Menuju
Sejarah Sumatra
Antara
Indonesia dan Dunia
Pendahuluan
Sumatra merupakan
daerah perbatasan, bagi peradaban-peradaban lama yang berada di sekeliling Samudra
India. Pulau tersebut merupakan sebuah pulau yang dikenal dengan Svarna-dvipa, yang berarti tanah emas
pengawal gerbang menuju Asia Tenggara. Bagi Indonesia pulau Sumatra merupakan
sebuah pulau yang sangat berarti karena didalamnya terdapat kekayaan alam yang
begitu berlimpah. Selain itu pulau Sumatra merupakan pulau yang sangat penting
bagi negara asing. Di pulau Sumatra terdapat huatan ekosistem yang menunjang
kehidupan mahluk hidup di muka bumi.
Pulau
keenam terbesar di dunia terbentuk akibat perbenturan lempeng India yang
bergerak ke utara dengan daratan Asia sejak 60 juta tahun yang lalu. Wiayah
Sumatra yang luas dan bentuk tanahnya yang beragam memberikan ciri khas bagi
masyarakatnya yaitu memiliki wajah buas dan terbuka. Hal itu berbeda dengan
kondisi wilayah pulau Jawa dan Bali yang telah berhasil menjinakkan hutan untuk
kemudian dijadikan sebagai tempat tinggal dengan membangun kesatuan-kesatuan
bahasa politik yang lebih besar dibandingkan dengan pulau Sumatra. [1]
Kesultanan Aceh
Pada awalnya orang
Portugis berhasil mengacau pengapalan lada India oleh perdagangan Islam ke
Mesir dan Ke Barat. Di Sumatra Aceh berhasil memperluas perkebunan lada, dan
menemukan pengapalan langsung lada ke pelabuhan islam di laut tengah dengan
menghindari wilayah yang dikuasai oleh Portugis di pantai Barat India. Tahun
1550-an Aceh memasok separuh kebutuhan lada di Eropa.
Pada
tahun 1560-an Sultan Ala’ad-din al-Kahar, mengirimkan utusannya ke raja
Sulaiman dengan membawakan hadiah berupa lada. Maksud dari pengiriman utusan
tersebut adalah untuk meminta bantuan kepada raja untuk menyerang melawan orang
kafir yang telah merebut Malaka, dan telah menteror para pedagang islam seta
jemaah haji di Samudra India. Pengiriman
utusan dari kerajaan Aceh tersebut disambut baik oleh penguasa Ottoman/Turki
dengan mengirimkan ahli pembuat senjata dan prajutrit artileri dalam perang
suci Aceh atas orang Batak dan Portugis. Bagi orang Belanda (1598), orang
Inggris (1600), dan orang Perancis (1602), Aceh merupakan daerah yang
diperebutkan oleh negara-negara tersebut karena produksi ladanya, disamping itu
karena kebencian Aceh terhadap orang Portugis. Bangsa-bangsa tersebut mendapat
sambutan baik dari kerajaan Aceh dengan pemberian hadiah berupa sarung dan
keris. Puncak kekuasaan Aceh dicapai pada masa pemerintahan Sultan Iskandar
Muda (1607-1636). Wilayah kekuasaannya meliputi Tiku dan Pariaman di Sumatra
Barat, Asahan Di Sumatra Timur, Pahang, Johor, dan Kedah di Semenanjung Malaya.
Pada
tahun 1629 kerajaan Aceh banyak mengalami permasalahan yang terjadi diantaranya
adalah akibat kekalahan penguasaan atas Malaka. Selain itu, rasa kecurigaan
Sultan Iskandar Muda terhadap orang lain, membuatnya tidak terkendali dan pada
akhirnya terjadi pembunuhan atas bawahan dan putranya. Setelah ia meninggal
kemudian digantikan oleh menantunya Sultan Iskandar Thani. Setelah meninggalnya
Sultan Iskandar Thani tahun 1641, kondisi kerajaan Aceh tidak mampu lagi
membendung upaya Belanda untu menguasai wilayah tersebut. [2]
Kemunduran
Kesultanan Pelabuhan
Penguasaan
Aceh atas Sumatra Utara membuat berkembangnya kesultanan-kesultanan di
sungai-sungai selatan. Lahan yang terbentang luas untuk penanaman lada, hal
tersebut kareana permintaan lada yang tinggi dari Eropa pada abad ke-16 dan
abad ke-17. Sebagaian lada ini di tanam oleh prang Minangkabau di dataran
tinggi Sumatra tengah. dominasi pelabuhan-pelabuahan pedalaman Sumatra mulai
menurun pada 1700, begitupun juga terjadi pada permintaan lada di pasaran Eropa
setelah tahun 1650. Dengan kondisi tersebut Belanda dan Inggris saling bersaing
untuk mendapatkan lada dengan harga yang lebih murah.
Menjelang akhir abad ke-17 dan abad
ke-18, kekuasaan raja bukan lagi menjadi otoritas bagi masyarakatnya. Hal itu
disebabkan adanya hubungan masyarakat yang berbasis pada pemimpin-pemimpin
dagang yang terdapat di pesisir yang membuka lahan untuk tujuan dagang atau
untuk ditanami. Diantara para pedagang tersebut diantaranya orang Bugis, orang
Arab dari Hadramaut. Sementara itu terdapat kongsi dagang yang dimiliki oleh
Inggris dan Belanda. Tahun 1663 Belanda mendirikan kantor pusat permanen di
Padang, sebagai akibat adanya perjanjian painan. Inggris mendirikan kantor
pusat di Fort Marlborough, Bengkulu, pada tahun 1685.
Kebangkitan Kembali Perdagangan dan
Islam
Dalam
perkembanga ini pedagang perorangan berhasil mematahkan dominasi atas monopoli
perdagangan yang dilakukan oleh Belanda dan Inggris. Pedagang perorangan
Inggris dan Tamil datang dari India, pedagang perorangan Inggris dan Cina
datang dari pelabuhan Inggris di Penang (1786), pedagang lada dan budak Perancis dari Mauritus,
disusul oleh Reunion, dan pedagang Amerika datang dari pusat-pusat pelayaran di
New England. Sejak tahun 1790 kopi merupakan tanaman baru yang menarik bagi
pedagang Amerika dan pedagang lainnya. sedangkan, abad ke-18, timah di Bangka
mulai ditambang pada awalnya dilakukan oleh orang Cina. [3]
Dari
Darat Ke Pesisir: Arus Perpindahan
Penduduk
Sumatra Pada Zaman Penjajahan
Bukti-bukti
persebaran linguistik dan peninggalan-peninggalan purbakal menunjukkan
pergerakan bahasa Austronesia ke Selatan dari Taiwan selama lima ribu terakhir
yang dibawa oleh bangsa-bangsa yang terkenal akan pertanian dan tembikarnya.
Bangsa-bangsa itu menempati daerah-daerah di dataran rendah yang subur dan
didaerah pesisir. Dalam mitologi sejarah nenek moyang bangsa Indonesia tidak
pernah menyebutkan tentang laut, pantai dan migrasi berangsur-angsur ke
pedalaman, yaitu di daerah pegunungan. Seperti halnya orang Bali dan Nias yang
mempunyai rasa tidak suka terhadap orang laut, dan kebiasaan membangun desa di
puncak gunung. Pulau-pulau kecil yang mempunyai peran yang sangat penting dalam
bidang maritim, sering kali menoleh ke
tradisi yang lebih lama, yaitu tradisi membangun desa di tempat tertinggi di
pedalaman. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tidore (Maluku Utara),
yaitu mengirimkan ekspedisi kora-kora sampai ke New Guinea dan menerima uoeti
dari pulau yang dikunjunginya, tetapi ibu kotanya yang pertama tidak bertempat
di daerah pesisir tempat Soa sekarang.
Sepanjang
sejarah tertulis, bahwa Borneo merupakan pulau yang mempunyai jumlah penduduk
jarang. Daerah delta dan rawanya yang luas belum dimanfaatkan secara maksimal
oleh masyarakatnya. Masayarakat yang mendiami pulau ini banyak yang
berasal dari Sulawesi Selatan, Tiongkok
Selatan, Filipina Selatan, dan Jawa.
Meskipun
Borneo memiliki dataran tinggi yang relatif lebih kecil, hal tersebut tidak
menjadikan sebuah alasan untuk menjadikan pulau tesebut tidak memiliki peran
dalam pertanian. Orang Kelabit di Borneo Utara-Tengah Khususnya tampak sudah
mahir bersawah sejak berabad-abad yang lalu di lembah-lembah aluvial. Orang
Kayan dan orang Kenyah yang jumlahnya lebih besar berperan dalam petani ladang
yang berada di hulu-hulu sungai timur dan barat Borneo. Penduduk terpadat
Borneo pada masa pra-kolonial berada di Hulu Sungai Barito di atas Banjarmasin.
Penduduk tersebut hidup dengan memanfaatkan sungai-sungai yang melngalir dari
pegunungan meratus. Orang Banjar yang menempati wilayah ini barangkali mewakili
hampir separuh dari seluruh penduduk Borneo pada awal abad ke-18. [4]
Hubungan
dengan Cina
Hubungan
yang terjalin antara Aceh dengan Turi Ottoman sudah terjalin sejak lama. Hal
itu dapat kita temukan dari tulisan karya orang barat seperti Couto dan Pinto
yang berasal dari Portugal. Bagi orang
Indonesia dan Malaysia raja Rum yang merupakan salah satu raja terbesar dalam
sejarah dunia pada abad ke-16 mengacu kepada Sultan Ottoman. Namun, sebelulum
kebangkitan Ottoman, Persia dan Turki menggunakan kata Rum untuk mengacu pada
Byzantine, kadang pula digunakan untuk kekaisaran Romawi.
Tradisi yang berkembang di
masyarakat Sumatra dan Malaya, banyak mengaitkan raja Rum, raja besar dari
Barat, denga raja besar Cina, raja besar dari Timur. Hal itu dijelaskan dalam
mitologi asal-usul Johar. Dalam mitologi tersebut menceritakan bahwa raja
Iskandar Dzul Karnain memiliki tiga putra. Dari ketiga putra tersebut kemudian
timbullah peperangan di Selat Singapura. Setelah pertandingan itu selesai
ketiga putra tersebut menyebar di berbagai wilayah. Putra pertama kemudian
pergi ke arah Barat untuk menjadi Raja Rum, putra kedua pergi ke arah Timur
untuk menjadi raja Cina, dan putra ketiga tetap berada di Johor untuk kemudian
mendirikan dinasti Minangkabau.
Saat Turki Ottoman muncul sebagai
kekuatan baru di wilayah Samudra India, kerajaan tersebut menjadi fokus
dariwarisan besar tradisi mengenai
sebuah kerajaan besar di Barat. Hubungan antara Aceh dengan Turki terdapat
dalam catatan Aceh pada abad ke-16 yaitu Bustanu’s-Salatin, yang ditulis di
Ibukota Aceh oleh orang Gujarat, Nuruddin. Hubungan Aceh dengan Turki di mulai
ketika masa pemerintahan Sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar (1539-1571).
Dialah yang mencetuskan tata pemerintahan Aceh Darussalam, dan mengirimkan
utusan ke kerajaan Istanbul. Dalam hikayat Meukota Alam di ceritakan bahwa
Sultan Iskandar Muda mengirimkan utusan ke Istanbul. Utusan itu membawa uang
untuk mendukung tempat-tempat suci seperti perawatan Mekkah dan Madinah. Selain
itu Sultan Iskandar Muda juga mengirimkan tiga kapal yang berisi dengan beras
dan lada. Dalam perjalanan menuju Turki, para awak kapal mengalami musibah yang
membuat mereka sampai ke tujuan dalam waktu tiga tahun. Dengan lamanya waktu
tersebut barang bawaan yang seharusnya akan di berikan kepada raja Rum,
kemudian di habiskan oleh awak kapal untuk bertahan hidup. Setelah sampai
mereka justru disambut baik oleh Raja Rum. Ia juga mengirim dua belas panglima
perang ke Aceh. Menurut Snouch Hurgronje, Sultan Ottoman membebaskan upeti yang
harus dibayarkan kerajaan Aceh setiap tahunnya. Sebagai gantinya Orang Aceh
harus merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad.
Dalam
versi lain yang dikemukakan oleh Saffet menyatakan bahwa khalifah Turki
memiliki wewenang dalam keagamaan di Aceh, diantaranya adalah dengan
mengirimkan khotbah yang harus dibacakan setiap hari Jumat di masjid Raya Aceh.
Dengan adanya hubungan tersebut maka ketika Aceh di serang oleh Belanda, maka
Aceh tidak segan untuk meminta bantuan dari kerajaan Ottoman untuk menghadapi
Belanda. [5]
Aceh
muncul sebagai kerajaan yang kuat berkat penaklukan di beberapa wilayah yang
dilakukan oleh Sultan Ali Mughayat Shah (1516-1530). Penaklukan tersebut
berhasil mengusir Portugis dan menancapkan pengaruhnya atas wilayah Sumatra
Utara. Kekuatan Aceh pada saat itu ditopang oleh adanya senjata hasil rampasan
dari Portugis, dan dari pedagang-pedagang Islam yang berada di Pasai dan Pidie.
Menurut M.A.P. Meilink Roelofsz, untuk pertama kali pengapalan lada Aceh
tercatat ke Laut Merah dan menjadi latar belakang bagi ekspansi baru menjelang
tahun 1530-an. Pusat pelayaran Islam berada di Pasai, daerah kekuasaan adik
sultan yang bernama Ala’ad-din. Pasai merupakan daerah penghasil lada selain
dari Pidie. Dalam sebuah perjanjian Aceh menghadiahkan sebuah pabrik untuk
Turki yang berada di Pasai tahun 1540-an.
Menurut
Pinto, lawan utama dari kerajaan Aceh menjelang akhir 1530-an adalah kerajaan
Batak dengan pusat kekuasaannya berada di sekitar sungai Singkil. Peperangan
pertama antara Aceh dengan Batak menghasilkan suatu perjanjian damai yang
menguntungkan orang Batak. Dalam perang tersebut Batak meminta bantuan Malaka,
sementara Aceh mendapat bantuan dari Turki. Kekalahan ekspedisi tahun 1538 dan
karena ketidakberdayaan dalam mengendalikan kerajaan vassalnya menyebabkan
Sultan Sulaiman Yang Agung, mengambil keputusan untuk memusatkan perhatian ke
Eropa.
Kedatangan
prajurit dan persenjataan Turki memungkinkan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahaer
untuk mengalahkan orang Batak, untuk kemudian setelah itu menyerang Aru,
kerajaan yang berada di timur laut Sumatra. Tahun 1540 orang Aceh di usir dari
Aru oleh kekuatan gabungan Melayu dari Johor, Riau, Siak, Perak yang dipimpin
oleh Sultan Johor. Dalam pertempuran tersebut pasukan elit Turki berhasil
dikalahkan. Pada tahun 1550 Johor membentuk koalisi dengan Jepara yang
merupakan musuh dari Portugis dalam perdagangan di Maluku. Aceh kemudian muncul
kembali dengan kekuatan baru tahun 1560-an. Aceh membuka perkebunan-perkebunan
lada dan kayu yang baru di Tiku, Pariaman, dan Indrapuri di Pantai Barat
Sumatra yang berada di bawah kendali Aceh. Pedagang dari Jepara dan Banda telah
mengikis kendali Portugis atas perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Dalam
sumber Venesia mengatakan bahwa adanya persekutuan militer antara Aceh dengan
Turki. Duta besar Venesia untuk Konstantinopel melaporkan bahwa pada Juni 1562
seorang duta besar Aceh berada di kota itu untuk memohon artileri untuk
menyerang orang Portugis. Tahun 1564, Turki mengirimkan senjata awak meriam ke
Aceh. Sumber-sumber Turki mencakup sebuah petisi pada Januari 1566, dari sultan
Aceh Ala’ad-din yang di tujukan kepada Sultan Sulaiman. Dalam petisi tersebut
berisi ucapan terimakasih atas kedatangan juru tembak Turki untuk mengamankan
jemaah haji dan pedagang islam yang diganggu oleh Portugis dalam perjalanan
menuju Hejaz.
Aceh
mengirimkan Husain ke Turki untuk meminta bantuan dalam menyerang Portugis yang
telah menyerang orang islam di Calicut dan Ceylon. Utusan tersebut sampai
ketika Sultan Suleiman di gantikan oleh Selim II. Selim II kemudian
memerintahkan Gubernur untuk membangun terusan antara Laut Tengah dan Laut
Merah. Namun, tahun 1568 Selim menulis suat permintaan maaf kepada Husain.
Ekspedisi Sumatra itu terpaksa di tangguhkan karena adanya pemberontakan di
Yaman, dan Armada Kurtoglu Hizir diperintahkan untuk memadamkan pemberontakan
tersebut. Pemberontakan dapat di selesaikan oleh Sinai Pasha tahun 1571. [6]
Bantuan
Turki kepada Aceh tahun 1563 untuk membantu Aceh menyerang Aru dan Johor, telah
mendorong serangan berikutnya dengan sasaran lain yaitu Malaka. Menurut sumber
Jesuit, di Aceh terdapat duta besar Turki ketika kapal Portugis tiba di Malaka
untuk berdagang pada tahun 1565. Adanya intervensi Turki Ottoman mengakibatkan
hubungan Malaka dengan Aceh saling bermusuhan. Hal itu terjadi ketika orang
Portugis dihadapkan pada pilihan untuk memeluk islam atau mati kafir. Sedangkan
menurut Coute selama serangan Januari – Februari 1568 pasukan aceh dibantu
sekitar 400 prajurit Turki, dan bantuan lain yang berasal dari Japara dan
Calicut.
Dari
tahun 1562-1562 Aceh telah mengirimkan utusan ke Konstantinopel untuk
mendapatkan pembekalan dan prajurit, serta untuk membangkitkan kembali semangat
Sultan Ottoman pada operasi yang lebih besar. Kematian Ala’ad-din Ri’ayat Shah
al-Kahar pada 1571 membuat rasa takut yang dialami oleh kerajaan tetangganya
semakin berkurang. Sementara itu sebagai penggantinya adalah Ali Riayat Shah
(1571-1578), yang mempunyai ambisi untuk mengajak Johor bersekutu untuk melawan
orang kafir. Tahun 1573 Aceh mendapatkan bantuan dari Ratu Japara untuk
melakukan serangan atas Malaka. Persekutuan Johor dengan Aceh semakin
berkembang selama masa pemerintahan sultan Ali Riayat Shah. Persekutuan itu
diperkokoh dengan perkawinan antar-istana kedua kesultanan tersebut.
Selama
dua dekade dari tahun 1560 hingga tahun 1580 merupakan titik puncak kejayaan
militer islam di Asia Tenggara. Dalam periode ini Portugis selalu berada pada
posisi bertahan, sementara itu Aceh mendomonasi selat Malaka, denngan dukungan
dari Japara dan Johor. Pedagang islam dari Japara, Gresik, Ternate dan
kepulauan Banda mendomonasi di kepulauan timur. Kekuatan-kekuatan islam di Asia
Tenggara menunjukkan minat pada cita-cita pan-islam seperti Aceh, Jepara,
Ternate, Gresik, dan sampai pada Johor.
Periode
melemahnya kerajaan Aceh mulai terjadi setelah wafatnya sultan Ali Riayat Shah
pada Juni 1578. Sultan yang menggantikannya tidak cakap dalam memimpin yang
mengakibatkan persebutuan dengan Johor semakin renggang dan terjadi kembali
perag diantara keduanya tahun 1582. Meski hubungan politik Aceh dengan Turki
hampir seluruhnya putus pada tahun 1580,
Aceh tetap mempertahankan pengaruh Turki. Hal itu dapat dilihat dalam bidang
kemiliteran. Taktik militer Aceh, teknik militer dan artileri yang terkenal
selama pelatihan yang diberikan Turki. Dari sisi budaya, Aceh tetap
mempertahankan hubungan yang erta dengan negara-negara Islam di Barat. Tahun 1570
catatan sejarah dipenuhi dengan nama-nama ahli teologi dari Mesir, Hejaz,
Yaman, dan Gujarat yang datang ke Aceh untuk mengajar. Banyak surat diplomatik
Aceh yang ditulis dengan berbahasa arab pada awal abad ke-17, termasuk surat
yang dikirim kepada rau Elizabeth melalui Lancaster. [7]
Perdagangan dan Masalah Kekuasaan
Raja Aceh: Tiga Tahap, Sekitar
1550-1700.
Antara sekitar awal
abad ke-15 dan pertengahan abad ke-17 berkembang jaringan perdagangan di Asia
Selatan, yang terbentang dari laut merah di barat hingga ke Kanton dan mencakup
sebagian besar dunia Melayu Maritim.
Monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Belanda terjadi
pada abad ke-17, yang di dukung oleh perdagangan setempat yang dilakukan oleh
orang Cina, dan sebaliknya membawa dampak bagi stimulus dagang yang diberikan
oleh pedagang Gujarat, Malabari, Coromandel, Arab, Portugis, dan Cina pada abad
ke-15 dan abad ke-16. Demikian pula yang terjadi di Asia Tenggara lebih dari
sekadar korban pasif dari proses ini.
Warisan Sejarah di Sumatra Utara
Dalam
hal ini terdapat ciri khas yang dimiliki oleh daerah Sumatra Utara seperti:
1. Sebelum
1520 pantai Sumatra Utara terdiri dari sejumlah kerajaan, pelabuhan yang
berdiri sendiri-sendiri. dalam hal ini diantara kerajaan-kerajaan yang ada
tidak adanya pengakuan tunduk atau menjadi vassal dari kerajaan yang lain.
Marco Polo memberikan gambaran mengenai wilayah ini pada tahun 1292. Menurutnya
wilayah Sumatra terdiri dari delapan kerajaan, dan delapan raja dari kerajaan
memiliki bahasa sendiri. pasai dan pidie berkembang pesat dalam bidang
perdagangan dan kebudayaan, kerajaan-kerajaan lain seperti Lamri yang kelak
menjadi Aceh, merupakan kerjaan yang terlibat konflik dengan penduduk di
pedalaman.
2. Kerajaan-kerajaan
di Sumatra Utara sebelum Aceh, konsep akibat adanya pengaruh dari India
mengenai kerajaan tidak begitu berpengaruh jika dibandingkan dengan pengaruh
India yang terjadi di wilayah Sumatra Selatan/Tengah
maupun di pulau Jawa. Orang Sumatra Utara dikenal dengan sikapnya yang skeptis
mengenai kerajaan.
3. Lembah
sungai Aceh yang dikenal dengan Aceh Besar pada tahun 1520, bukan merupakan sumber
penting untuk barang ekspor seperti lada, dan pinang ditanam di pantai utara.
Lada, kapur barus, emas dan barang ekspor lainnya datang dari pelabuahn pantai
barat, sementara itu timah diekspor dari Perak. Kebijakan Aceh mempunyai tujuan
untuk mendominasi politik, mamastikan hasil dari wilayah tersebut tidak jatuh
ke tangan Portugis dan menyalurkan perdagangan luar megeri ke ibu kota wilayah
tersebut.
Tahap I: Orangkaya
hingga 1589
Jasa yang besar telah ditorehkan oleh sultan
Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar untuk menjaga persatuan kerajaan yang
terbentuk dari berbagai suku bangsa dan tradisi yang berbeda pula. Ia berhasil
menaklukkan Aru di pantai timur dan Pariaman di pantai barat, untuk itu ia
kemudian menempatkan putra-putranya di wilayah tersebut. Selain itu, ia juga
menjalin hubungan dengan Turki.
Sumber Portugis menyebutkan bahwa,
pengiriman lada dan rempah-rempah dari Aceh ke Laut Merah memainkan peran
penting. Perdagangan ini mencapai puncaknya pada 1560-an, yaitu dari adanya
laporan tentang kedatangan 1.800 kuintal lada dan 3.000 kuintal rempah-rempah
di Jeddah tahun 1564, yang dibawa oleh 23 kapal milik orang Islam. Dalam
keterangan lebih lanjut, orang Portugis menyatakan bahwa orang-orang Acehlah
yang sering melakukan perdagangan dan pelayaran.
Setelah Kahar dan putranya wafat,
pemuka-pemuka masyarakat terkuat di ibu kota berhasil menancapkan dominasi
penuh atas kerajaan. lima penguasa kerajaan berhasil ditumbangkan dalam waktu
sepuluh tahun tanpa adanya kecaman yang terjadi pada abad ke-17. Dalam Hikayat
Atjeh mengiuraikan tentang keputusan “semua raja dan Hulubalang”. Untuk mengkudeta raja dan kemudaian mengangkat
penggantinya.
Sumber-sumber Barat menjadi sumber yang
rinci untuk menjelaskan tokoh-tokoh besar dalam kerajaan dengan sebutan orangkaya. Sumber Melayau menggunakan
sebutan orangkaya sebagai gelar pejabat tinggi kerajaan. Berbeda halnya dengan
penyebutan orangkaya dari pengunjung
Eropa yang mengacu pada kelas masyarakat tertinggi-bangsawan, orang istana, dan
pejabat tinggi. Orangkaya ltersebut menurut Francois Martin membedakan dirinya
dengan memanjangkan kuku ibu jari dan kelingking. Best dan Beaulieu diberi
gelar dan kedudukan orangkaya putih,
yang memberi mereka hak istimewa bebas keluar masuk istana. [8]
Tahap 2: (1589-1636):
Kekuasaan Raja Mutlak
Setelah
dua pemerintahan berturut-turut, raja diangkat oleh orangkaya-orangkaya , dinasti Aceh berhasil mendapatkan kekusaannya
kembali pada tahun 1589, dengan pegangkatan sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah
Sayyid al-Mukammil (1589-1604). Sultan ini merupakan keturunan dari dinasti Dar
alkamal yang berkuasa di lembah sungai Aceh. Menurut Beaulieu, kadi (uskup Agung) merupakan pendukung
yang setia. Terdapat kadi yang pernah berkuasa yaitu Sheikh Shamsud-din. Dalam
Hikayat Atjeh yang ditulis untuk anak cucunya dan anak didik Iskandar Muda,
memuji keadilan dan kemakmuran di dalam kerajaannya.
Setelah Sultan Ala’Ad-din wafat, ia
digantikan oleh anak didiknya Iskandar Muda (1607-1636). Dibawah pemerintahan
sultan Iskandar Muda kebijakan mutkak diambilnya dalam menjalankan pemerintahan
terbilang sukses. Serangkaian kemenangan militer di Sumatra Timur dan Malaya
untuk memonopoli produksi ekspor wilayah itu dan menghancurkan pesaing
utamanya. Pengawasan yang ketat di terapkan di Sumatra Barat sebagai pusat
produksi lada, dengan panglima Aceh yang diganti setiap tiga tahun sekali.
Pedagang asing dipaksa untuk memenuhi persyarakat yang sudah ditentuklan oleh
sultan sebelum mereka berdagang di pelabuahan
yang lain.
Di Aceh, Sulatan Iskandar Muda memegang
kendi yang penuh atas pemerintahan. Pasukan permanennya adalah pasukan kerajaan
yang terdiri atas hamba raja/biduanda
yang berjumlah sekitar 500 orang. Pasukan yang lebih besar dibentuk bila
diperlukan melalui orangkaya, setiap
kelompok prajurit ditempatkan dibawah tanggung jawab orangkaya. Setiap orangkaya memiliki wilayah kekuasaannya dengan
penduduk yang berada di bawah hukum mereka. Hal ini bertujuan untuk memastikan
tersedianya pasukan untuk peperangan-peperangan Iskandar Muda yang terus
berlangsung. Orangkaya yang terdapat dalam kerajaan merupakan cikal bakal dari
adanya uleebalang/hulubalang. Orangkaya
dalam pemerintahan .yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda mendapatkan
pengawasan yang ketat. Setipa orangkaya dibebani
tugas yang jaga istana dengan tidak memakai senjata. Tugas itu dilaksanakan
setiap malam ketiga.
Iskandar Muda membukukan hukum dan
membangun sistem peradilan yang kompleks. Nama Iskandar Muda dikenal dengan
bapak legendari daulat hukum. Berdasarkan teks ndari Drewes dan Voor hoeve
mengatakan hukum yang dibukukan itu berasal dari instruksi Iskandar Muda kepada
orangkaya Sri Maharaja Lela. Tedapat
empat lembaga peradilan pertama, lembaga untuk menyelesaikan utang piutang yang
diketuai, kedua pengadilan pidana dibawah orangkaya, ketiga pengadilan
agama dibawah kadi, dan pengadilan di Alfandegue, dibawah orangkaya laksamana.
Tata pemerintahan yang diterakpan oleh
Sultan Iskandar Muda, membutuhkan jumlah pejabat yang lebih besar. Peojavat
yang paling berkuasa adalah orangkaya Laksamana, orangkaya Maharaja Sri
Maharaja/perdana menteri, empat Syahbandar yang ditugasi untuk mengurus
administasi perdagangan, sejumlah kerukun yang bertugas di pengadilan, empat
penghulu kawul yang bertugas
melakukan patroli di kota.
Kelemahan sistem pemerintahan yang
diterapkan oleh Sultan Iskandar Muda adalah ketidaksesuaian absolutisme dengan
perusahaan swasta. Pedagang asing sering mengeluhkan tuntutan-tuntutan sultan
kepada mereka. Sulatn Iskandar Muda tampaknya menarik sebanyak mungkin pedagang
setempat kedalam kekuasaannya sehingga ia dapat memonopoli atas orang asing.
Sekitar tahun 1616 ia berhasil membawa sebagian besar lada pantai barat ke
ibukota dengan kapal-kapalnya sendiri, dan menyisihkan pedagang setempat yang
menjalankan fungsi tersebut sebelumnya. kepentingan yang besar dalam
perdagangan membuat Sultan Iskandar Muda tidak lagi toleran dengan perusahaan
dagang dalam negeri.
Tradisi Aceh sebagaimana yang tercermin
dalam catatan sejarah Melayu dan Aceh, menempatkan Sulatan Iskandar Muda di
puncak kejayaan. Namun disisi lain orang asing yag bergerak dalam kalangan
pedagang dan pejabat ibukota meragukan lagi betapa besar ketakutan yangn mereka
alami. Beaulieu menekankan seringnya Sultan Iskandar Muda membunuh orangkaya
untuk menyita harta bendanya. Ada dua sebab orangkaya kehilangan nyawa, yaitu
reputasi yang baik mereka di hadapan penduduk, dan harta benda mereka.
Tahap 3:Pudarnya
Kerajaan;Naiknya Tiga Sagi
Kekuasaan
Aceh berangsur-angsur mulai melemah setelah kekalahan yang dialamai Pasukan
Iskandar Muda di Malaka tahun 1629. Lemahnya kemampuan dan wewenang raja
sesudah meninggalnay Sultan Iskandar Muda, dan meningkatnya kekuatan dagang
Belanda yang berhasil menaklukkan Malaka tahun 1641. Berdasarkan sumber asing
dan catatan sejarah menyebutkan bahwa gaya pemerintahan Iskandar Thani
(1636-1641), dan Ratu Taj al-Alam (1641-1675), yang bersifat lebih lunak dan
kemakmuran ibukota berada dibawah mereka.
Karena itu tidak mengherankan jika
orangkaya memutuskan untuk meneruskan sistem itu dengan mendudukkan kembali
diatas tahta tiga ratu berturut-turut setelah Taj al-Alam wafat pada 1675.
Namaun, ketiga ratu baru ini tidak memiliki status seperti status yang pernah
dinikmati putri dari seorang raja paling berkuasa dan janda dari yang lain.
Setiap ratu baru, kekuasaan dijalankan oleh orangkaya terkemuka. Sementara
pejabat-pedagang membangun sebuah tata pemerintahan yang sesuai di ibukota,
sebuah kekuatan baru yang besar sedang
muncul di pedalaman pertanian.
Ada tingkatan susunan supra-desa pada
abad ke-18 dan abad ke-19 di Aceh besar: mukmin, kelompok mukmin dibawah
uleebalang, dan sagi. Sebab-sebab ,munculnya kekuatan politik baru ini
dipedalaman Aceh besar sebagian adalah faktor ekonomi. Ancaman politik dari 22
mukmin, yang telah terlihat gejalanya oleh Bowrey pada 1675, semakin besar pada
1688 ketika ratu keempat, Kamalat Syah dinobatkan. Kedua belas “pengawal” tahta
Aceh, yang terdiri dari empat Uleebalang dari setiap sagi, tamoaknya sudah
menancapkan kuku kekuasaan mereka. [9]
Gajah
dan Air dalam Perhelatan Kerajaan di Aceh Abad Ke-17
Dalam
Adat Aceh, atau kisah-kisah dari para
pedagang dan duta besar yang berkunjung ke Kesultanan Aceh ketika Aceh sedang
jaya-jayanya, hampir tidak dipercaya betapa banyak waktu dan tenaga kerajaan
yang digunakan untuk menyelenggarakan arak-arakan pertunjukkan, dan hiburan
kerajaan. Dalam paruh pertama abad ke-17, Aceh merupakan salah satu kota pantai
terkaya di Asia. Duta besar dan pedagang datang ke Aceh dari Siam, Bnaten,
Pegu, (Burma), Moghul (India), Golconda (India Selatan), Persia, Inggris,
Belanda dan Perancis.
Di Siam dan Burma arak-arakan ayng paling
besar adalah arak-arakan di sungai, yang melibatkan beratus-ratus perahu megah
berhias yang membawa para pembesar setempat dan utusan-utusan dari negeri asing
ke istana. Di pihak lain, di Malaya dan Sumatra, iringiringan gajah-gajah
adalah lambang martabat dan kehormatan di seluruh Asia Tenggara ayng digunakan
istana untuk arak-arakan memnbawa tamu-tamu penting ke istana dengan
menggunakan gajah. Hal seperti ini juga ditemukan pula di pantai Patani pada
awal abad ke-17. Pada tahun 1630-an dan 1640-an, gajah merupakan lambang
keagungan bagi raja-raja Aceh dan raja-raja Siam.
Perkawinan dan
Pemakaman Kerajaan
Di
dalam kerajaan terdapat upacara transisi penting untuk anggota keluarga
kerajaan, seperti upacara perkawinan, sunat, kdan penobatan.perhelatan pada
1765 ketika raja Ismail dari Johor menikah dengan seorang putri dari Trengganu
“berlangsung selama tiga bulan, menyuguhkan hiburan-hiburan seperti wayang dan
mendora”. Catatan istana Aceh menyebutkan sejumlah pernikahan yang megah,
terutama pernikahan yang penting untuk legitimasi anggota kerajaan. Dalam
Hikayat Aceh, pertunangan dan pernikahan orang tua sultan Iskandar Muda paling
banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat.
Upacara pemakaman yang dilakukan untuk
memakamkan Sultan Iskandar Thani yang wafat pada Februari 1641 dilakukan secara
megah. Hal itu dilakukan dengan iringan-iringan pemkaman yang terdiri atas
barisan para pangeran, Bangsawan, Pejabat Tinggi, dan 260 ekor Gajah, semua
berselimut kain sutra yang mahal, kain emas, dan kain bersulam.
Idul Adh
Perayaan
hari besar islam Idul Adh, dilakukan dengan arak-arakan yang besar dan megah
dengan rute dari istana ke Masjid Bait ur-Rahman. Adat Aceh berisi daftar 30
kelompok yang ikut dalam perayaan tersebut. Sultan menunggang Gajah kerajaan,
Lela Manikam termasuk ke dalam kelompok 24.
Perayaan Bulan Puasa
Perayaan
sebelum dan sesudah bulan puasa dilakukan dalam kerajaan Aceh, awal dan akhir
bulan puasa dilakukan dengan melihat bulan, seperti yang ditetapkan oleh kaum Shafi’i. Hal yang penting dalam upacara
ini adalah upacara yang dilakukan pada awal puasa dan idul fitri seperti iring-iringan ke istana dan ke masjid, hadiah
yang diberikan kepada sultan sebagai tanda kesetiaan, bunyi-bunyian yang gegap
gempita berupa tembakan senjata yang dilakukan di sekitar istana.
Sembahyang Jumat
Iring-iringan
ke masjid tampaknya sudah menjadi kegiatan rutin dan para pedagang Inggris
diberitahukan untuk mengikuti acara tersebut pada hari Jumat, 2 Juli 1613.
Sulit dipercaya bahwa sekitar 5.000 prajurit dikerahkan setiap minggu sepanjang
tahununtuk melakukan arak-arakan, tetapi berdasarkan pernyataan dari Croft
mengenai dua acara Jumat berturut-turut (26 Juni dan 2 Juli)dapat disimpulkan
bahwa pada masa itu arak-arakan semacam itu merupakan kegiatan yang rutin
dilakukan setiap minggu.
Adu Bintang
Adu
Bintang merupakan pertunjukkan yang diadakan oleh istana kerajaan Aceh bagi
rakyat menjelang akhir abad ke-16 dan abad ke-17. Berdasarkan Hikayat Aceh
menjelaskan bahwa sulatan selalu keluar untuk melakukan kesenangannay mengadu
Gajah liar dengan gajah jinak, dan akibatnya banyak orang mati akibat terkena
tusuk gading gajah. Selain itu kerbau, sapi dan biri-biri disuruh berlaga satu
sama lain. Pada abad ke-17 tamapaknya adu binatang sudah digantikan dengan adu
manusia. Motif utama adu binatang berkaitan denan perang dan lambang kemenangan
bagi raja. Karena gajah dianggap bagian penting dari kekuatan pasukan Aceh.
Peperangan gajah dilakukan dengan maksud untuk melatih kekuatan gajah dan
melatih gajah dengan pawangnya.
Pesta Air
Mandi
Safar atau u pacara bersih diri di
dunia kepulauan Aceh tidak kalah menarik menyenagkan dari acara perang air pada
tahun baru di daratan Asia Tenggara. Sultan-sultan Malaka pada abad ke-15 mandi
di kolam dari batu pualam dengan air yang dialirkan dari mata air yang mungkin
sama dengan pola pesta air di Aceh di kemudian hari. Sultan Iskandar Muda
sering juga mengadakan pesta-pesta air semacam itu, dan kemungkinan ia sering
pergi ke Mata le [cf. Melayu Mata ayer], tempat nyaman yang berada 8 km ke barat daya dari dalam tempat air
jernih sungai Krueng Daroy mengalir dua mata air di kaki sebuah bukit. [10]
Peralihan dari Otokrasi (ditulis
bersama Takeshi Ito)
Peralihan
Asia Tenggara
Akhir
abad ke-16 dan awal abad ke-17 sejumlah kerajaan kuat dan berpusat di ibukota membuat
kagum para pengamat Eropa-Burma dibawah raja Bayinnaung (1551-1581) dan raja
Anaukhpetlun (1606-1629), Ayutthaya (Siam) dibawah raja Songtham dan raja
Prasat Thong (1610-1656), Mataram (Jawa) dibawah Sultan Agung dan Amangkurat I
(1616-1677), Aceh dibawah sultan Iskandar Muda (1589-1636).
Ciri utama kerajaan-kerajaan otokratik
(pumusatan kekuasaan mutlak dalam tangan satu penguasa) sbb:
1.
Pasukan yang sangat besar denga
pengerahan bagian seluruh tenaga manusia. Terdapat pasukan kecil tetap sebagai
pengawal istana, serdadu asing bayaran, dsb. Kendali senjata api yang ketat
oleh kerajaan, dan banyak tawana perang akibat perang.
2.
Pedagang internasional terpusat pada
satu pelabuhan di bawah kekuasaan raja. Penghasilan raja sebagian besar
bergantung pada pelabuhan, termasuk sektor perdagangan yang lebih besar yang
dimiliki oleh raja.
3.
Kewajiabn mengabdi di istana kerajaan
bagi bangsawan.
4.
Mulai ada tatanan birokrasi dalam
pemerintahan, pejabat diangkat secara berkala, tidak turun temurun.
5.
Kodifikasi hukum dan pelembagaan
struktur hukum, umunya berdasar model India atau Islam sebagai dasa legitimasi
bagi pemusatan wewenang menyusun undang-undang dalam tangan istana.
6.
Pengembangan budaya kosmopolitan
perkotaan, yang mendominasi pedesaan dan menjadi model budaya bagi
periode-periode berikutnya.
Senjata
yang paling awal diperkenalkan sebagai alat perang di Asia Tenggara adalah
meriam. Pada abad ke-16 dan abad ke-17, merima pada umumnya diperagakan kepada,
dibeli oleh atau dibuat semata-mata untuk raja. Perbedaan-perbedaan sosial
antara Eropa dan Asia Tenggara cukup jelas sehingga siapa saja akan
berhati-hati menggunakan cap “feodal” pada sistem politik. meski beberapa
gambaran klasik dari ciri-ciri kunci feodalisme dapat diterapkan kepada Aceh
dan masyarakat Asia Tenggara yang lainnya pada abad ke-18, ada beberapa ciri
penting Asia Tenggara yang tetap berbeda. [11]
[1] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 1-2.
[2] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 6-9.
[3] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 10-11.
[4] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 40-42.
[5] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 68-72.
[6] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 73-79.
[7] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 82-87.
[8] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 92-97.
[9] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 98-107.
[10] Reid,
Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. Hal 110-1130.
[11] Reid, Anthony.2011.Menuju
Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor
Indonesia. Hal 130-145.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar