Rabu, 21 November 2018

Perdagangan Maritim abad ke-16


Perdagangan Maritim
di Makassar abad ke-16 sampai abad ke-18
A.    Perdagangan Makassar
perdagangan Makassar sebelum abad 1800 dibagi menjadi dua periode. Periode pertama, merupakan awal pertumbuhan pergadagangan maritim di Makassar hingga tahun 1667. Pada masa ini Makassar berada di bawah kekuasaan dua kerajaan besar yaitu kerajaan Gowa dan Tallo. Dalam melakukan kegiatan perdagangan maritim ini Makassar menerapkan kegiatan perdagangan politik pintu terbuka, yang pada saat itu sistem politik tersebut secara umum sudah berlaku di kawasan Asia Tenggara.  Dengan adanya kondisi tersebut Makassar pada saat ini telah menganut prinsip mare liberum, dimana dalam prinsip tersebut menganut paham bahwa laut merupakan milik bersama bukan untuk kelompok atau orang tertentu, sehingga semua orang dapat dengan bebas memanfaatkan.
Kedua, periode kekuasaan dibawah VOC yang berlangsung sejak tahun 1667-1799. Pada masa ini fungsi Malaka berubah dari yang dulunya merupakan sebuah derah yang digunakan sebagai tempat perdagangan maritim berubah menjadi pos pengaman untuk mencegah pedagang lain memasuki Maluku. Pulau Makassar yang berbentuk menyerupai huruf “K”, membuat Makassar memiliki empat jazirah dan tiga teluk. Antara jazirah tenggara terdapat Teluk Bone; antara jazirah tenggara dan jazirah baratlaut terdapat teluk Tomini; dan antara jazirah barat laut dan jazirah utara terdapat Teluk Tomini atau Teluk Gorontalo. Wilayah permukiman kelompok etnis Makassar , disebut dengan Tanah Makassar, wilayah tersebut meliputi Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Maros, Kotamadya, Makassar, Gowa, Bantaeng, dan Bulukumba.
Di Makassar terdapat pelabuhan Makassar, yang digunakan sebagai bandar niaga Gowa, yang merupakan pengembangan dari dua pelabuhan kerajaan bersaudara, yakni pelabuhan Tallo (kerajaan Tallo), dan pelabuhan Sombaopu (kerajaan Gowa). tahun 1528 kedua kerajaan ini kemudian membentuk suatu pemerintahan dan kemudian keduanya memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Sulawesi Selatan. Dalam hal ini kedudukan Raja dipegang oleh kerajaan Gowa sedangkan raja dari kerajaan Tallo berkedudukan sebagai Mangkubumi. Dalam perkembangannya kedua pelabuhan kerajaan tersebut yakni pelabuhan Sombaopu dan pelabuhan Tallo tidak terdapat batas yang jelas [1]antara keduanya sehingga mengakibatkan masyarakatdan para pedagang asing yang berkunjung ke wilayah Sulawesu menyebut kedua pelabuhan tersebut dengan sebutan pelabuhan Makassar.
Sebagai wilayah yang berada di daerah Hindia Belanda, Makassar memiliki dua iklim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Bergantinya iklim dipengaruhi oleh adanya angin muson. Musim hujan yang umumnya terjadi setiap bulan Oktober sampai dengan bulan April diakibatkan oleh adanya angin muson barat yang berhembus dari dataran Australia menuju wilayah Hindia Belanda/Nusantara. Angin muson barat memiliki sifat basah sehingga mengakibatkan hujan bagi daerah-daerah yang dilewatinya. Musim kemarau terjadi pada bulan Mei samapi dengan bulan September. Musim kemarau terjadi jika berhembusnya angin muson Timur yang bersifat kering.
Adanya angin muson tidak hanya berdampak pada berubahnya musim yang ada di nusantara tetapi hal tersebut juga berdampak pada pelayaran dan perdagangan maritim. Para pedagang pedangang memanfaatkan adanya angin muson tersebut untuk kegiatan pelayaran. Diantara pedagang tersebut ada yang berasal dari barat, seperti Malaka, Riau, Johor, dan Batavia memanfaatkan adanya angin muson Timur untuk berdagang menuju kota Makassar dan kepulauan Maluku yang terkenal akan rempah-rempahnya.
Dalam melakukan pelayaran menuju Makassar dan Maluku terdapat dua jalur yang dapat digunakan oleh para pedagang. Pertama, dengan menyusur ke selatan kemudian belok kiri melayari pesisir selatan hingga pulau Buton dan selanjutnya berlayar ke Maluku. jalur kedua, menyusuri selat Makassar menuju ke utara, kemudian berlayar ke arah timur memasuki pelabuhan Menado dan terus ke pulau Ternate.  
Selain angin muson barat dan timur yang digunakan oleh masyarakat nusantara untuk berdagang, terdapat pula angin muson utara dan muson tenggara yang dimanfaatkan oleh pedagang dari Cina, Spanyol yang berada di pulau Luzon (Filipina). Dengan adanya angin muson tersebut terciptalah jalur pelayaran Utara-Selatan (Amoy dan Kanton-Makassar-Indonesia Timur). Siklus muson yang ada di wilayah Sulawesi menjadikan Makassar ebagai pusat jalur perdagangan, baik jalur perdagangan barat (Eropa, Gujarat, India Selatan, Semenenjung Malaka, Sumatra, Jawa dan Kalimanta-Makassar-Maluku serta Papua) maupun jalur pelayaran utara (Cina, Filipina, dan Jepang-Makassar-Nusa Tenggara-Australia).[2]Ketika pelabuhan-pelabuhan yang ada di Jawa dan Maluku dikuasai oleh VOC pada permuklaan abad ke-17, hal tersebut membuat para pedagang harus beralih untuk mencari tempat singgah yang semula mereka singgah di pelabuhan Jawa untuk kemudian melanjutkan perjalannanyan ke Nusa Tenggara dan Maluku. Para pedagang kemudian menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang berada di pesisir Sulawesi sebagai tempat singgah dan pemasaran yang baru. Pemilihan pesisir Sulawesi sebagai tempat singgah tentu berdasarkan beberapa pertimbangan seperti letak yang strategis jika hendak akan berlayar ke Maluku, jaringan perdagangan laut yang semakin ramai dan luas. Berdasarkan catatan Tome Pires, pelabuhan yang ada di daerah Makassar dalam perkembangannya kemudian menjadi pusat perdagangan pada akhir abad ke-15.
Dari penjelasan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berkembangnya pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi sebagai pusat perniagaan di sebabkan oleh beberapa faktor. pertama, letak yang strategis dimana sulawesi berada di tengah jalur perdagangan Dunia. Kedua, adanya intervensi dari Eropa yang membuat para pedagang harus beralih kegiatan perniagaannya ke tempat lain seperti Makassar. Ketiga, pedagang dan pelaut setempat melakukan pelayaran niaga ke daerah-daerah penghasil dan bandar niaga lain.6
Berdasarkan beberapa kajian yang membahas wilayah Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa perdagangan di Siang telah berkembang pesat jauh sebelum adanya kerajaan Gowa dan Tallo. Menurut Antonio de Paiva, yang mengunjungi Siang pada 1542, orang Melayu telah menetap di bandar niaga sejak sekitar tahun 1490.7
            Makassar menjalin hubungan dagang dengan portugis di Malaka pada 1559. Pada awal abad ke-16 Pires mencatat, pedagang dari kepulauan Makassar, datang ke Malaka dengan membawa beras, emas dan rempah-rempah. Selain itu juga Makassar menjalin hubungan dagang dengan penghasil komoditas seperti Banten, Surabaya, Sumba, Bima, Endeh dan daerah lainnya. dalam melakukan perdagangan kerajaan Makassar menjalankan politik pintu terbuka. Pada akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-16 Makassar telah menjadi pusat perdagangan Spanyol, Cina, Denmark, Inggris dsb. Untuk memfasilitasi para pedagang dari luar tersebut pemerintah mengizinkan para pedagang untuk mendirikan perwakilan dagang mereka di derah tersebut. Selain itu mereka diizinkan juga untuk mendirikan tempat ibadah seperti gereja dan masjid.[3]

 Adanya keterbukaan pada kerajaan Makassar terhadap para pedagang-pedagang asing telah memperlancar hubungan dagang dengan pusat perdagangan lain.Di Manila terdapat perwakilan dagang dari kerajaan Makassar atas izin dari pemerintah Spanyol yang berkuasa di Filipina. Selain itu perwakilan dagang Makassar juga terdapat di Makao atas izin dari Portugis. Pemberian izin untuk mendirikan perwakilan dagang di Manila menurut Speelman hal itu didasarai karena adanya larangan bagi pedagang Melayu dan Jawa untuk mengunjungi Manila dengan mengatasnamakan Makassar, pemerintah Spanyol hanya menerima pedagang yang berasal dari pedagang Makassar karena adanya kedekatan hubungan dagang, dan dapat memenuhi permintaan rempah-rempah dan komoditas lain seperti beras dan budak.
            Pemerintah Makassar berusaha untuk memperluas kekuasaannya. Hal itu dilakukan pada tahun 1616 dengan sasaran utamanya daerah yang terletak di jalur pelayaran Maluku, yaitu pulau Sumbawa. Untuk memperkuat kekuasaan kerajaan, Raja Makassar mengadakan hubungan dagang dan politik dengan penguasa daerah penghasil rempah-rempah. Hal ini dibuktikan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Ternate. Usaha Makassar untuk memperluas kekuasaannya mendapatkan bantuan dari para pedagang asing yang berniaga di Makassar. Pembangunan benteng, pembuatan perahu galei sebagai wujud nyata dari bantuan yang diberikan oleh bangsa Portugis.[4]
             Lokasi Makassar yang berada pada jalur pelayaran Internasional, merupakan sebuah keuntungan. Pelanbuhan Makassar dapat menarik sebagai tempat transit bagi pelayaran antara Maluku dan Malaka, pada pihak lain kemunduran pelabuhan-pelabauhan Jawa mendorong berkembangnaya pelabuahan Makassar secara pesat dalam abad ke-17. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis membuat pedagang Melayu mengalihkan pelayaran perdagangannya antara lain ke Makassar. Makassar menjadi pusat pemasaran hasil dari Wilayah Indonesia Timur, serta tempat pengambilan bahan makanan. Pertengahan abad ke-17 ekspor ke Malaka berupa rempah-rempah, bahan makanan, bahan wangi-wangian, penyu dan beras. Pala dan cengkeh didatangkan dari Banda oleh pedagang Jawa, Melayu, dan orang Banda. Dengan adanya perdagangan tersebut Makassar turut serta berperan aktif dalam perdagangan tersebut. Deongan perkembangan pelabuhan tersebut, mengalirlah barang-barang ke Makassar, seperti sutra dan pecah-belah Cina dengan kapal Siam dan bahan pakaian dengan kapal Portugis. [5]
Kedudukan politik dan ekonomi kerajaan Makassar yang kuat merupakan ancaman yang dihadapi oleh VOC yang menjalankan kebijakan monopoli, pertentangan, dan permusauhan dengan mereka. Hal tersebut berlangsung sejak tahun 1615, dan mencapai puncaknya ketika terjadi perang Makassar pada Desember 1666 sampai dengan bulan November 1667. Dalam perang tersebut dimenangkan oleh VOC dan memaksa Makassar untuk mentandatangani perjanjian Bongaya. Dengan adanya perjanjian bongaya, hal tersebut bukan merupakan suatu halangan bagi Makassar untuk menjalankan perdagangan bebas. Hal itu terwujud dari adanya perlawanan tahun 1668. Dalam perlawanan tersebut akhirnya Makassar mengalami kekalahan utuk keduakalinya dan memaksa mereka untuk menandatangani ulang perjanjian Bongaya pada 28 Juli 1669 di Binanga. Speelman, sehubungan dengan adanya perlawanan tersebut, ia berusaha mematikan perdagangan kerajaan Makassar. [6]
Dia menghapuskan peran kerajaan sebagai pengawas bandar niaga, sebagaimana yang tertuang dalam perjanjian Bongaya dan memperkecil wilayah kerajaan hingga tidak memiliki batas wilayah perairan yang dapat dimanfaatkan sebagai pelabuhan. Speelman tampil dengan program kerjanya berupa menjadikan wilayah ujung pandang dan derah sekitarnya sebagai kota baru yang terdiri dari, benteng pertahanan, kota dagang, dan kampung. Nama benteng ujung pandang  diganti dengan nama “Fort Rotterdam” dan dijadikan markas tentara dan kota perwakilan. Wilayah sebelah utara benteng dijadikan kota dagang yang dikenal dengan nama Vlaardingen. Perubahan wajah dan kedudukan Makassar berkaitan erat dengan usaha Belanda untuk menguasai kota tersebut dalam rangka menjamin monopoli di Maluku.
B. Faktor –faktor Makassar Sebagai Kota Niaga
Berkembangnya Makassar sebagai kota, bandar niaga dan pangkalan pertahanan kerajaan Makassar, pada abad ke XVI dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:
1.      Faktor dari dalam
Faktor dari dalam ini berkaitan dengan tumbuh dan berkembangnya dua kerajaan terbesar di Makassar yaitu kerajaan Gowa dan Tallo. Pertumbuhan Kedua kerajaan tersebut didorong oleh adanya ancaman dari arah arah daratan Sulawesi Selatan dengan perkembangannya kerajaan-kerajaan Bugis di pedalaman, seperti Sopeng, Wajo, dan Bone yang mulai mempunyai pengaruh di daratan dan sepanjang pesisir pantai sebelah utara teluk Bone. Dengan adanya persaingan tersebut hal itu membuat kerajaan-kerajaan untuk mengadakan tempat-tempat konsolidasi kekuatan dengan membangun benteng-benteng pertahanan dan pangkalan militer untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
2.      Faktor dari luar
Faktor luar yang mempengaruhi berkembangnya Makassar sebagai kota niaga adalah dengan datangnya orang-orang Eropa ke nusantara untuk berniaga, yang membuat situasi perdagangan di Makassar semakin ramai. Ditemukannya jalan menuju pulau rempah-rempah dan timbulnya persaingan-persaingan antar bangsa-bangsa yang melakukan perniagaan. Adanya kedatangan bangsa eropa ke nusantara untuk memperoleh rempah-rempah yang akan dijual ke pasaran eropa dengan harga [7]
yang jauh lebih tinggi. Dalam perdagangan tersebut maka bangsa eropa tersebut  memerlukan pangkalan-pangkalan niaga yang dapat dijadikan tempat dan mata rantai dalam perjalanan pulang dan pergi ke negara asal. Dengan ditaklukannya Malaka oleh Portugis, hal itu membuat perjalanan niaga bangsa Portugis ke pulau rempah-rempah lebih lancar, tanpa adanya gangguan dari kerajaan-kerajaan nusantara.
Kerajaan Makassar yang telah berkembang dan memiliki armada niaga dengan perahu-perahu yang sudah dilengkapi persenjataan. Portugis bersedia untuk menjalin persahabatan dengan kerajaan Makassar, karena hal tersebut menurutnya dapat mendatangkan keuntungan. Bangsa Portugis disamping melakukan perdagangan dengan kerajaan Makassar, mereka juga menyebarkan agama Nasrani. Jalur perdagangan ke Maluku telah dikuasai oleh Portugis dan Makassar. Dengan penguasaan tersebut pedagang-pedagang yang berasal dari Aceh, Benteng, demak, Brunai bersepakat untuk memboikot dan menghindari pelabuhan-pelabuhan yang telah dikuasai oleh Portugis.
Faktor terpenting dalam perkembangan Makassar sebagai bandar Niaga adalah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Hal tersebut telah menyebabkan berpindahnya pusat penyebaran Islam ke bagian Timur Nusantara. Diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan Gowa-Tallo pada permulaan abad XVII, membuat Makassar berkembang menjadi pusat penyiaran agama islam. Sementara itu otoritas Portugis telah merosot di beberapa tempat, bersamaan dengan itu munculnya kekuatan baru dalam perniagaan laut di bagian nusantara yaitu, Belanda dengan VOCnya.
Kekuasaan Portugis di Malaka mulai terancam pada akhir abad ke XVI. Hal tersebut dikarenakan munculnya negara-negara tentangganya yang lebih kuat seperti: Inggris, Belanda, dan Spanyol. Dengan kondisi tersebut pemerintah Portugis tidak mampu untuk memberikan bantuan persenjataan kepada perwakilan pemerintahan Portugis yang adal di wilayah Asia untuk dapat mempertahankan wilayah jajahannya. Dengan kondisi yang serba sulit tersebut akhirnya pada tahun 1580 Portugis  ditaklukan Spanyol yang dipimpin oleh raja Philips II. Sementara itu tahun 1641 Malaka jatuh ketangan Belanda, setelah sebelumnya Belanda berhasil merebut Maluku. Dengan adanya situasi tersebut membuat Makassar harus memperkokoh kekuatannya dengan jalan melakukan konsolidasi ke dalam dan menakuklukkan kerajaan-kerajaan Bugis. Upaya tersebut pada akhirnya mengalami kegagalan.[8]
Pada abad ke-17 sulawesi Selatan merupakan sebuah wilayah pengekspor pakaian terkemuka di Kepulauan. Proses itu diperkuat dengan berhasilnya Makassar menjadikan dirinya sebagai titik pusat bagi para pedagang rempah-rempah yang ingin berlayar ke Maluku dan oleh penaklukannya atas pusat-pusat ekspor seperti Sumbawa (1617) serta Selayar. Maluku menjadi pusat pasar yang penting pada tahap ekspansi awal ini. dengan begitu maka Makassar harus mendapatkan pujian atas semangat pembaharuan yang ,membuat Makassar terkenal pada abad ke-17 dan Bugis pada abad ke-18, karena pakaian mereka mencapai reputasi istimewa akan tenunannya yang halus dan kuat serta warna-warnanya yang cerah terutama pola kotak-kotak yang disenangi oleh kaum muslimin. Penanaman dan penenunan kapas yang perpusat di pulau selayar dan distrik Bulukumba serta Bira di Sulawesi Selatan. Keduanya terletak secara strategis dalam perjalanan ke Maluku, namun terlalu kering dan gersang untuk penanaman padi. Oleh karena itu kaum, pria dikedua daerah tersebut mengkhususkan diri pada pembuatan kapal, sedangkan kaum wanitanya menenun. Menjelang tahun 1660-an, pakaian selayar diperdagangkan melalui Makassar ke pelabuhan-pelabuhan di Borneo, Sunda Kecil, dan Manila. Dengan jatuhnya Makassar ke tangan Belanda pada tahun 1669, para pedagang Bugis mulai mendominasi perdagangan kapas dari Makassar, dan membawanya ke seluruh pulau dari dunia Melayu. [9]

C.    Perdagangan Makassar di Bawah kekuasaan VOC
Setelah VOC berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, dengan demikian aktivitas perdagangan yang terjadi di derah Maluku dan sekitarnya harus berdasarkan apada kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah VOC. Namun demikian orang-orang Makassar dan Ternate masih tetap melukan perdagangan rempah-rempah dengan melanggar monopoli VOC. Pada tahun 1643, pasukan VOC berhasil mengusir tentara Makassar dari kubu-kubu pertahanan mereka di Hitu, tetapi hal ini tidak mampu untuk merebut benteng Kakiali.
Dengan adanya persekutuan antara Makassar dengan Kakiali yang merupakan pimpinan kelompok yang anti VOC, hal itu membuat VOC marah. Kesultanan Gowa yang berada di Sulawesi Selatan yang dalam menjalankan pemerintahannnya mendapatkan dukungan dari Makassar untuk menentang monopoli VOC, mendapatkan perhatian yang serius dari VOC dibandingkan saat mereka menghadapai Maluku. Kekuasaan Gowa yang begitu luas, dan memberikan hak otonomi bagi vassalnya, namun hak tersebut masih saja menimbulkan rasa kebencian diantara kerajaan vassalnya tersebut.pada tahun 1660 terjadi pertempuran antara Gowa dan kerajaan Bugis, Bone. Pada tahun 1660 Arung Palakka ikut serta dalam pemberontakan yang dilakukan oleh kerajaan Bugis dan Bone, tetapi berhasil ditumpas oleh pihak Makassar. Konflik antara VOC dengan Gowa berlangsung secara terus-menerus sejak tahun 1615. Arung Palakka yang sejatinya terus melakukan pemberontakan terhadap Makassar mendapatkan dukungan dari VOC. Tetapi ia mengalami kegagalan dan di asingkan.
Pada Desember 1666 armada VOC tiba di Makassar. Sekembalinya Arung Plakka dari pengasingan mendorong orang-orang Bugis di Bone dan Soppeng untuk melakukan pemberontakan kembali melawan kekuasaan Makassar. Spellman berhasil menghancurkan armada Makassar didekat Butung, sementara itu Arung Palakka melakukan serangan melalui daratan. VOC dan sekutu-sekutu Bugisnya keluar sebagai pemenang dalam pertempuran tersebut. Arung Palakka secara resmi menjadi raja Bone tahun 1672. Pada tahun 1670-an VOC berhasil mengkonsolidasi kedudukannya di Indonesia bagian Timur. Tanaman rempah-rempah yang tidak diawasi VOC ditebangi, tidak ada lagi penduduk yang tinggal di Hoamoal. [10]
sebagian besar orang Bugis dan Makassar meninggalkan kampung halaman mereka, banyak yang tewas dala pemberontakan yang berasal dari orang Eropa, sekutu-sekutu, dan lawan-lawan yang jumlahnya tidak sedikit. Hal itu semua terjadi karena keinginan dari VOC untuk melakukan monopoli perdagangan di wilayah Indonesia Timur. Akan tetapi, setelah VOC menguasai rempah-rempah, semakin lama rempah-rempah semakin kurang berarti bagi keuntungan VOC. Hal itu disebabkan karena beberapa faktor diantaranya; pertama, tidak mudah menggantungkan keuntungan pada rempah-rempah karena biasanya pihak Belanda kesulitandalam meramalkan penawaran, permintaan, .dan harga secara cepat. Kedua, arti penting rempah-rempah relatif berkurang dalam perdagangan VOC. Lada menjadi barang komoditas terpenting dalam abad XVII; pada tahun 1700 tekstil merupakan komoditas perdagangan yang paling penting, serta kopi dan teh menjadi komodittas yang paling dicari dalam perdagangan eropa pada abad XVIII. [11]
pada awal abad ke-17 persaingan terus terjadi antara Portugis dengan VOC untuk memperebutkan Malaka. Namun, setelah Malaka jatuh ketangan VOC tahun 1646 para pedagang islam dari India dan Timur tengah berpindah ke Banten dan Makassar. Selain itu juga para pedagang Cina mulai juga berdagang pada kedua pulau itu. Dengan perpindahan pusat perdagangan dari yang sebelumnya berada di Malaka kemudian berpindah ke Banten dan Makassar, hal tersebut membuat kedua wilayah tersebut muncul sebagai emporium utama Asia Tenggara.
Oleh karena itu untuk mengkonsolidasi monopolinya di Maluku, VOC harus melumpuhkan peranan kedua pelabuhan tersebut. Makassar pada waktu itu merupakan sumber kebocoran monopoli VOC di Maluku. Para pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark, Cina, Jawa dan Melayu menjadikan kota pelabuhan itu sebagai pelabuhan utama untuk mendapatkan pala dan cengkeh. Para pedagang asing tidak berani untuk memasuki wilayah Maluku dengan kapal-kapal layarnya yang besar sehingga mudah untuk dicegah oleh armada laut VOC yang berada di perairan Maluku. Akan tetapi para pedagang asing itu membiayai para Bugis dan Makassar yang menggunakan perahu-perahu kecil untuk memasuki wilayah monopoli VOC. [12]
Para pedagang Bugis dan Makassar memiliki hubungan dengan Hoamoal sampai pertengahan abad ke-17 dikuasai oleh salah satu anggota keluarga inti (fala Raha) di Ternate yaitu keluarga Tomagola. Dalam menghadapi VOC tomagola tidak segan-segan untuk meminta bantuan dari        Makassar. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Arung Palakka yang merupakan raja Bone (1634-1696), memiliki hubungan yang tidak baik dengan Sultan Hasanuddin dari Makassar (1653-1669). Sehingga pada tahun 1660 Arung Palaka mengangkat senjata untuk melawan Hasanudin dengan bantuan dari VOC. Permusuhan itu berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian Bongaya.
Penandatangan perjanjian Bongaya oleh sultan Hasanuddin, menimbulkan perubahan revolusioner dalam dalam organusasi politik di bagian timur kepulauan Indonesia. Kompeni mendapatkan monopoli dagang di pelabuhan Makassar dan semua orang Eropa non-Belanda harus meninggalkan kota Makassar. Sementara itu koin Belanda dinyatakan punya nilai legal di negara itu. Semua wilayah yang dikuasai Makassar berpindah alih menjadi daerah koloni VOC, meskipun dengan alasan praktis daerah tersebut diletakkan dibawah kekuasaan raja-raja setempat. Pantai-pantai utara dan timur Sulawesi diserahkan kepada Ternate, yang berada dibawah pengawasan Belanda. Pulau Sumbawa, yang dibebaskan dari Makassar terpakasa harus menerima kompeni sebagai penguasa atasan. [13]





Kesimpulan
Makassar merupakan wilayah pyang penting dalam sejarah perkembangan pelayaran dan perdagangan nusantara pada abad ke-16 sampai abad ke-18. Pedagang yang berasal dari Barat dan dari Timur yang singgah ke pelabuhan Makassar membuat berkembangnya perdagangan maritim di Makassar semakin pesat. Letak Makassar yang strategis, merupakan salah satu faktor yang membuat Makassar dijadikan sebagai pelabuhan transit bagi pedagang asing. Selain itu kedekatan letak dengan Maluku merupakan berkah tersendiri bagi Makassar, dimana Maluku merupakan pusat rempah-rempah yang banyak dicari dalam pasaran Internasional.
Dominasi perdagangan maritim Makassar kian menurun akibat adanya campur tangan  politik dan monopoli yang dilakukan oleh VOC. Setelah berhasil menanamkan pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan dan menjalin kerjasama dengan raja-raja setempat membuat kedudukan VOC semakin kuat di Makassar. Kerajaan Makassar yang selama ini berkuasa atas tanah Sulawesi tidak lagi dapat membendung kekuatan tersebut. Dengan kekalahan yang dialami kerajaan Makassar, maka otomatis VOC memegang kendai atas perdagangan maritim di Makassar.


Daftar Pustaka
1.      Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia).
2.      Kartodirjo, Sartono.2014.Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imporium.Yogyakarta:Penerbit Ombak.
3.      Gunawan Restu, dan Abdul Rasyid.2000.Makassar Sebagai Kota Maritim.Jakarta:CV.Putra Prima.
4.      Reid, Anthony.2011.Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. hal 107-108.
5.      Poespeonegoro, Marwati  Djoened dan Nugroho Notosusanto.2010.Sejarah Nasional Indonesia jilid IV.Jakarta:Balai Pustaka.
6.      Vlekke, Bernard H.M.2016.Nusantara:Sejarah Indonesia.Jakarta:KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Hal 158-159.
7.       M.C.Rifleks.1994.Sejarah Indonesia Modern.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press. 


[1] Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia). Hal.12-16.
[2] Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia). Hal.17-19.
[3] Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia). Hal.22-28.
[4] Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia). Hal.28-30.

[5] Kartodirjo, Sartono.2014.Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imporium.Yogyakarta:Penerbit Ombak. Hal 102.
[6]  Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia). Hal.30-36.
[7]  Gunawan Restu, dan Abdul Rasyid.2000.Makassar Sebagai Kota Maritim.Jakarta:CV.Putra Prima. Hal.19.
[8] Gunawan Restu, dan Abdul Rasyid.2000.Makassar Sebagai Kota Maritim.Jakarta:CV.Putra Prima. Hal.19.

[9] Reid, Anthony.2011.Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. hal 107-108.
[10] M.C.Rifleks.1994.Sejarah Indonesia Modern.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press. Hal 93-99.
[11] M.C.Rifleks.1994.Sejarah Indonesia Modern.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press. Hal 99-100.


[12] Poespeonegoro, Marwati  Djoened dan Nugroho Notosusanto.2010.Sejarah Nasional Indonesia jilid IV.Jakarta:Balai Pustaka. Hal 41-46.
[13] Vlekke, Bernard H.M.2016.Nusantara:Sejarah Indonesia.Jakarta:KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Hal 158-159.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar