untuk mempromosikan industri nasional, maka diterapkanlah kebijakan trsebut
melalui pembangunan dan pengoperasian kereta api, subsidi dan pelayanan
terhadap industri swasta, perlindungan terhadap industri Rusia, meningkatkan
ekspor, dll. Kebijakan tersebut
membuahkan hasil yang positif dimana rata-rat pertumbuhan industri Rusia adalah
sebesar 8% per tahun. Hal inilah yang kemudian akan memunculkan kaum proletar
industri masa depan yang terkonsentrasi pada pusat-pusat industri besar seperti
ibu kota Rusia, Eropa, St. Petersburg dan Moskow.
Dengan membuka diri pada perdaganagn internasional maka
perekonomian Rusia sangat terikat dan bergantung pada kondisi perekonomian
Eropa. Hal tersebut tentu berdampak buruk bagi kondisi ekonomi dalam negerinya
dimana pada tahun 1899-1900 kondisi pasar
keuangan Barat (Eropa) mengalami krisis yang bedampak pada kondisi
industri Rusia yang mana pada tahun tersebut sedang mengalami pertumbuhan.
Dengan kedaan tersebut membuat rakyat Rusia merasa tidak senang terhadap kekaisaran yang ada dimana negeri mereka
tidak dapat berdiri sendiri membangun perekonomian bangsanya dan lebih memilih
untuk menjadi semi koloni Eropa Barat.
Menjalang akhir abad ke-19 Rusia di terpa krisi
Revolusioner dimana kekaisaran tetap pada pendiriannya untuk menjadikan Rusia
sebagai negara yang besar dan memiliki kekuatan. Pendirian tersebut tidak
dibarengi dengan kondisi perekonomian Rusia yang masih tertinggal dan militer
rusia yang tidak lagi sekuat dahulu. Dengan kondisi yang ada tersebut maka
tidak heran jika dalam Perang Dunia I Rusia memperoleh kekalahan yang
mengakibatkan hancurnya kekaisaran Rusia.
Revolusi yang pernah terjadi di Rusia sebenarnya terjadi
sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1905 dan Revolusi Februasi tahun 1907.
Menurut pendapat dari Trotsky revolusi 1905 merupakan “pakaian latihan” bagi
revolusi 1917. Hal tersebut dikarenakan proses terjadinya revolusi 1905
mengalami kegagalan atau kemacetan dalam pelaksanaannya. Bulan Juni 1905
Angkatan laut Rusia melncarkan pemberontakan potemkin. Puncak dari
pemberontakan tersebut terjadi pada Oktober 1905 dimana terjadi pemogokan buruh
kereta api, yang akhirnya berlanjut menjadi sebuah pemogokan umum yang bersifat
politik. dengan adanya peristiwa tersebut yang bisa dikatakan mirip dengan
revolusi sosial ala Barat maka kaisar Tsar memilih untuk meletakkan jabatannya.
Dengan kaisar Tsar yang memilih untuk mengundurkan diri maka kebebasan sipil
dan “Legislatif Duma” didasarkan pada hak suara yang disetujui dalam Manifesto
Oktober.
Sementara itu Revolusi 1905 dan pemberontakan buruh dan
petani masih berlangsung sampai tahun 1906. Dengan adanya peristiwa tersebut
maka hal tersebut semakin memperburuk tensi sosial dan kekalahan tersebut
berada pada golongan atas atau bangsawan, selain itu sepanjang tahun 1905
Rusia, Eropa tunduk pada para pemberontak tersebut.
Perang Dunia I telah mencipatak situasi politik dunia
yang tidak menentu. Rusia tidak mungkin dapat menghindari perang tersebut. Hal
tersebut dapat dilihat dengan adanya “keputusan Rusia untuk melakukan
memobilisasi 15 juta orang untuk dijadikan tentara pada tahun 1914-1917,
sebagai jawaban atas aksi militer Austria melawan Serbia untuk mengancam
teritorial Rusia”. Pada akhirnya Rusia
harus menelan pil pahit dalam peperangan karena kalah dari Jerman yang
mengakibatkan berjuta-juta tentaranya mati terbunuh dan luka-luka. Kekalah tersebut diakibatkan karena sistem
transportasi yang kurang memadai. Dengan kekalahan tersebut maka kepercayaan
rakyat terhadap tsar dan otokrasinya mulai memudar. Ketidakpuasan masyarakat
terhadap pemerintahan yang ada mengakibatkan terakumulasinya kekuatan
masyarakat tersebut pada kota-kota di Rusia dan pecah protes-protes politik
kepada rezim otokrasi.
Pada awal terjadinya perang, semua kelompok artikulasi
politik kecuali kaum Bolshveik dan beberapa kaum Menshevik berjanji untuk
memberikan dukungan dalam rangka membertahankan “ibu pertiwi” dengan membentuk komite serta organisasi
lokal dan perwakilan yang sudah ada. Pada Februari 1917 ketika cuaca buruk semakin
memperburuk keadaan suplai makan ke kota, kaum buruh dan serdadu dari Petrograd
berhasil menjatuhkan otokrasi yang sudah hampir lenyap. jatuhnya otokrasi ke
tangan pemberontak mengakibatkan semakin meluasnya pengaruhnya yang meliputi
unit-unit militer lainnya, dari buruh pabrik sampai ke pegawai kereta api, dari
ibu kota Petrograd ke Moskow dan akhirnya sampai ke kota-kota propinsi.
Dalam situasi revolusioner Rusia muncul dua proses yang
saling tumpang tindih yang kemudian akan
mengakibatkan munculnya produk-produk revolusi itu. Kedua proses tersebut
adalah pemberontakan umum yang dilakukan oleh para petani dan perjuangan yang
dilakukan oleh para pemimpin politik yang berbasis pada daerah perkotaan untuk
membangun suatu basis organisasi negara baru.
Dalam catatan sejarah Revolusi Rusia mencatat bahwa kaum Bolshevik
sanggup menghancurkan atau mengatasi fase “februari” Liberal dari revolusi
tersebut. Dalam revolusi rusia tidak adanya keinginan untuk menghancurkan rezim
liberal yang berkuasa seperti halnya yang terjadi pada revolusi perancis. Revolusi
Rusia terjadi karena hancurnya negara Tsar (pengikut Tsar) yang disebabkan oleh
kekalahan yang terus menerus dalam perang Dunia I. Tidak adanya nyali yang
kuat Duma
dan Zemtvo untuk melakukan revolusi
dan pemerintahan daerah setelah bulan Februari yang tidak didasarkan pada
partisipasi politik umum. Sejak awal terbentuknya revolusi Rusia sudah dalam
kedaan yang kacau balau sehingga memiliki potensi konflik yang mendasar dan
tentu saja merusak usaha-usaha stabilitas liberal temporer.
Antara Februari
sampai dengan Oktober 1917 para pemimpin golongan politik dan dan golongan lain
yang duduk dalam pemerintahan berusaha untuk menciptakan kembali stabilitas
Revolusi Rusia dengan membentuk liberal demokrat, dengan persetujaun dewan
bekas Duma maka dibentuklah pemerintahan darurat sebagai pelaksana dari
tugas-tugas pemerintah sampai dengan terbentuknya Dewan Perwakilan yang terpilih
yang baru. Bersamaan dengan itu dibeberapa wilayah di Ppetrograd dan seluruh
wilayah soviet terbentuk dewan-dewan yang dipilih oleh kelompok buruh industri,
tentara dan kelompok petani. Rakyat Soviet menuntut untuk ikut serta dalam
mengawasi kinerja dewan pemerintahan darurat . pemimpin pemerintahan darurat
diwakili oleh orang-orang yang mempunyai hak istimewa , para tuan tanah, kaum
borjuis, dan para profesional.
Dalam kelanjutannya pemerintahan darurat berubah menjadi
pemerintahan koalisi dengan mengikut sertakan Menshevik dan para pemimpin
revolusioner dari kalangan sosialis yang bertanggung jawab kepada rakyat
Soviet. Kesulitan yang terjadi selama
revolusi Februari terus berlanjut dan justru semakin parah. Sistem jalan kereta
api tidak dapat memenuhi kebutuhan yang terus menerus dengan memberikan
pelayanan ke medan tempur, mengangkut korban yang terluka, mengangkut bahan
makanan ke kota, dan mensuplai bahan-bahan mentah untuk industri. Kondisi
tersebut diperparah lagi dengan adanya aksi pemogokan yang dilakukan oleh buruh
kereta api yang menuntut kenaikan upah.
Perang tak kunjung berhenti sampai pada akhirnya kaum
Bolshevik mengambil alih tampuk pemerintahan. Rakyat sudah terlanjur membenci
Tsar yang dianggapnya mengorbankan peperangan tidak pada tempatnya. Rakyat
kemudian mulai mandiri dengan menyelesaikan persoalan yang dihadapi tanpa
campur tangan dari kelas dominan. Di daerah-daerah perkotaan kaum buruh mulai
memberontak dengan tuntutan kenaikan upah serta pengurangan jam kerja. Mereka kemudian
mulai mengontrol manajemen, meningkatkan pelayanan pabrik agar tetap berjalan
dan mengambil alih perusahaan.
Pemerintahan
darurat akhirnya kehilangan otoritas dan kekuatan untuk menghentikan
serangan tehadap kelompok yang sudah diberi hak istimewa dan mencegah evolusi
ke arah anarki. Sebagian besar administrasi pemerintahan kekaisaran sebelumnya
termasuk polisi didalamnya dihapuskan. Dalam pembentukan badan administrasi
yang baru melalui zemstvo dan duma memiliki banyak kendala.
Badan-badan perwakilan ini memiliki kekurangan yang berkaitan dengan massa
petani dan proletar Rusia yang sebelumnya disingkirkan kemudian kini mereka
hidup bebas. Para petani, buruh, dan tentara dapat membangun kembali
kolektivitas mereka.
Sementara itu pemerintahan darurat tidak lagi dapat
menyusun kekuatannya dikarenakan tentara yang lemah. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut maka dibentuklah tentara yang anggotanya berasal dari
kelompok petani yang kemudian dimanfaatkan untuk menindas pemberontakan petani.
Lapisan masyarakat yang dominan serta pemerintahan sementara yang tak
tergoyahkan oleh pemberontakan-pemberontakan yang terus menerus di lakukan oleh
rakyat membuat pemerintah tidak mempunyai keinginan dan tidak mau menarik diri
dalam perang. Hal tersebut justru membuat para pemimpin tersebut seharusnya
tidak tutup mata dengan segala kejadian yang dialami negara yang mengakibatkan
melemahnya basis poitiknya akibat adanya
konflik sosial yang berkembang di masyarakat.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi
masalah tersebut adalah dengan peran serta partai politik dalam memobilisasi
rakyat banyak, sejalan dengan ketidakpuasan mereka terhadapap pemerintah
darurat. Tertib nasional baru harus dibangun secara cepat terutama mulai dari
kota-kota besar sampai dengan kota-kota kecil. Di sektor perkotaan basis
pengorganisasian yang paling mudah dilakukan pada kelas pekerja industri.
Di tengah kedaan Rusia yang tidak menentu tersebut hanya
partai Bolsheviklah yang mampu mengembangkan efektifitas taktikal dan mampu
memperoleh dukungan rakyat yang berada di letak-letak strategis. Partai
Bolshevik merupakan partai yang kecil dan ekstrimdiantar partai sosialis
lainnya. Bolshevik berada pada pihak oposisi pemerintahan darurat. Melalui
propaganda kritis yang diarahkan pada buruh industri dan pada pasukan garnisum
yang diwujudkan bersama rakyat melalui pemberontakan dengan menuntut atas
perdamaian, tanah, makan, wewenang buruh, dan seluruh kekuasaan untuk rakyat
Soviet. Meskipun partai Bolshevik jauh dari kesatuan doktrinal monolit tahun
1917, namun partai ini secara mempunyai koherensi organisasi daripada partai
sosialis lainnya.
Revolusi “Oktober” Rusia merupakan suatu momentum dimana
kekuatan pemerintahan darurat yang mulai melemah akibat pemberontakan yang
dilakukan oleh rakyatnya. Dengan begitu pemerintah tersebut kemudian menyetujui
tawaran partai Bolshevik yang meminta bagian kedaulatan negara. di ibu kota
Bolshevik mengorganisir suatu coup
militer yang dilakukan melalui garnisun petrograd yang berada dibawah
kewenangan Komite Revolusioner Militer Soviet. Kudeta ini mengatas namakan
sebagai perwakilan Soviet dari buruh,
tentara, dan petani. Untuk mempertahankan negaranya tersebut Bolshevik dituntut
untuk bisa membangun organisasi-organisasi negara, mengelola sumber daya yang
tersedia yakni loyalitas partai dukungan masyarakat perkotaan dan sisa-sisa
keahlian dari zaman rezim sebelumnya. Pemerintah Darurat dan kaum sosialis
moderat telah mengupayakan agar supaya perang tetap berlangsung, dengan menunda
pengakuan atas tanah-tanah hasil rampasan yang dilakukan oleh petani.
Dalam menghadapi pihak oposisi Bolshevik melakukannya
sendiri tanpa bantuan dari partai manapun. Meski pertikaian kadang terjadi
dalam tubuh Bolshevik, namun kaum Bolshevik dibujuk Lenin agar tidak
menyerahkan hasil coup-nya begitu
saja. Bolshevik harus menampilkan dirinya sebagai pemimpin dan wakil
proletariat dan berupaya untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaannya.
Dalam melaksanakan misi tersebut maka mereka harus berhati-hati dengan siasat
politik yang hebat untuk menyusun kekuasaan dari para pengikutnya. Setelah
berkuasa, Bolshevik menyetujui penyitaan petani atas tanah-tanah milik kaum
proletariat, mengumumkan keinginan mereka untuk merundingkan penyelesaian
perang, memerintahkan pemilihan perwira oleh para tamtama dan menghapus
perbedaan kepangkatan dalam angkatan bersenjata.
Polisi politik, Cheka setelah Revolusi Oktober melakukan
pengorganisasian menjadi suatu perwakilan administratif yang otonom. Mereka
mempunyai hak untuk mengadakan penyelidikan, penahanan, penembakan, kemudaian
membuat laporan kepada Dewan Komisaris Rakyat dan Komite Eksekutif Pusat
Soviet. Dalam menjalankan tugas tersebut kadangkala unit-unit Cheka melakukan
perampasan terhadap pasokan di desa-desa yang mana pasokan tersebut juga
dibutuhkan oleh tentara merah. Tentara merah juga dapat digunakan sebagai
tenaga komite-komite buruh jika Cheka membutuhkannya dengan jalan melalui
paksaan. Tentara merah Rusia dibentuk dari orang-orang yang merasa tidak puas
terhadap pemerintahan yang ada dimana terus melakukan peperangan, tidak lagi
bersedia mematuhi seruan-seruan nasionalis. Tentara merah dipimpin oleh Leon
Trotsky sebagai Komisaris Militer, dibantu oleh Lenin dan Kimite Sentral partai
dengan membentuk tentara merah yang terpusat, profesional dan disiplin.
Tahun 1918-1921 tentara merah berhasil menaklukkan
ancaman-ancaman militer kontra revolusioner. Mereka bertemput menurut
dasar-dasar militer konvensional yang mampu memanfaatkan keuntungan-keuntungan
strategis dari garis-garis perbatasan daerah pedalaman. Disamping itu mereka
juga berhasil memanfaatkan rasa tidak sengang dari rakyat Rusia terhadap
Tentara Putih. Tentara merah berkembang
menjadi sebuah basis dalam perkembangan partai komunis Bolshevik yang terpusat.
Pada tahun yang sama kontrol negara terhadap ekonomi
semakin menguat dimana kaum Bolshevik mempunyai cita-cita untuk menjadikan
negara sebagai komunis denagn sistem “komunisme perang” yang berarti negara
berperan sebagai prosedur dan distributor tunggal. Dengan begitu buruh
diwajibkan untuk hidup berada dibawah bimbingan dan aturan dari negara,
pembayaran setimpal dengan kebutuhan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Skocpol, Theda.1991.Negara dan Revolusi
Sosial (Suatu Analisis Komparatif tentang Perancis, Rusia dan Cina).Jakarta: Erlangga.
2.
Brinton, Crane.1962.Anatomi Revolusi.New
York: Vintage Books.
3.
Arif, Saeful dan Eko Prasetyo.2004.Lenin
Revolusi Oktober 1917. Yogyakarta: Resist Book.