Perdagangan Maritim
di Makassar abad ke-16 sampai abad
ke-18
A. Perdagangan Makassar
perdagangan
Makassar sebelum abad 1800 dibagi menjadi dua periode. Periode pertama, merupakan awal pertumbuhan
pergadagangan maritim di Makassar hingga tahun 1667. Pada masa ini Makassar
berada di bawah kekuasaan dua kerajaan besar yaitu kerajaan Gowa dan Tallo.
Dalam melakukan kegiatan perdagangan maritim ini Makassar menerapkan kegiatan
perdagangan politik pintu terbuka, yang pada saat itu sistem politik tersebut
secara umum sudah berlaku di kawasan Asia Tenggara. Dengan adanya kondisi tersebut Makassar pada
saat ini telah menganut prinsip mare
liberum, dimana dalam prinsip tersebut menganut paham bahwa laut merupakan
milik bersama bukan untuk kelompok atau orang tertentu, sehingga semua orang
dapat dengan bebas memanfaatkan.
Kedua,
periode kekuasaan dibawah VOC yang berlangsung sejak tahun 1667-1799. Pada masa
ini fungsi Malaka berubah dari yang dulunya merupakan sebuah derah yang
digunakan sebagai tempat perdagangan maritim berubah menjadi pos pengaman untuk
mencegah pedagang lain memasuki Maluku. Pulau Makassar yang berbentuk
menyerupai huruf “K”, membuat Makassar memiliki empat jazirah dan tiga teluk.
Antara jazirah tenggara terdapat Teluk Bone; antara jazirah tenggara dan
jazirah baratlaut terdapat teluk Tomini; dan antara jazirah barat laut dan
jazirah utara terdapat Teluk Tomini atau Teluk Gorontalo. Wilayah permukiman
kelompok etnis Makassar , disebut dengan Tanah Makassar, wilayah tersebut
meliputi Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Maros, Kotamadya, Makassar, Gowa,
Bantaeng, dan Bulukumba.
Di
Makassar terdapat pelabuhan Makassar, yang digunakan sebagai bandar niaga Gowa,
yang merupakan pengembangan dari dua pelabuhan kerajaan bersaudara, yakni
pelabuhan Tallo (kerajaan Tallo), dan pelabuhan Sombaopu (kerajaan Gowa). tahun
1528 kedua kerajaan ini kemudian membentuk suatu pemerintahan dan kemudian
keduanya memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Sulawesi Selatan.
Dalam hal ini kedudukan Raja dipegang oleh kerajaan Gowa sedangkan raja dari
kerajaan Tallo berkedudukan sebagai Mangkubumi. Dalam perkembangannya kedua
pelabuhan kerajaan tersebut yakni pelabuhan Sombaopu dan pelabuhan Tallo tidak
terdapat batas yang jelas [1]antara
keduanya sehingga mengakibatkan masyarakatdan para pedagang asing yang
berkunjung ke wilayah Sulawesu menyebut kedua pelabuhan tersebut dengan sebutan
pelabuhan Makassar.
Sebagai
wilayah yang berada di daerah Hindia Belanda, Makassar memiliki dua iklim yaitu
musim kemarau dan musim hujan. Bergantinya iklim dipengaruhi oleh adanya angin
muson. Musim hujan yang umumnya terjadi setiap bulan Oktober sampai dengan
bulan April diakibatkan oleh adanya angin muson barat yang berhembus dari
dataran Australia menuju wilayah Hindia Belanda/Nusantara. Angin muson barat
memiliki sifat basah sehingga mengakibatkan hujan bagi daerah-daerah yang
dilewatinya. Musim kemarau terjadi pada bulan Mei samapi dengan bulan September.
Musim kemarau terjadi jika berhembusnya angin muson Timur yang bersifat kering.
Adanya
angin muson tidak hanya berdampak pada berubahnya musim yang ada di nusantara
tetapi hal tersebut juga berdampak pada pelayaran dan perdagangan maritim. Para
pedagang pedangang memanfaatkan adanya angin muson tersebut untuk kegiatan
pelayaran. Diantara pedagang tersebut ada yang berasal dari barat, seperti
Malaka, Riau, Johor, dan Batavia memanfaatkan adanya angin muson Timur untuk
berdagang menuju kota Makassar dan kepulauan Maluku yang terkenal akan
rempah-rempahnya.
Dalam
melakukan pelayaran menuju Makassar dan Maluku terdapat dua jalur yang dapat
digunakan oleh para pedagang. Pertama,
dengan menyusur ke selatan kemudian belok kiri melayari pesisir selatan hingga
pulau Buton dan selanjutnya berlayar ke Maluku. jalur kedua, menyusuri selat Makassar menuju
ke utara, kemudian berlayar ke arah timur memasuki pelabuhan Menado dan terus
ke pulau Ternate.
Selain
angin muson barat dan timur yang digunakan oleh masyarakat nusantara untuk
berdagang, terdapat pula angin muson utara dan muson tenggara yang dimanfaatkan
oleh pedagang dari Cina, Spanyol yang berada di pulau Luzon (Filipina). Dengan adanya
angin muson tersebut terciptalah jalur pelayaran Utara-Selatan (Amoy dan
Kanton-Makassar-Indonesia Timur). Siklus muson yang ada di wilayah Sulawesi
menjadikan Makassar ebagai pusat jalur perdagangan, baik jalur perdagangan
barat (Eropa, Gujarat, India Selatan, Semenenjung Malaka, Sumatra, Jawa dan
Kalimanta-Makassar-Maluku serta Papua) maupun jalur pelayaran utara (Cina,
Filipina, dan Jepang-Makassar-Nusa Tenggara-Australia).[2]Ketika
pelabuhan-pelabuhan yang ada di Jawa dan Maluku dikuasai oleh VOC pada
permuklaan abad ke-17, hal tersebut membuat para pedagang harus beralih untuk
mencari tempat singgah yang semula mereka singgah di pelabuhan Jawa untuk
kemudian melanjutkan perjalannanyan ke Nusa Tenggara dan Maluku. Para pedagang
kemudian menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang berada di pesisir Sulawesi
sebagai tempat singgah dan pemasaran yang baru. Pemilihan pesisir Sulawesi
sebagai tempat singgah tentu berdasarkan beberapa pertimbangan seperti letak
yang strategis jika hendak akan berlayar ke Maluku, jaringan perdagangan laut
yang semakin ramai dan luas. Berdasarkan catatan Tome Pires, pelabuhan yang ada
di daerah Makassar dalam perkembangannya kemudian menjadi pusat perdagangan pada
akhir abad ke-15.
Dari
penjelasan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berkembangnya
pelabuhan-pelabuhan di Sulawesi sebagai pusat perniagaan di sebabkan oleh
beberapa faktor. pertama, letak yang
strategis dimana sulawesi berada di tengah jalur perdagangan Dunia. Kedua, adanya intervensi dari Eropa yang
membuat para pedagang harus beralih kegiatan perniagaannya ke tempat lain
seperti Makassar. Ketiga, pedagang
dan pelaut setempat melakukan pelayaran niaga ke daerah-daerah penghasil dan
bandar niaga lain.6
Berdasarkan
beberapa kajian yang membahas wilayah Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa
perdagangan di Siang telah berkembang pesat jauh sebelum adanya kerajaan Gowa
dan Tallo. Menurut Antonio de Paiva, yang mengunjungi Siang pada 1542, orang
Melayu telah menetap di bandar niaga sejak sekitar tahun 1490.7
Makassar menjalin hubungan dagang
dengan portugis di Malaka pada 1559. Pada awal abad ke-16 Pires mencatat,
pedagang dari kepulauan Makassar, datang ke Malaka dengan membawa beras, emas
dan rempah-rempah. Selain itu juga Makassar menjalin hubungan dagang dengan
penghasil komoditas seperti Banten, Surabaya, Sumba, Bima, Endeh dan daerah
lainnya. dalam melakukan perdagangan kerajaan Makassar menjalankan politik
pintu terbuka. Pada akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-16 Makassar telah
menjadi pusat perdagangan Spanyol, Cina, Denmark, Inggris dsb. Untuk
memfasilitasi para pedagang dari luar tersebut pemerintah mengizinkan para
pedagang untuk mendirikan perwakilan dagang mereka di derah tersebut. Selain
itu mereka diizinkan juga untuk mendirikan tempat ibadah seperti gereja dan
masjid.[3]
Adanya keterbukaan pada kerajaan Makassar
terhadap para pedagang-pedagang asing telah memperlancar hubungan dagang dengan
pusat perdagangan lain.Di Manila terdapat perwakilan dagang dari kerajaan
Makassar atas izin dari pemerintah Spanyol yang berkuasa di Filipina. Selain
itu perwakilan dagang Makassar juga terdapat di Makao atas izin dari Portugis.
Pemberian izin untuk mendirikan perwakilan dagang di Manila menurut Speelman
hal itu didasarai karena adanya larangan bagi pedagang Melayu dan Jawa untuk
mengunjungi Manila dengan mengatasnamakan Makassar, pemerintah Spanyol hanya
menerima pedagang yang berasal dari pedagang Makassar karena adanya kedekatan
hubungan dagang, dan dapat memenuhi permintaan rempah-rempah dan komoditas lain
seperti beras dan budak.
Pemerintah Makassar berusaha untuk
memperluas kekuasaannya. Hal itu dilakukan pada tahun 1616 dengan sasaran
utamanya daerah yang terletak di jalur pelayaran Maluku, yaitu pulau Sumbawa.
Untuk memperkuat kekuasaan kerajaan, Raja Makassar mengadakan hubungan dagang dan
politik dengan penguasa daerah penghasil rempah-rempah. Hal ini dibuktikan
dengan adanya hubungan dengan kerajaan Ternate. Usaha Makassar untuk memperluas
kekuasaannya mendapatkan bantuan dari para pedagang asing yang berniaga di
Makassar. Pembangunan benteng, pembuatan perahu galei sebagai wujud nyata dari
bantuan yang diberikan oleh bangsa Portugis.[4]
Lokasi Makassar yang berada pada jalur
pelayaran Internasional, merupakan sebuah keuntungan. Pelanbuhan Makassar dapat
menarik sebagai tempat transit bagi pelayaran antara Maluku dan Malaka, pada
pihak lain kemunduran pelabuhan-pelabauhan Jawa mendorong berkembangnaya
pelabuahan Makassar secara pesat dalam abad ke-17. Jatuhnya Malaka ke tangan
Portugis membuat pedagang Melayu mengalihkan pelayaran perdagangannya antara
lain ke Makassar. Makassar menjadi pusat pemasaran hasil dari Wilayah Indonesia
Timur, serta tempat pengambilan bahan makanan. Pertengahan abad ke-17 ekspor ke
Malaka berupa rempah-rempah, bahan makanan, bahan wangi-wangian, penyu dan beras.
Pala dan cengkeh didatangkan dari Banda oleh pedagang Jawa, Melayu, dan orang
Banda. Dengan adanya perdagangan tersebut Makassar turut serta berperan aktif
dalam perdagangan tersebut. Deongan perkembangan pelabuhan tersebut,
mengalirlah barang-barang ke Makassar, seperti sutra dan pecah-belah Cina
dengan kapal Siam dan bahan pakaian dengan kapal Portugis. [5]
Kedudukan
politik dan ekonomi kerajaan Makassar yang kuat merupakan ancaman yang dihadapi
oleh VOC yang menjalankan kebijakan monopoli, pertentangan, dan permusauhan
dengan mereka. Hal tersebut berlangsung sejak tahun 1615, dan mencapai
puncaknya ketika terjadi perang Makassar pada Desember 1666 sampai dengan bulan
November 1667. Dalam perang tersebut dimenangkan oleh VOC dan memaksa Makassar
untuk mentandatangani perjanjian Bongaya. Dengan adanya perjanjian bongaya, hal
tersebut bukan merupakan suatu halangan bagi Makassar untuk menjalankan
perdagangan bebas. Hal itu terwujud dari adanya perlawanan tahun 1668. Dalam
perlawanan tersebut akhirnya Makassar mengalami kekalahan utuk keduakalinya dan
memaksa mereka untuk menandatangani ulang perjanjian Bongaya pada 28 Juli 1669
di Binanga. Speelman, sehubungan dengan adanya perlawanan tersebut, ia berusaha
mematikan perdagangan kerajaan Makassar. [6]
Dia
menghapuskan peran kerajaan sebagai pengawas bandar niaga, sebagaimana yang
tertuang dalam perjanjian Bongaya dan memperkecil wilayah kerajaan hingga tidak
memiliki batas wilayah perairan yang dapat dimanfaatkan sebagai pelabuhan.
Speelman tampil dengan program kerjanya berupa menjadikan wilayah ujung pandang
dan derah sekitarnya sebagai kota baru yang terdiri dari, benteng pertahanan,
kota dagang, dan kampung. Nama benteng ujung pandang diganti dengan nama “Fort Rotterdam” dan
dijadikan markas tentara dan kota perwakilan. Wilayah sebelah utara benteng
dijadikan kota dagang yang dikenal dengan nama Vlaardingen. Perubahan wajah dan
kedudukan Makassar berkaitan erat dengan usaha Belanda untuk menguasai kota
tersebut dalam rangka menjamin monopoli di Maluku.
B. Faktor –faktor Makassar Sebagai
Kota Niaga
Berkembangnya
Makassar sebagai kota, bandar niaga dan pangkalan pertahanan kerajaan Makassar,
pada abad ke XVI dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:
1. Faktor
dari dalam
Faktor dari dalam ini berkaitan dengan tumbuh dan
berkembangnya dua kerajaan terbesar di Makassar yaitu kerajaan Gowa dan Tallo.
Pertumbuhan Kedua kerajaan tersebut didorong oleh adanya ancaman dari arah arah
daratan Sulawesi Selatan dengan perkembangannya kerajaan-kerajaan Bugis di
pedalaman, seperti Sopeng, Wajo, dan Bone yang mulai mempunyai pengaruh di
daratan dan sepanjang pesisir pantai sebelah utara teluk Bone. Dengan adanya
persaingan tersebut hal itu membuat kerajaan-kerajaan untuk mengadakan
tempat-tempat konsolidasi kekuatan dengan membangun benteng-benteng pertahanan
dan pangkalan militer untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
2. Faktor
dari luar
Faktor luar yang mempengaruhi berkembangnya Makassar
sebagai kota niaga adalah dengan datangnya orang-orang Eropa ke nusantara untuk
berniaga, yang membuat situasi perdagangan di Makassar semakin ramai.
Ditemukannya jalan menuju pulau rempah-rempah dan timbulnya
persaingan-persaingan antar bangsa-bangsa yang melakukan perniagaan. Adanya
kedatangan bangsa eropa ke nusantara untuk memperoleh rempah-rempah yang akan
dijual ke pasaran eropa dengan harga [7]
yang
jauh lebih tinggi. Dalam perdagangan tersebut maka bangsa eropa tersebut memerlukan pangkalan-pangkalan niaga yang
dapat dijadikan tempat dan mata rantai dalam perjalanan pulang dan pergi ke
negara asal. Dengan ditaklukannya Malaka oleh Portugis, hal itu membuat perjalanan
niaga bangsa Portugis ke pulau rempah-rempah lebih lancar, tanpa adanya
gangguan dari kerajaan-kerajaan nusantara.
Kerajaan
Makassar yang telah berkembang dan memiliki armada niaga dengan perahu-perahu
yang sudah dilengkapi persenjataan. Portugis bersedia untuk menjalin
persahabatan dengan kerajaan Makassar, karena hal tersebut menurutnya dapat
mendatangkan keuntungan. Bangsa Portugis disamping melakukan perdagangan dengan
kerajaan Makassar, mereka juga menyebarkan agama Nasrani. Jalur perdagangan ke
Maluku telah dikuasai oleh Portugis dan Makassar. Dengan penguasaan tersebut
pedagang-pedagang yang berasal dari Aceh, Benteng, demak, Brunai bersepakat
untuk memboikot dan menghindari pelabuhan-pelabuhan yang telah dikuasai oleh
Portugis.
Faktor
terpenting dalam perkembangan Makassar sebagai bandar Niaga adalah jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis. Hal tersebut telah menyebabkan berpindahnya pusat
penyebaran Islam ke bagian Timur Nusantara. Diterimanya Islam sebagai agama
resmi kerajaan Gowa-Tallo pada permulaan abad XVII, membuat Makassar berkembang
menjadi pusat penyiaran agama islam. Sementara itu otoritas Portugis telah
merosot di beberapa tempat, bersamaan dengan itu munculnya kekuatan baru dalam
perniagaan laut di bagian nusantara yaitu, Belanda dengan VOCnya.
Kekuasaan
Portugis di Malaka mulai terancam pada akhir abad ke XVI. Hal tersebut
dikarenakan munculnya negara-negara tentangganya yang lebih kuat seperti:
Inggris, Belanda, dan Spanyol. Dengan kondisi tersebut pemerintah Portugis
tidak mampu untuk memberikan bantuan persenjataan kepada perwakilan
pemerintahan Portugis yang adal di wilayah Asia untuk dapat mempertahankan
wilayah jajahannya. Dengan kondisi yang serba sulit tersebut akhirnya pada
tahun 1580 Portugis ditaklukan Spanyol
yang dipimpin oleh raja Philips II. Sementara itu tahun 1641 Malaka jatuh
ketangan Belanda, setelah sebelumnya Belanda berhasil merebut Maluku. Dengan
adanya situasi tersebut membuat Makassar harus memperkokoh kekuatannya dengan
jalan melakukan konsolidasi ke dalam dan menakuklukkan kerajaan-kerajaan Bugis.
Upaya tersebut pada akhirnya mengalami kegagalan.[8]
Pada
abad ke-17 sulawesi Selatan merupakan sebuah wilayah pengekspor pakaian
terkemuka di Kepulauan. Proses itu diperkuat dengan berhasilnya Makassar
menjadikan dirinya sebagai titik pusat bagi para pedagang rempah-rempah yang
ingin berlayar ke Maluku dan oleh penaklukannya atas pusat-pusat ekspor seperti
Sumbawa (1617) serta Selayar. Maluku menjadi pusat pasar yang penting pada
tahap ekspansi awal ini. dengan begitu maka Makassar harus mendapatkan pujian
atas semangat pembaharuan yang ,membuat Makassar terkenal pada abad ke-17 dan
Bugis pada abad ke-18, karena pakaian mereka mencapai reputasi istimewa akan
tenunannya yang halus dan kuat serta warna-warnanya yang cerah terutama pola
kotak-kotak yang disenangi oleh kaum muslimin. Penanaman dan penenunan kapas
yang perpusat di pulau selayar dan distrik Bulukumba serta Bira di Sulawesi
Selatan. Keduanya terletak secara strategis dalam perjalanan ke Maluku, namun
terlalu kering dan gersang untuk penanaman padi. Oleh karena itu kaum, pria
dikedua daerah tersebut mengkhususkan diri pada pembuatan kapal, sedangkan kaum
wanitanya menenun. Menjelang tahun 1660-an, pakaian selayar diperdagangkan
melalui Makassar ke pelabuhan-pelabuhan di Borneo, Sunda Kecil, dan Manila.
Dengan jatuhnya Makassar ke tangan Belanda pada tahun 1669, para pedagang Bugis
mulai mendominasi perdagangan kapas dari Makassar, dan membawanya ke seluruh
pulau dari dunia Melayu. [9]
C. Perdagangan Makassar di Bawah
kekuasaan VOC
Setelah
VOC berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, dengan demikian
aktivitas perdagangan yang terjadi di derah Maluku dan sekitarnya harus
berdasarkan apada kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah VOC. Namun
demikian orang-orang Makassar dan Ternate masih tetap melukan perdagangan
rempah-rempah dengan melanggar monopoli VOC. Pada tahun 1643, pasukan VOC
berhasil mengusir tentara Makassar dari kubu-kubu pertahanan mereka di Hitu,
tetapi hal ini tidak mampu untuk merebut benteng Kakiali.
Dengan
adanya persekutuan antara Makassar dengan Kakiali yang merupakan pimpinan
kelompok yang anti VOC, hal itu membuat VOC marah. Kesultanan Gowa yang berada
di Sulawesi Selatan yang dalam menjalankan pemerintahannnya mendapatkan
dukungan dari Makassar untuk menentang monopoli VOC, mendapatkan perhatian yang
serius dari VOC dibandingkan saat mereka menghadapai Maluku. Kekuasaan Gowa
yang begitu luas, dan memberikan hak otonomi bagi vassalnya, namun hak tersebut masih saja menimbulkan rasa kebencian
diantara kerajaan vassalnya
tersebut.pada tahun 1660 terjadi pertempuran antara Gowa dan kerajaan Bugis,
Bone. Pada tahun 1660 Arung Palakka ikut serta dalam pemberontakan yang
dilakukan oleh kerajaan Bugis dan Bone, tetapi berhasil ditumpas oleh pihak Makassar.
Konflik antara VOC dengan Gowa berlangsung secara terus-menerus sejak tahun
1615. Arung Palakka yang sejatinya terus melakukan pemberontakan terhadap
Makassar mendapatkan dukungan dari VOC. Tetapi ia mengalami kegagalan dan di
asingkan.
Pada
Desember 1666 armada VOC tiba di Makassar. Sekembalinya Arung Plakka dari
pengasingan mendorong orang-orang Bugis di Bone dan Soppeng untuk melakukan
pemberontakan kembali melawan kekuasaan Makassar. Spellman berhasil
menghancurkan armada Makassar didekat Butung, sementara itu Arung Palakka melakukan
serangan melalui daratan. VOC dan sekutu-sekutu Bugisnya keluar sebagai
pemenang dalam pertempuran tersebut. Arung Palakka secara resmi menjadi raja
Bone tahun 1672. Pada tahun 1670-an VOC berhasil mengkonsolidasi kedudukannya
di Indonesia bagian Timur. Tanaman rempah-rempah yang tidak diawasi VOC
ditebangi, tidak ada lagi penduduk yang tinggal di Hoamoal. [10]
sebagian
besar orang Bugis dan Makassar meninggalkan kampung halaman mereka, banyak yang
tewas dala pemberontakan yang berasal dari orang Eropa, sekutu-sekutu, dan
lawan-lawan yang jumlahnya tidak sedikit. Hal itu semua terjadi karena
keinginan dari VOC untuk melakukan monopoli perdagangan di wilayah Indonesia
Timur. Akan tetapi, setelah VOC menguasai rempah-rempah, semakin lama
rempah-rempah semakin kurang berarti bagi keuntungan VOC. Hal itu disebabkan
karena beberapa faktor diantaranya; pertama, tidak mudah menggantungkan
keuntungan pada rempah-rempah karena biasanya pihak Belanda kesulitandalam
meramalkan penawaran, permintaan, .dan harga secara cepat. Kedua, arti penting
rempah-rempah relatif berkurang dalam perdagangan VOC. Lada menjadi barang
komoditas terpenting dalam abad XVII; pada tahun 1700 tekstil merupakan
komoditas perdagangan yang paling penting, serta kopi dan teh menjadi
komodittas yang paling dicari dalam perdagangan eropa pada abad XVIII. [11]
pada
awal abad ke-17 persaingan terus terjadi antara Portugis dengan VOC untuk
memperebutkan Malaka. Namun, setelah Malaka jatuh ketangan VOC tahun 1646 para
pedagang islam dari India dan Timur tengah berpindah ke Banten dan Makassar.
Selain itu juga para pedagang Cina mulai juga berdagang pada kedua pulau itu.
Dengan perpindahan pusat perdagangan dari yang sebelumnya berada di Malaka
kemudian berpindah ke Banten dan Makassar, hal tersebut membuat kedua wilayah
tersebut muncul sebagai emporium utama
Asia Tenggara.
Oleh
karena itu untuk mengkonsolidasi monopolinya di Maluku, VOC harus melumpuhkan
peranan kedua pelabuhan tersebut. Makassar pada waktu itu merupakan sumber
kebocoran monopoli VOC di Maluku. Para pedagang asing seperti Portugis,
Inggris, Denmark, Cina, Jawa dan Melayu menjadikan kota pelabuhan itu sebagai
pelabuhan utama untuk mendapatkan pala dan cengkeh. Para pedagang asing tidak
berani untuk memasuki wilayah Maluku dengan kapal-kapal layarnya yang besar
sehingga mudah untuk dicegah oleh armada laut VOC yang berada di perairan
Maluku. Akan tetapi para pedagang asing itu membiayai para Bugis dan Makassar
yang menggunakan perahu-perahu kecil untuk memasuki wilayah monopoli VOC. [12]
Para
pedagang Bugis dan Makassar memiliki hubungan dengan Hoamoal sampai pertengahan
abad ke-17 dikuasai oleh salah satu anggota keluarga inti (fala Raha) di
Ternate yaitu keluarga Tomagola. Dalam menghadapi VOC tomagola tidak
segan-segan untuk meminta bantuan dari Makassar.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Arung Palakka yang merupakan
raja Bone (1634-1696), memiliki hubungan yang tidak baik dengan Sultan
Hasanuddin dari Makassar (1653-1669). Sehingga pada tahun 1660 Arung Palaka
mengangkat senjata untuk melawan Hasanudin dengan bantuan dari VOC. Permusuhan
itu berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian Bongaya.
Penandatangan
perjanjian Bongaya oleh sultan Hasanuddin, menimbulkan perubahan revolusioner
dalam dalam organusasi politik di bagian timur kepulauan Indonesia. Kompeni
mendapatkan monopoli dagang di pelabuhan Makassar dan semua orang Eropa
non-Belanda harus meninggalkan kota Makassar. Sementara itu koin Belanda
dinyatakan punya nilai legal di negara itu. Semua wilayah yang dikuasai Makassar
berpindah alih menjadi daerah koloni VOC, meskipun dengan alasan praktis daerah
tersebut diletakkan dibawah kekuasaan raja-raja setempat. Pantai-pantai utara
dan timur Sulawesi diserahkan kepada Ternate, yang berada dibawah pengawasan
Belanda. Pulau Sumbawa, yang dibebaskan dari Makassar terpakasa harus menerima
kompeni sebagai penguasa atasan. [13]
Kesimpulan
Makassar
merupakan wilayah pyang penting dalam sejarah perkembangan pelayaran dan
perdagangan nusantara pada abad ke-16 sampai abad ke-18. Pedagang yang berasal
dari Barat dan dari Timur yang singgah ke pelabuhan Makassar membuat
berkembangnya perdagangan maritim di Makassar semakin pesat. Letak Makassar
yang strategis, merupakan salah satu faktor yang membuat Makassar dijadikan
sebagai pelabuhan transit bagi pedagang asing. Selain itu kedekatan letak
dengan Maluku merupakan berkah tersendiri bagi Makassar, dimana Maluku
merupakan pusat rempah-rempah yang banyak dicari dalam pasaran Internasional.
Dominasi
perdagangan maritim Makassar kian menurun akibat adanya campur tangan politik dan monopoli yang dilakukan oleh VOC.
Setelah berhasil menanamkan pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan di wilayah
Sulawesi Selatan dan menjalin kerjasama dengan raja-raja setempat membuat
kedudukan VOC semakin kuat di Makassar. Kerajaan Makassar yang selama ini
berkuasa atas tanah Sulawesi tidak lagi dapat membendung kekuatan tersebut.
Dengan kekalahan yang dialami kerajaan Makassar, maka otomatis VOC memegang
kendai atas perdagangan maritim di Makassar.
Daftar Pustaka
1.
Poelinggomang,
Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia).
2.
Kartodirjo,
Sartono.2014.Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 Dari Emporium Sampai
Imporium.Yogyakarta:Penerbit Ombak.
3.
Gunawan
Restu, dan Abdul Rasyid.2000.Makassar Sebagai Kota Maritim.Jakarta:CV.Putra
Prima.
4.
Reid,
Anthony.2011.Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680.Jakarta:Yayasan Obor
Indonesia. hal 107-108.
5.
Poespeonegoro,
Marwati Djoened dan Nugroho
Notosusanto.2010.Sejarah Nasional Indonesia jilid IV.Jakarta:Balai Pustaka.
6.
Vlekke,
Bernard H.M.2016.Nusantara:Sejarah Indonesia.Jakarta:KPG (Kepustakaan Populer
Gramedia). Hal 158-159.
7.
M.C.Rifleks.1994.Sejarah Indonesia
Modern.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
[1] Poelinggomang,
Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia).
Hal.12-16.
[2]
Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia).
Hal.17-19.
[3]
Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer
Gramedia). Hal.22-28.
[4]
Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer
Gramedia). Hal.28-30.
[5]
Kartodirjo, Sartono.2014.Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 Dari
Emporium Sampai Imporium.Yogyakarta:Penerbit Ombak. Hal 102.
[6] Poelinggomang, Edward.2002.Makassar Abad
XIX.Jakarta:KPG(Kepustakaan Populer Gramedia). Hal.30-36.
[7] Gunawan Restu, dan Abdul Rasyid.2000.Makassar
Sebagai Kota Maritim.Jakarta:CV.Putra Prima. Hal.19.
[8] Gunawan
Restu, dan Abdul Rasyid.2000.Makassar Sebagai Kota Maritim.Jakarta:CV.Putra
Prima. Hal.19.
[9] Reid,
Anthony.2011.Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680.Jakarta:Yayasan Obor
Indonesia. hal 107-108.
[10]
M.C.Rifleks.1994.Sejarah Indonesia Modern.Yogyakarta:Gadjah Mada University
Press. Hal 93-99.
[12]
Poespeonegoro, Marwati Djoened dan
Nugroho Notosusanto.2010.Sejarah Nasional Indonesia jilid IV.Jakarta:Balai
Pustaka. Hal 41-46.
[13] Vlekke,
Bernard H.M.2016.Nusantara:Sejarah Indonesia.Jakarta:KPG (Kepustakaan Populer
Gramedia). Hal 158-159.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar