Rabu, 21 November 2018

Revolusi Rusia


Revolusi Rusia
(1905-1917)
Revolusi Sosial adalah perubahan yang cepat dan mendasar dari masyarakat dan struktur kelas suatu negara, dan revolusi tersebut dibarengi serta sebagian menyebabkan terjadinya pemberontakan kelas dari bawah. Adanya revolusi berawal dari sebuah negara di dataran Eropa yang dikenal dengan Revolusi Perancis yang terjadi pada 1790-an. Adanya revolusi tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat dengan membawa perubahan pada organisasi negara, struktur kelas sosial dan ideologi yang dominan. Revolusi Perancis telah menjadikan negara tersebut sebagai kekuatan baru dalam dunia dimana Perancis menjadi negara yang berhasil menaklukan benua Eropa. Selain itu juga terdapat Revolusi Rusia yang menjadikan negara tersebut menjadi negara adidaya industri dan militer.
Revolusi Rusia terjadi pada pertengahan pertama tahun 1917. Revolusi ini telah membuat Bangsa-bangsa kapitalis  barat tercengan terhadap Rusia. Selain itu dengan adanya Revolusi Rusia ini telah memberikan semangat bagi negara-negara yang sudah tumbuh dan berkembang untuk menunjukkan suatu kekuatan negara revolusioner, untuk dapat merubah negara yang sektor ekonominya berdasarkan pertanian yang dikenal masih terbelakang menjadi sebuah negara yang mempunyai kekuatan industri dan militernya yang merupakan terbesar kedua di dunia, dengan memerlukan waktu yang tidak lama yaitu dalam waktu dua generasi.
Rusia menjelang abad ke-20 merupakan sebuah negara yang ditakuti oleh negara Eropa. Rusia dikenal sebagai “Cendarme of Europe” yaitu suatu pembalasan terhadap harapan-harapan revolusiaoner di Eropa Tengah. kekaisaran Rusia bersifat Otokrasi yang lebih condong pada militeristis dan birokratis.  Pada masa pemerintahan kekaisaran Peter Agung (Peter the Great) (1682-1725). Ia menerapkan teknik-teknik perang laut dan darat Eropa yang terbaru serta dengan dominasi administrasi yang “rasional”. Dengan penggunaan teknik perang tersebut berhasil menaikkan kekuatan angkatan perang Rusia dimana hal tersebut berpengaruh pada kekuasaan/kekuatan Rusia dimata bangsa-bangsa Eropa. Angkatan perang tersebut terdiri atas prajurit-prajurit yang berasal dari kalangan budak-budak dan bangsawan yang sudah di rekrut oleh pemerintah Rusia. Setelah mengalahkan tentara Swedia dalam perang “Great Northem War” tahun (1700-1721) menjadikan Rusia sebagai kekuatan militer yang multietnis. 
Perekonomian Rusia bertumpu pada sektor agraris yang didasarkan pada perbudakan. Menjelang pertengahan abad ke-19 sekitar 8% sampai dengan 10 %  atau sekitar 60 juta jiwa penduduk Rusia tinggal di kota. Sedangkan kondisi di pinggiran kota petani-petani budak terikat oleh pekerjaan mereka dimana mereka harus mengelola lahan-lahan pertanian yang sangat luas milik para bangsawan atau negara. di derah yang tanahnya subur para budak tersebut menyelenggarakan barshchina atau bursa tenaga kerja bagi “demesne” atau para tuan tanah dalam waktu satu setengah minggu atau bahkan lebih dari waktu yang telah ditentukan. Apabila musim kering telah datang Teknik pertanian yang digunakan masyarakat pada saat itu terdapat 2 teknik yaitu sistem peladangan luas yang terpencar-pencar, peladangan komunal yang menggunakan sistem bajak.
Pertanian di Rusia tumbuh secara pesat yang dibarengi dengan pertumbuhan penduduknya yang bertambah 4 kali lipat dari 16 juta penduduk menjadi 60 juta penduduk dalam kurun waktu selama 1719 sampai dengan 1858. Pertumbuhan penduduk tersebut berasal dari daerah-daerah alamiah ditempat yang lama dimana penduduk daerah tersebut tidak dijadikan sebagai budak dalam angkatan perang Rusia. Selain bekerja sebagai petani terdapat juga masyarakat yang mempunyai pofesi sebagai pengrajin dan pedagang.  
            Industrialisasi yang berkembang sejak abad ke-19 mempunyai dampak pada kondisi geopolitik Rusia. Hal tersebut mamaksa Rusia untuk mempertahankan arena-arena perang dan diplomasi politiknya yang mana tujuan utamanya adalah mengkontrol pintu masuk ke Laut Hitam. Revolusi 1917 berawal dari kekalahan angkatan perang Rusia dalam perang Crimean dalam perebutan benteng Sevastopol yang terjadi pada tahun 1854-1855. Dalam mengkontrol pintu masuk ke Laut Hitam Rusia berhadapan dengan angkatan perang Perancis dan Inggris tanpa mendapatkan bantuan pasukan dari bekas sekutunya yaitu Austria. Dengan jumlah angkatan perang serta teknologi kapal yang tertinggal maka Rusia berhasil dikalahkan. Kekalahan rusia tersebut membuatnya harus meninggalkan pangkalan Angkatan Lautnya di Laut Hitam.
            Dengan kekalah tersebut berdampak pada situasi kondisi politik dalam negeri Rusia dimana terjadi ketidak seimbangan sistem kekaisaran yang selama ini digunakan dengan masyarakatnya yang praindustri dan perbudakan. Disamping itu kekalahan tersebut telah merusak citra terhadap kekuatan militer Rusia yang selama ini dianggap sebagai yang di takuti dan terkuat di dataran Eropa.
            Bangsawan  pemilik tanah di Rusia memiliki kelemahan yaitu dimana mereka harus tunduk dan patuh dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh kaisar Rusia. Bangsawan tanah dijadikan sebagai pelayan negara dimana sumber pendapatan dan kesejahteraan mereka harus dibayar dengan mengabdikan dirinya kepada tsar.  Para budak tanah ditarik oleh utusan tsar yang di tugaskan untuk menarik dari rakyat sumber-sumber secukupnya untuk mendukung militer agar dapat mempertahankan wilayah kekuasannya yang terancam oleh negara lainnya di samping itu militer tersebut juga digunakan untuk melakukan ekspansi ke beberpa wilayah lainnya. Para bangsawan pemilik tanah di berikan kebebasan untuk memperbudak petani dan di berikan hak atas tanah milik mereka. Pemberian hak tanah tersebut di berikan oleh pemerintah yang mencakup wilayah yang berbeda-beda bukan hanya terpusat pada satu wilayah. Dengan kondisi tersebut maka tidak memungkinkan bagi bangsawan tanah untuk membangun solidaritas regional maupun lokal dalam membangun suatu kekuatan yang baru.
            Tujuan utama otokrasi pada pemerintahan tsar adalah diberlakukannya  kebijakan meliberalisasi kaum budak adalah untuk menstabilkan kekaisaran. Dengan adanya kebijakan tersebut maka tsar dan para pegawainya memberikan “kebebasan” hukum kepada petani untuk  mengelola sebidang tanah sekaligus pemberian hak atas tanah tersebut. Kebijakan tersebut tentu sebagai penghambat adanya reformasi emansipasi dimana petani hanya memiliki sedikit tanah yang luasnya tidak seberapa, selain itu para bagsawan dituntut untuk mendorong investasi dengan menggunakan tenaga kerja yang murah yang disediakan oleh tsar. Hasil dari reformasi emansipasi adalah memberikan peran kepada negara kekaisaran yang bersifat langsung dan ekslusif dalam mengontrol para petani, serta memperoleh hasil pertanian tersebut yang sudah dikerjakan oleh petani.
            Setelah diadakannya reformasi modern pasca perang Crimean maka diadaknnya usaha untuk membangun industri dari atas yang dikendalikan oleh negara. Hal tersebut baru terlaksana setelah diadakannya eksperimen inisial kebijakan laissez faire kapitalis. Sepanjang tahun 1860-an sampai dengan tahun 1970-an Rusia membuka diri dengan perdaganagn Internasional. Hal tersebut dilakukannya guna mendapatkan modal untuk membangun industri modernnya denagn materi dan teknik yang lebih canggih dalam ranggka membangun basis militernya gunak mengahdapai perang dengan sekutu-sekutunya. 
            Melalui menteri keuangan Rusia Sergei Witte yang menerapkan kebijakan Crash program untuk mempromosikan industri nasional, maka diterapkanlah kebijakan trsebut melalui pembangunan dan pengoperasian kereta api, subsidi dan pelayanan terhadap industri swasta, perlindungan terhadap industri Rusia, meningkatkan ekspor, dll. Kebijakan  tersebut membuahkan hasil yang positif dimana rata-rat pertumbuhan industri Rusia adalah sebesar 8% per tahun. Hal inilah yang kemudian akan memunculkan kaum proletar industri masa depan yang terkonsentrasi pada pusat-pusat industri besar seperti ibu kota Rusia, Eropa, St. Petersburg dan Moskow.
            Dengan membuka diri pada perdaganagn internasional maka perekonomian Rusia sangat terikat dan bergantung pada kondisi perekonomian Eropa. Hal tersebut tentu berdampak buruk bagi kondisi ekonomi dalam negerinya dimana pada tahun 1899-1900 kondisi pasar  keuangan Barat (Eropa) mengalami krisis yang bedampak pada kondisi industri Rusia yang mana pada tahun tersebut sedang mengalami pertumbuhan. Dengan kedaan tersebut membuat rakyat Rusia merasa tidak senang terhadap  kekaisaran yang ada dimana negeri mereka tidak dapat berdiri sendiri membangun perekonomian bangsanya dan lebih memilih untuk menjadi semi koloni Eropa Barat.
            Menjalang akhir abad ke-19 Rusia di terpa krisi Revolusioner dimana kekaisaran tetap pada pendiriannya untuk menjadikan Rusia sebagai negara yang besar dan memiliki kekuatan. Pendirian tersebut tidak dibarengi dengan kondisi perekonomian Rusia yang masih tertinggal dan militer rusia yang tidak lagi sekuat dahulu. Dengan kondisi yang ada tersebut maka tidak heran jika dalam Perang Dunia I Rusia memperoleh kekalahan yang mengakibatkan hancurnya kekaisaran Rusia.
            Revolusi yang pernah terjadi di Rusia sebenarnya terjadi sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1905 dan Revolusi Februasi tahun 1907. Menurut pendapat dari Trotsky revolusi 1905 merupakan “pakaian latihan” bagi revolusi 1917. Hal tersebut dikarenakan proses terjadinya revolusi 1905 mengalami kegagalan atau kemacetan dalam pelaksanaannya. Bulan Juni 1905 Angkatan laut Rusia melncarkan pemberontakan potemkin. Puncak dari pemberontakan tersebut terjadi pada Oktober 1905 dimana terjadi pemogokan buruh kereta api, yang akhirnya berlanjut menjadi sebuah pemogokan umum yang bersifat politik. dengan adanya peristiwa tersebut yang bisa dikatakan mirip dengan revolusi sosial ala Barat maka kaisar Tsar memilih untuk meletakkan jabatannya. Dengan kaisar Tsar yang memilih untuk mengundurkan diri maka kebebasan sipil dan “Legislatif Duma” didasarkan pada hak suara yang disetujui dalam Manifesto Oktober.
            Sementara itu Revolusi 1905 dan pemberontakan buruh dan petani masih berlangsung sampai tahun 1906. Dengan adanya peristiwa tersebut maka hal tersebut semakin memperburuk tensi sosial dan kekalahan tersebut berada pada golongan atas atau bangsawan, selain itu sepanjang tahun 1905 Rusia, Eropa tunduk pada para pemberontak tersebut.
            Perang Dunia I telah mencipatak situasi politik dunia yang tidak menentu. Rusia tidak mungkin dapat menghindari perang tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya “keputusan Rusia untuk melakukan memobilisasi 15 juta orang untuk dijadikan tentara pada tahun 1914-1917, sebagai jawaban atas aksi militer Austria melawan Serbia untuk mengancam teritorial Rusia”.  Pada akhirnya Rusia harus menelan pil pahit dalam peperangan karena kalah dari Jerman yang mengakibatkan berjuta-juta tentaranya mati terbunuh dan luka-luka.  Kekalah tersebut diakibatkan karena sistem transportasi yang kurang memadai. Dengan kekalahan tersebut maka kepercayaan rakyat terhadap tsar dan otokrasinya mulai memudar. Ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan yang ada mengakibatkan terakumulasinya kekuatan masyarakat tersebut pada kota-kota di Rusia dan pecah protes-protes politik kepada rezim otokrasi.
            Pada awal terjadinya perang, semua kelompok artikulasi politik kecuali kaum Bolshveik dan beberapa kaum Menshevik berjanji untuk memberikan dukungan dalam rangka membertahankan “ibu pertiwi”  dengan membentuk komite serta organisasi lokal dan perwakilan yang sudah ada.  Pada Februari 1917 ketika cuaca buruk semakin memperburuk keadaan suplai makan ke kota, kaum buruh dan serdadu dari Petrograd berhasil menjatuhkan otokrasi yang sudah hampir lenyap. jatuhnya otokrasi ke tangan pemberontak mengakibatkan semakin meluasnya pengaruhnya yang meliputi unit-unit militer lainnya, dari buruh pabrik sampai ke pegawai kereta api, dari ibu kota Petrograd ke Moskow dan akhirnya sampai ke kota-kota propinsi.
            Dalam situasi revolusioner Rusia muncul dua proses yang saling tumpang tindih  yang kemudian akan mengakibatkan munculnya produk-produk revolusi itu. Kedua proses tersebut adalah pemberontakan umum yang dilakukan oleh para petani dan perjuangan yang dilakukan oleh para pemimpin politik yang berbasis pada daerah perkotaan untuk membangun suatu basis organisasi negara baru.  Dalam catatan sejarah Revolusi Rusia mencatat bahwa kaum Bolshevik sanggup menghancurkan atau mengatasi fase “februari” Liberal dari revolusi tersebut. Dalam revolusi rusia tidak adanya keinginan untuk menghancurkan rezim liberal yang berkuasa seperti halnya yang terjadi pada revolusi perancis. Revolusi Rusia terjadi karena hancurnya negara Tsar (pengikut Tsar) yang disebabkan oleh kekalahan yang terus menerus dalam perang Dunia I. Tidak adanya nyali yang kuat  Duma dan Zemtvo untuk melakukan revolusi dan pemerintahan daerah setelah bulan Februari yang tidak didasarkan pada partisipasi politik umum. Sejak awal terbentuknya revolusi Rusia sudah dalam kedaan yang kacau balau sehingga memiliki potensi konflik yang mendasar dan tentu saja merusak usaha-usaha stabilitas liberal temporer.
            Antara  Februari sampai dengan Oktober 1917 para pemimpin golongan politik dan dan golongan lain yang duduk dalam pemerintahan berusaha untuk menciptakan kembali stabilitas Revolusi Rusia dengan membentuk liberal demokrat, dengan persetujaun dewan bekas Duma maka dibentuklah pemerintahan darurat sebagai pelaksana dari tugas-tugas pemerintah sampai dengan terbentuknya Dewan Perwakilan yang terpilih yang baru. Bersamaan dengan itu dibeberapa wilayah di Ppetrograd dan seluruh wilayah soviet terbentuk dewan-dewan yang dipilih oleh kelompok buruh industri, tentara dan kelompok petani. Rakyat Soviet menuntut untuk ikut serta dalam mengawasi kinerja dewan pemerintahan darurat . pemimpin pemerintahan darurat diwakili oleh orang-orang yang mempunyai hak istimewa , para tuan tanah, kaum borjuis, dan para profesional.
            Dalam kelanjutannya pemerintahan darurat berubah menjadi pemerintahan koalisi dengan mengikut sertakan Menshevik dan para pemimpin revolusioner dari kalangan sosialis yang bertanggung jawab kepada rakyat Soviet.  Kesulitan yang terjadi selama revolusi Februari terus berlanjut dan justru semakin parah. Sistem jalan kereta api tidak dapat memenuhi kebutuhan yang terus menerus dengan memberikan pelayanan ke medan tempur, mengangkut korban yang terluka, mengangkut bahan makanan ke kota, dan mensuplai bahan-bahan mentah untuk industri. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan adanya aksi pemogokan yang dilakukan oleh buruh kereta api yang menuntut kenaikan upah.
            Perang tak kunjung berhenti sampai pada akhirnya kaum Bolshevik mengambil alih tampuk pemerintahan. Rakyat sudah terlanjur membenci Tsar yang dianggapnya mengorbankan peperangan tidak pada tempatnya. Rakyat kemudian mulai mandiri dengan menyelesaikan persoalan yang dihadapi tanpa campur tangan dari kelas dominan. Di daerah-daerah perkotaan kaum buruh mulai memberontak dengan tuntutan kenaikan upah serta pengurangan jam kerja. Mereka kemudian mulai mengontrol manajemen, meningkatkan pelayanan pabrik agar tetap berjalan dan mengambil alih perusahaan.
            Pemerintahan  darurat akhirnya kehilangan otoritas dan kekuatan untuk menghentikan serangan tehadap kelompok yang sudah diberi hak istimewa dan mencegah evolusi ke arah anarki. Sebagian besar administrasi pemerintahan kekaisaran sebelumnya termasuk polisi didalamnya dihapuskan. Dalam pembentukan badan administrasi yang baru melalui zemstvo dan duma memiliki banyak kendala. Badan-badan perwakilan ini memiliki kekurangan yang berkaitan dengan massa petani dan proletar Rusia yang sebelumnya disingkirkan kemudian kini mereka hidup bebas. Para petani, buruh, dan tentara dapat membangun kembali kolektivitas mereka.
            Sementara itu pemerintahan darurat tidak lagi dapat menyusun kekuatannya dikarenakan tentara yang lemah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dibentuklah tentara yang anggotanya berasal dari kelompok petani yang kemudian dimanfaatkan untuk menindas pemberontakan petani. Lapisan masyarakat yang dominan serta pemerintahan sementara yang tak tergoyahkan oleh pemberontakan-pemberontakan yang terus menerus di lakukan oleh rakyat membuat pemerintah tidak mempunyai keinginan dan tidak mau menarik diri dalam perang. Hal tersebut justru membuat para pemimpin tersebut seharusnya tidak tutup mata dengan segala kejadian yang dialami negara yang mengakibatkan melemahnya basis poitiknya akibat adanya  konflik sosial yang berkembang di masyarakat.
            Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan peran serta partai politik dalam memobilisasi rakyat banyak, sejalan dengan ketidakpuasan mereka terhadapap pemerintah darurat. Tertib nasional baru harus dibangun secara cepat terutama mulai dari kota-kota besar sampai dengan kota-kota kecil. Di sektor perkotaan basis pengorganisasian yang paling mudah dilakukan pada kelas pekerja industri.
            Di tengah kedaan Rusia yang tidak menentu tersebut hanya partai Bolsheviklah yang mampu mengembangkan efektifitas taktikal dan mampu memperoleh dukungan rakyat yang berada di letak-letak strategis. Partai Bolshevik merupakan partai yang kecil dan ekstrimdiantar partai sosialis lainnya. Bolshevik berada pada pihak oposisi pemerintahan darurat. Melalui propaganda kritis yang diarahkan pada buruh industri dan pada pasukan garnisum yang diwujudkan bersama rakyat melalui pemberontakan dengan menuntut atas perdamaian, tanah, makan, wewenang buruh, dan seluruh kekuasaan untuk rakyat Soviet. Meskipun partai Bolshevik jauh dari kesatuan doktrinal monolit tahun 1917, namun partai ini secara mempunyai koherensi organisasi daripada partai sosialis lainnya.
            Revolusi “Oktober” Rusia merupakan suatu momentum dimana kekuatan pemerintahan darurat yang mulai melemah akibat pemberontakan yang dilakukan oleh rakyatnya. Dengan begitu pemerintah tersebut kemudian menyetujui tawaran partai Bolshevik yang meminta bagian kedaulatan negara. di ibu kota Bolshevik mengorganisir suatu coup militer yang dilakukan melalui garnisun petrograd yang berada dibawah kewenangan Komite Revolusioner Militer Soviet. Kudeta ini mengatas namakan sebagai perwakilan Soviet  dari buruh, tentara, dan petani. Untuk mempertahankan negaranya tersebut Bolshevik dituntut untuk bisa membangun organisasi-organisasi negara, mengelola sumber daya yang tersedia yakni loyalitas partai dukungan masyarakat perkotaan dan sisa-sisa keahlian dari zaman rezim sebelumnya. Pemerintah Darurat dan kaum sosialis moderat telah mengupayakan agar supaya perang tetap berlangsung, dengan menunda pengakuan atas tanah-tanah hasil rampasan yang dilakukan oleh petani.
            Dalam menghadapi pihak oposisi Bolshevik melakukannya sendiri tanpa bantuan dari partai manapun. Meski pertikaian kadang terjadi dalam tubuh Bolshevik, namun kaum Bolshevik dibujuk Lenin agar tidak menyerahkan hasil coup-nya begitu saja. Bolshevik harus menampilkan dirinya sebagai pemimpin dan wakil proletariat dan berupaya untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaannya. Dalam melaksanakan misi tersebut maka mereka harus berhati-hati dengan siasat politik yang hebat untuk menyusun kekuasaan dari para pengikutnya. Setelah berkuasa, Bolshevik menyetujui penyitaan petani atas tanah-tanah milik kaum proletariat, mengumumkan keinginan mereka untuk merundingkan penyelesaian perang, memerintahkan pemilihan perwira oleh para tamtama dan menghapus perbedaan kepangkatan dalam angkatan bersenjata.
            Polisi politik, Cheka setelah Revolusi Oktober melakukan pengorganisasian menjadi suatu perwakilan administratif yang otonom. Mereka mempunyai hak untuk mengadakan penyelidikan, penahanan, penembakan, kemudaian membuat laporan kepada Dewan Komisaris Rakyat dan Komite Eksekutif Pusat Soviet. Dalam menjalankan tugas tersebut kadangkala unit-unit Cheka melakukan perampasan terhadap pasokan di desa-desa yang mana pasokan tersebut juga dibutuhkan oleh tentara merah. Tentara merah juga dapat digunakan sebagai tenaga komite-komite buruh jika Cheka membutuhkannya dengan jalan melalui paksaan. Tentara merah Rusia dibentuk dari orang-orang yang merasa tidak puas terhadap pemerintahan yang ada dimana terus melakukan peperangan, tidak lagi bersedia mematuhi seruan-seruan nasionalis. Tentara merah dipimpin oleh Leon Trotsky sebagai Komisaris Militer, dibantu oleh Lenin dan Kimite Sentral partai dengan membentuk tentara merah yang terpusat, profesional dan disiplin.
            Tahun 1918-1921 tentara merah berhasil menaklukkan ancaman-ancaman militer kontra revolusioner. Mereka bertemput menurut dasar-dasar militer konvensional yang mampu memanfaatkan keuntungan-keuntungan strategis dari garis-garis perbatasan daerah pedalaman. Disamping itu mereka juga berhasil memanfaatkan rasa tidak sengang dari rakyat Rusia terhadap Tentara  Putih. Tentara merah berkembang menjadi sebuah basis dalam perkembangan partai komunis Bolshevik yang terpusat.
            Pada tahun yang sama kontrol negara terhadap ekonomi semakin menguat dimana kaum Bolshevik mempunyai cita-cita untuk menjadikan negara sebagai komunis denagn sistem “komunisme perang” yang berarti negara berperan sebagai prosedur dan distributor tunggal. Dengan begitu buruh diwajibkan untuk hidup berada dibawah bimbingan dan aturan dari negara, pembayaran setimpal dengan kebutuhan. 












DAFTAR PUSTAKA
1.      Skocpol, Theda.1991.Negara dan Revolusi Sosial (Suatu Analisis Komparatif tentang Perancis, Rusia dan Cina).Jakarta: Erlangga.
2.      Brinton, Crane.1962.Anatomi Revolusi.New York: Vintage Books.
3.      Arif, Saeful dan Eko Prasetyo.2004.Lenin Revolusi Oktober 1917. Yogyakarta: Resist Book.
                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar