Rabu, 21 November 2018

ANTHONY READ MENUJU SEJARAH SUMATRA


Menuju Sejarah Sumatra
Antara Indonesia dan Dunia
Pendahuluan
Sumatra merupakan daerah perbatasan, bagi peradaban-peradaban lama yang berada di sekeliling Samudra India. Pulau tersebut merupakan sebuah pulau yang dikenal dengan Svarna-dvipa, yang berarti tanah emas pengawal gerbang menuju Asia Tenggara. Bagi Indonesia pulau Sumatra merupakan sebuah pulau yang sangat berarti karena didalamnya terdapat kekayaan alam yang begitu berlimpah. Selain itu pulau Sumatra merupakan pulau yang sangat penting bagi negara asing. Di pulau Sumatra terdapat huatan ekosistem yang menunjang kehidupan mahluk hidup di muka bumi.
Pulau keenam terbesar di dunia terbentuk akibat perbenturan lempeng India yang bergerak ke utara dengan daratan Asia sejak 60 juta tahun yang lalu. Wiayah Sumatra yang luas dan bentuk tanahnya yang beragam memberikan ciri khas bagi masyarakatnya yaitu memiliki wajah buas dan terbuka. Hal itu berbeda dengan kondisi wilayah pulau Jawa dan Bali yang telah berhasil menjinakkan hutan untuk kemudian dijadikan sebagai tempat tinggal dengan membangun kesatuan-kesatuan bahasa politik yang lebih besar dibandingkan dengan pulau Sumatra.  [1]
Kesultanan Aceh
Pada awalnya orang Portugis berhasil mengacau pengapalan lada India oleh perdagangan Islam ke Mesir dan Ke Barat. Di Sumatra Aceh berhasil memperluas perkebunan lada, dan menemukan pengapalan langsung lada ke pelabuhan islam di laut tengah dengan menghindari wilayah yang dikuasai oleh Portugis di pantai Barat India. Tahun 1550-an Aceh memasok separuh kebutuhan lada di Eropa.
Pada tahun 1560-an Sultan Ala’ad-din al-Kahar, mengirimkan utusannya ke raja Sulaiman dengan membawakan hadiah berupa lada. Maksud dari pengiriman utusan tersebut adalah untuk meminta bantuan kepada raja untuk menyerang melawan orang kafir yang telah merebut Malaka, dan telah menteror para pedagang islam seta jemaah haji di Samudra India.  Pengiriman utusan dari kerajaan Aceh tersebut disambut baik oleh penguasa Ottoman/Turki dengan mengirimkan ahli pembuat senjata dan prajutrit artileri dalam perang suci Aceh atas orang Batak dan Portugis. Bagi orang Belanda (1598), orang Inggris (1600), dan orang Perancis (1602), Aceh merupakan daerah yang diperebutkan oleh negara-negara tersebut karena produksi ladanya, disamping itu karena kebencian Aceh terhadap orang Portugis. Bangsa-bangsa tersebut mendapat sambutan baik dari kerajaan Aceh dengan pemberian hadiah berupa sarung dan keris. Puncak kekuasaan Aceh dicapai pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Wilayah kekuasaannya meliputi Tiku dan Pariaman di Sumatra Barat, Asahan Di Sumatra Timur, Pahang, Johor, dan Kedah di Semenanjung Malaya.
Pada tahun 1629 kerajaan Aceh banyak mengalami permasalahan yang terjadi diantaranya adalah akibat kekalahan penguasaan atas Malaka. Selain itu, rasa kecurigaan Sultan Iskandar Muda terhadap orang lain, membuatnya tidak terkendali dan pada akhirnya terjadi pembunuhan atas bawahan dan putranya. Setelah ia meninggal kemudian digantikan oleh menantunya Sultan Iskandar Thani. Setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani tahun 1641, kondisi kerajaan Aceh tidak mampu lagi membendung upaya Belanda untu menguasai wilayah tersebut. [2]
Kemunduran Kesultanan Pelabuhan
Penguasaan Aceh atas Sumatra Utara membuat berkembangnya kesultanan-kesultanan di sungai-sungai selatan. Lahan yang terbentang luas untuk penanaman lada, hal tersebut kareana permintaan lada yang tinggi dari Eropa pada abad ke-16 dan abad ke-17. Sebagaian lada ini di tanam oleh prang Minangkabau di dataran tinggi Sumatra tengah. dominasi pelabuhan-pelabuahan pedalaman Sumatra mulai menurun pada 1700, begitupun juga terjadi pada permintaan lada di pasaran Eropa setelah tahun 1650. Dengan kondisi tersebut Belanda dan Inggris saling bersaing untuk mendapatkan lada dengan harga yang lebih murah.
            Menjelang akhir abad ke-17 dan abad ke-18, kekuasaan raja bukan lagi menjadi otoritas bagi masyarakatnya. Hal itu disebabkan adanya hubungan masyarakat yang berbasis pada pemimpin-pemimpin dagang yang terdapat di pesisir yang membuka lahan untuk tujuan dagang atau untuk ditanami. Diantara para pedagang tersebut diantaranya orang Bugis, orang Arab dari Hadramaut. Sementara itu terdapat kongsi dagang yang dimiliki oleh Inggris dan Belanda. Tahun 1663 Belanda mendirikan kantor pusat permanen di Padang, sebagai akibat adanya perjanjian painan. Inggris mendirikan kantor pusat di Fort Marlborough, Bengkulu, pada tahun 1685.
Kebangkitan Kembali Perdagangan dan Islam
Dalam perkembanga ini pedagang perorangan berhasil mematahkan dominasi atas monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Belanda dan Inggris. Pedagang perorangan Inggris dan Tamil datang dari India, pedagang perorangan Inggris dan Cina datang dari pelabuhan Inggris di Penang (1786), pedagang  lada dan budak Perancis dari Mauritus, disusul oleh Reunion, dan pedagang Amerika datang dari pusat-pusat pelayaran di New England. Sejak tahun 1790 kopi merupakan tanaman baru yang menarik bagi pedagang Amerika dan pedagang lainnya. sedangkan, abad ke-18, timah di Bangka mulai ditambang pada awalnya dilakukan oleh orang Cina. [3]
Dari Darat Ke Pesisir: Arus Perpindahan
Penduduk Sumatra Pada Zaman Penjajahan
Bukti-bukti persebaran linguistik dan peninggalan-peninggalan purbakal menunjukkan pergerakan bahasa Austronesia ke Selatan dari Taiwan selama lima ribu terakhir yang dibawa oleh bangsa-bangsa yang terkenal akan pertanian dan tembikarnya. Bangsa-bangsa itu menempati daerah-daerah di dataran rendah yang subur dan didaerah pesisir. Dalam mitologi sejarah nenek moyang bangsa Indonesia tidak pernah menyebutkan tentang laut, pantai dan migrasi berangsur-angsur ke pedalaman, yaitu di daerah pegunungan. Seperti halnya orang Bali dan Nias yang mempunyai rasa tidak suka terhadap orang laut, dan kebiasaan membangun desa di puncak gunung. Pulau-pulau kecil yang mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang  maritim, sering kali menoleh ke tradisi yang lebih lama, yaitu tradisi membangun desa di tempat tertinggi di pedalaman. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tidore (Maluku Utara), yaitu mengirimkan ekspedisi kora-kora sampai ke New Guinea dan menerima uoeti dari pulau yang dikunjunginya, tetapi ibu kotanya yang pertama tidak bertempat di daerah pesisir tempat Soa sekarang.
Sepanjang sejarah tertulis, bahwa Borneo merupakan pulau yang mempunyai jumlah penduduk jarang. Daerah delta dan rawanya yang luas belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakatnya. Masayarakat yang mendiami pulau ini banyak yang berasal  dari Sulawesi Selatan, Tiongkok Selatan, Filipina Selatan, dan Jawa.  
Meskipun Borneo memiliki dataran tinggi yang relatif lebih kecil, hal tersebut tidak menjadikan sebuah alasan untuk menjadikan pulau tesebut tidak memiliki peran dalam pertanian. Orang Kelabit di Borneo Utara-Tengah Khususnya tampak sudah mahir bersawah sejak berabad-abad yang lalu di lembah-lembah aluvial. Orang Kayan dan orang Kenyah yang jumlahnya lebih besar berperan dalam petani ladang yang berada di hulu-hulu sungai timur dan barat Borneo. Penduduk terpadat Borneo pada masa pra-kolonial berada di Hulu Sungai Barito di atas Banjarmasin. Penduduk tersebut hidup dengan memanfaatkan sungai-sungai yang melngalir dari pegunungan meratus. Orang Banjar yang menempati wilayah ini barangkali mewakili hampir separuh dari seluruh penduduk Borneo pada awal abad ke-18. [4]
Hubungan dengan Cina
Hubungan yang terjalin antara Aceh dengan Turi Ottoman sudah terjalin sejak lama. Hal itu dapat kita temukan dari tulisan karya orang barat seperti Couto dan Pinto yang berasal dari Portugal.  Bagi orang Indonesia dan Malaysia raja Rum yang merupakan salah satu raja terbesar dalam sejarah dunia pada abad ke-16 mengacu kepada Sultan Ottoman. Namun, sebelulum kebangkitan Ottoman, Persia dan Turki menggunakan kata Rum untuk mengacu pada Byzantine, kadang pula digunakan untuk kekaisaran Romawi.
            Tradisi yang berkembang di masyarakat Sumatra dan Malaya, banyak mengaitkan raja Rum, raja besar dari Barat, denga raja besar Cina, raja besar dari Timur. Hal itu dijelaskan dalam mitologi asal-usul Johar. Dalam mitologi tersebut menceritakan bahwa raja Iskandar Dzul Karnain memiliki tiga putra. Dari ketiga putra tersebut kemudian timbullah peperangan di Selat Singapura. Setelah pertandingan itu selesai ketiga putra tersebut menyebar di berbagai wilayah. Putra pertama kemudian pergi ke arah Barat untuk menjadi Raja Rum, putra kedua pergi ke arah Timur untuk menjadi raja Cina, dan putra ketiga tetap berada di Johor untuk kemudian mendirikan dinasti Minangkabau.
            Saat Turki Ottoman muncul sebagai kekuatan baru di wilayah Samudra India, kerajaan tersebut menjadi fokus dariwarisan besar  tradisi mengenai sebuah kerajaan besar di Barat. Hubungan antara Aceh dengan Turki terdapat dalam catatan Aceh pada abad ke-16 yaitu Bustanu’s-Salatin, yang ditulis di Ibukota Aceh oleh orang Gujarat, Nuruddin. Hubungan Aceh dengan Turki di mulai ketika masa pemerintahan Sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar (1539-1571). Dialah yang mencetuskan tata pemerintahan Aceh Darussalam, dan mengirimkan utusan ke kerajaan Istanbul. Dalam hikayat Meukota Alam di ceritakan bahwa Sultan Iskandar Muda mengirimkan utusan ke Istanbul. Utusan itu membawa uang untuk mendukung tempat-tempat suci seperti perawatan Mekkah dan Madinah. Selain itu Sultan Iskandar Muda juga mengirimkan tiga kapal yang berisi dengan beras dan lada. Dalam perjalanan menuju Turki, para awak kapal mengalami musibah yang membuat mereka sampai ke tujuan dalam waktu tiga tahun. Dengan lamanya waktu tersebut barang bawaan yang seharusnya akan di berikan kepada raja Rum, kemudian di habiskan oleh awak kapal untuk bertahan hidup. Setelah sampai mereka justru disambut baik oleh Raja Rum. Ia juga mengirim dua belas panglima perang ke Aceh. Menurut Snouch Hurgronje, Sultan Ottoman membebaskan upeti yang harus dibayarkan kerajaan Aceh setiap tahunnya. Sebagai gantinya Orang Aceh harus merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad.
Dalam versi lain yang dikemukakan oleh Saffet menyatakan bahwa khalifah Turki memiliki wewenang dalam keagamaan di Aceh, diantaranya adalah dengan mengirimkan khotbah yang harus dibacakan setiap hari Jumat di masjid Raya Aceh. Dengan adanya hubungan tersebut maka ketika Aceh di serang oleh Belanda, maka Aceh tidak segan untuk meminta bantuan dari kerajaan Ottoman untuk menghadapi Belanda. [5]
Aceh muncul sebagai kerajaan yang kuat berkat penaklukan di beberapa wilayah yang dilakukan oleh Sultan Ali Mughayat Shah (1516-1530). Penaklukan tersebut berhasil mengusir Portugis dan menancapkan pengaruhnya atas wilayah Sumatra Utara. Kekuatan Aceh pada saat itu ditopang oleh adanya senjata hasil rampasan dari Portugis, dan dari pedagang-pedagang Islam yang berada di Pasai dan Pidie. Menurut M.A.P. Meilink Roelofsz, untuk pertama kali pengapalan lada Aceh tercatat ke Laut Merah dan menjadi latar belakang bagi ekspansi baru menjelang tahun 1530-an. Pusat pelayaran Islam berada di Pasai, daerah kekuasaan adik sultan yang bernama Ala’ad-din. Pasai merupakan daerah penghasil lada selain dari Pidie. Dalam sebuah perjanjian Aceh menghadiahkan sebuah pabrik untuk Turki yang berada di Pasai tahun 1540-an.
Menurut Pinto, lawan utama dari kerajaan Aceh menjelang akhir 1530-an adalah kerajaan Batak dengan pusat kekuasaannya berada di sekitar sungai Singkil. Peperangan pertama antara Aceh dengan Batak menghasilkan suatu perjanjian damai yang menguntungkan orang Batak. Dalam perang tersebut Batak meminta bantuan Malaka, sementara Aceh mendapat bantuan dari Turki. Kekalahan ekspedisi tahun 1538 dan karena ketidakberdayaan dalam mengendalikan kerajaan vassalnya menyebabkan Sultan Sulaiman Yang Agung, mengambil keputusan untuk memusatkan perhatian ke Eropa.
Kedatangan prajurit dan persenjataan Turki memungkinkan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahaer untuk mengalahkan orang Batak, untuk kemudian setelah itu menyerang Aru, kerajaan yang berada di timur laut Sumatra. Tahun 1540 orang Aceh di usir dari Aru oleh kekuatan gabungan Melayu dari Johor, Riau, Siak, Perak yang dipimpin oleh Sultan Johor. Dalam pertempuran tersebut pasukan elit Turki berhasil dikalahkan. Pada tahun 1550 Johor membentuk koalisi dengan Jepara yang merupakan musuh dari Portugis dalam perdagangan di Maluku. Aceh kemudian muncul kembali dengan kekuatan baru tahun 1560-an. Aceh membuka perkebunan-perkebunan lada dan kayu yang baru di Tiku, Pariaman, dan Indrapuri di Pantai Barat Sumatra yang berada di bawah kendali Aceh. Pedagang dari Jepara dan Banda telah mengikis kendali Portugis atas perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Dalam sumber Venesia mengatakan bahwa adanya persekutuan militer antara Aceh dengan Turki. Duta besar Venesia untuk Konstantinopel melaporkan bahwa pada Juni 1562 seorang duta besar Aceh berada di kota itu untuk memohon artileri untuk menyerang orang Portugis. Tahun 1564, Turki mengirimkan senjata awak meriam ke Aceh. Sumber-sumber Turki mencakup sebuah petisi pada Januari 1566, dari sultan Aceh Ala’ad-din yang di tujukan kepada Sultan Sulaiman. Dalam petisi tersebut berisi ucapan terimakasih atas kedatangan juru tembak Turki untuk mengamankan jemaah haji dan pedagang islam yang diganggu oleh Portugis dalam perjalanan menuju Hejaz.
Aceh mengirimkan Husain ke Turki untuk meminta bantuan dalam menyerang Portugis yang telah menyerang orang islam di Calicut dan Ceylon. Utusan tersebut sampai ketika Sultan Suleiman di gantikan oleh Selim II. Selim II kemudian memerintahkan Gubernur untuk membangun terusan antara Laut Tengah dan Laut Merah. Namun, tahun 1568 Selim menulis suat permintaan maaf kepada Husain. Ekspedisi Sumatra itu terpaksa di tangguhkan karena adanya pemberontakan di Yaman, dan Armada Kurtoglu Hizir diperintahkan untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Pemberontakan dapat di selesaikan oleh Sinai Pasha tahun 1571. [6]
Bantuan Turki kepada Aceh tahun 1563 untuk membantu Aceh menyerang Aru dan Johor, telah mendorong serangan berikutnya dengan sasaran lain yaitu Malaka. Menurut sumber Jesuit, di Aceh terdapat duta besar Turki ketika kapal Portugis tiba di Malaka untuk berdagang pada tahun 1565. Adanya intervensi Turki Ottoman mengakibatkan hubungan Malaka dengan Aceh saling bermusuhan. Hal itu terjadi ketika orang Portugis dihadapkan pada pilihan untuk memeluk islam atau mati kafir. Sedangkan menurut Coute selama serangan Januari – Februari 1568 pasukan aceh dibantu sekitar 400 prajurit Turki, dan bantuan lain yang berasal dari Japara dan Calicut.
Dari tahun 1562-1562 Aceh telah mengirimkan utusan ke Konstantinopel untuk mendapatkan pembekalan dan prajurit, serta untuk membangkitkan kembali semangat Sultan Ottoman pada operasi yang lebih besar. Kematian Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar pada 1571 membuat rasa takut yang dialami oleh kerajaan tetangganya semakin berkurang. Sementara itu sebagai penggantinya adalah Ali Riayat Shah (1571-1578), yang mempunyai ambisi untuk mengajak Johor bersekutu untuk melawan orang kafir. Tahun 1573 Aceh mendapatkan bantuan dari Ratu Japara untuk melakukan serangan atas Malaka. Persekutuan Johor dengan Aceh semakin berkembang selama masa pemerintahan sultan Ali Riayat Shah. Persekutuan itu diperkokoh dengan perkawinan antar-istana kedua kesultanan tersebut.
Selama dua dekade dari tahun 1560 hingga tahun 1580 merupakan titik puncak kejayaan militer islam di Asia Tenggara. Dalam periode ini Portugis selalu berada pada posisi bertahan, sementara itu Aceh mendomonasi selat Malaka, denngan dukungan dari Japara dan Johor. Pedagang islam dari Japara, Gresik, Ternate dan kepulauan Banda mendomonasi di kepulauan timur. Kekuatan-kekuatan islam di Asia Tenggara menunjukkan minat pada cita-cita pan-islam seperti Aceh, Jepara, Ternate, Gresik, dan sampai pada Johor.
Periode melemahnya kerajaan Aceh mulai terjadi setelah wafatnya sultan Ali Riayat Shah pada Juni 1578. Sultan yang menggantikannya tidak cakap dalam memimpin yang mengakibatkan persebutuan dengan Johor semakin renggang dan terjadi kembali perag diantara keduanya tahun 1582. Meski hubungan politik Aceh dengan Turki hampir seluruhnya putus pada  tahun 1580, Aceh tetap mempertahankan pengaruh Turki. Hal itu dapat dilihat dalam bidang kemiliteran. Taktik militer Aceh, teknik militer dan artileri yang terkenal selama pelatihan yang diberikan Turki. Dari sisi budaya, Aceh tetap mempertahankan hubungan yang erta dengan negara-negara Islam di Barat. Tahun 1570 catatan sejarah dipenuhi dengan nama-nama ahli teologi dari Mesir, Hejaz, Yaman, dan Gujarat yang datang ke Aceh untuk mengajar. Banyak surat diplomatik Aceh yang ditulis dengan berbahasa arab pada awal abad ke-17, termasuk surat yang dikirim kepada rau Elizabeth melalui Lancaster. [7]
Perdagangan dan Masalah Kekuasaan
Raja Aceh: Tiga Tahap, Sekitar 1550-1700.
Antara sekitar awal abad ke-15 dan pertengahan abad ke-17 berkembang jaringan perdagangan di Asia Selatan, yang terbentang dari laut merah di barat hingga ke Kanton dan mencakup sebagian besar dunia Melayu Maritim.
            Monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Belanda terjadi pada abad ke-17, yang di dukung oleh perdagangan setempat yang dilakukan oleh orang Cina, dan sebaliknya membawa dampak bagi stimulus dagang yang diberikan oleh pedagang Gujarat, Malabari, Coromandel, Arab, Portugis, dan Cina pada abad ke-15 dan abad ke-16. Demikian pula yang terjadi di Asia Tenggara lebih dari sekadar korban pasif dari proses ini.
Warisan Sejarah di Sumatra Utara
Dalam hal ini terdapat ciri khas yang dimiliki oleh daerah Sumatra Utara seperti:
1.      Sebelum 1520 pantai Sumatra Utara terdiri dari sejumlah kerajaan, pelabuhan yang berdiri sendiri-sendiri. dalam hal ini diantara kerajaan-kerajaan yang ada tidak adanya pengakuan tunduk atau menjadi vassal dari kerajaan yang lain. Marco Polo memberikan gambaran mengenai wilayah ini pada tahun 1292. Menurutnya wilayah Sumatra terdiri dari delapan kerajaan, dan delapan raja dari kerajaan memiliki bahasa sendiri. pasai dan pidie berkembang pesat dalam bidang perdagangan dan kebudayaan, kerajaan-kerajaan lain seperti Lamri yang kelak menjadi Aceh, merupakan kerjaan yang terlibat konflik dengan penduduk di pedalaman.
2.      Kerajaan-kerajaan di Sumatra Utara sebelum Aceh, konsep akibat adanya pengaruh dari India mengenai kerajaan tidak begitu berpengaruh jika dibandingkan dengan pengaruh India yang terjadi di wilayah Sumatra  Selatan/Tengah maupun di pulau Jawa. Orang Sumatra Utara dikenal dengan sikapnya yang skeptis mengenai kerajaan.
3.      Lembah sungai Aceh yang dikenal dengan Aceh Besar pada tahun 1520, bukan merupakan sumber penting untuk barang ekspor seperti lada, dan pinang ditanam di pantai utara. Lada, kapur barus, emas dan barang ekspor lainnya datang dari pelabuahn pantai barat, sementara itu timah diekspor dari Perak. Kebijakan Aceh mempunyai tujuan untuk mendominasi politik, mamastikan hasil dari wilayah tersebut tidak jatuh ke tangan Portugis dan menyalurkan perdagangan luar megeri ke ibu kota wilayah tersebut.
Tahap I: Orangkaya hingga 1589
 Jasa yang besar telah ditorehkan oleh sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah al-Kahar untuk menjaga persatuan kerajaan yang terbentuk dari berbagai suku bangsa dan tradisi yang berbeda pula. Ia berhasil menaklukkan Aru di pantai timur dan Pariaman di pantai barat, untuk itu ia kemudian menempatkan putra-putranya di wilayah tersebut. Selain itu, ia juga menjalin hubungan dengan Turki.
      Sumber Portugis menyebutkan bahwa, pengiriman lada dan rempah-rempah dari Aceh ke Laut Merah memainkan peran penting. Perdagangan ini mencapai puncaknya pada 1560-an, yaitu dari adanya laporan tentang kedatangan 1.800 kuintal lada dan 3.000 kuintal rempah-rempah di Jeddah tahun 1564, yang dibawa oleh 23 kapal milik orang Islam. Dalam keterangan lebih lanjut, orang Portugis menyatakan bahwa orang-orang Acehlah yang sering melakukan perdagangan dan pelayaran.
      Setelah Kahar dan putranya wafat, pemuka-pemuka masyarakat terkuat di ibu kota berhasil menancapkan dominasi penuh atas kerajaan. lima penguasa kerajaan berhasil ditumbangkan dalam waktu sepuluh tahun tanpa adanya kecaman yang terjadi pada abad ke-17.  Dalam Hikayat Atjeh mengiuraikan tentang keputusan “semua raja dan Hulubalang”. Untuk mengkudeta raja dan kemudaian mengangkat penggantinya.
      Sumber-sumber Barat menjadi sumber yang rinci untuk menjelaskan tokoh-tokoh besar dalam kerajaan dengan sebutan orangkaya. Sumber Melayau menggunakan sebutan orangkaya sebagai gelar pejabat tinggi kerajaan. Berbeda halnya dengan penyebutan orangkaya dari pengunjung Eropa yang mengacu pada kelas masyarakat tertinggi-bangsawan, orang istana, dan pejabat tinggi. Orangkaya ltersebut menurut Francois Martin membedakan dirinya dengan memanjangkan kuku ibu jari dan kelingking. Best dan Beaulieu diberi gelar dan kedudukan orangkaya putih, yang memberi mereka hak istimewa bebas keluar masuk istana.   [8]
Tahap 2: (1589-1636): Kekuasaan Raja Mutlak
Setelah dua pemerintahan berturut-turut, raja diangkat oleh orangkaya-orangkaya , dinasti Aceh berhasil mendapatkan kekusaannya kembali pada tahun 1589, dengan pegangkatan sultan Ala’ad-din Ri’ayat Shah Sayyid al-Mukammil (1589-1604). Sultan ini merupakan keturunan dari dinasti Dar alkamal yang berkuasa di lembah sungai Aceh. Menurut Beaulieu, kadi (uskup Agung) merupakan pendukung yang setia. Terdapat kadi yang pernah berkuasa yaitu Sheikh Shamsud-din. Dalam Hikayat Atjeh yang ditulis untuk anak cucunya dan anak didik Iskandar Muda, memuji keadilan dan kemakmuran di dalam kerajaannya.
      Setelah Sultan Ala’Ad-din wafat, ia digantikan oleh anak didiknya Iskandar Muda (1607-1636). Dibawah pemerintahan sultan Iskandar Muda kebijakan mutkak diambilnya dalam menjalankan pemerintahan terbilang sukses. Serangkaian kemenangan militer di Sumatra Timur dan Malaya untuk memonopoli produksi ekspor wilayah itu dan menghancurkan pesaing utamanya. Pengawasan yang ketat di terapkan di Sumatra Barat sebagai pusat produksi lada, dengan panglima Aceh yang diganti setiap tiga tahun sekali. Pedagang asing dipaksa untuk memenuhi persyarakat yang sudah ditentuklan oleh sultan sebelum mereka berdagang  di pelabuahan yang lain.
      Di Aceh, Sulatan Iskandar Muda memegang kendi yang penuh atas pemerintahan. Pasukan permanennya adalah pasukan kerajaan yang terdiri atas hamba raja/biduanda yang berjumlah sekitar 500 orang. Pasukan yang lebih besar dibentuk bila diperlukan melalui orangkaya, setiap kelompok prajurit ditempatkan dibawah tanggung jawab orangkaya. Setiap orangkaya memiliki wilayah kekuasaannya dengan penduduk yang berada di bawah hukum mereka. Hal ini bertujuan untuk memastikan tersedianya pasukan untuk peperangan-peperangan Iskandar Muda yang terus berlangsung. Orangkaya yang terdapat dalam kerajaan merupakan cikal bakal dari adanya uleebalang/hulubalang. Orangkaya dalam pemerintahan .yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda mendapatkan pengawasan yang ketat. Setipa orangkaya dibebani tugas yang jaga istana dengan tidak memakai senjata. Tugas itu dilaksanakan setiap malam ketiga.
      Iskandar Muda membukukan hukum dan membangun sistem peradilan yang kompleks. Nama Iskandar Muda dikenal dengan bapak legendari daulat hukum. Berdasarkan teks ndari Drewes dan Voor hoeve mengatakan hukum yang dibukukan itu berasal dari instruksi Iskandar Muda kepada orangkaya Sri Maharaja Lela. Tedapat empat lembaga peradilan pertama, lembaga untuk menyelesaikan utang piutang yang diketuai, kedua pengadilan pidana dibawah orangkaya, ketiga pengadilan agama  dibawah kadi, dan pengadilan di Alfandegue, dibawah orangkaya laksamana.
      Tata pemerintahan yang diterakpan oleh Sultan Iskandar Muda, membutuhkan jumlah pejabat yang lebih besar. Peojavat yang paling berkuasa adalah orangkaya Laksamana, orangkaya Maharaja Sri Maharaja/perdana menteri, empat Syahbandar yang ditugasi untuk mengurus administasi perdagangan, sejumlah kerukun yang bertugas di pengadilan, empat penghulu kawul yang bertugas melakukan patroli di kota.
      Kelemahan sistem pemerintahan yang diterapkan oleh Sultan Iskandar Muda adalah ketidaksesuaian absolutisme dengan perusahaan swasta. Pedagang asing sering mengeluhkan tuntutan-tuntutan sultan kepada mereka. Sulatn Iskandar Muda tampaknya menarik sebanyak mungkin pedagang setempat kedalam kekuasaannya sehingga ia dapat memonopoli atas orang asing. Sekitar tahun 1616 ia berhasil membawa sebagian besar lada pantai barat ke ibukota dengan kapal-kapalnya sendiri, dan menyisihkan pedagang setempat yang menjalankan fungsi tersebut sebelumnya. kepentingan yang besar dalam perdagangan membuat Sultan Iskandar Muda tidak lagi toleran dengan perusahaan dagang dalam negeri.
      Tradisi Aceh sebagaimana yang tercermin dalam catatan sejarah Melayu dan Aceh, menempatkan Sulatan Iskandar Muda di puncak kejayaan. Namun disisi lain orang asing yag bergerak dalam kalangan pedagang dan pejabat ibukota meragukan lagi betapa besar ketakutan yangn mereka alami. Beaulieu menekankan seringnya Sultan Iskandar Muda membunuh orangkaya untuk menyita harta bendanya. Ada dua sebab orangkaya kehilangan nyawa, yaitu reputasi yang baik mereka di hadapan penduduk, dan harta benda mereka.

Tahap 3:Pudarnya Kerajaan;Naiknya Tiga Sagi
Kekuasaan Aceh berangsur-angsur mulai melemah setelah kekalahan yang dialamai Pasukan Iskandar Muda di Malaka tahun 1629. Lemahnya kemampuan dan wewenang raja sesudah meninggalnay Sultan Iskandar Muda, dan meningkatnya kekuatan dagang Belanda yang berhasil menaklukkan Malaka tahun 1641. Berdasarkan sumber asing dan catatan sejarah menyebutkan bahwa gaya pemerintahan Iskandar Thani (1636-1641), dan Ratu Taj al-Alam (1641-1675), yang bersifat lebih lunak dan kemakmuran ibukota berada dibawah mereka.
      Karena itu tidak mengherankan jika orangkaya memutuskan untuk meneruskan sistem itu dengan mendudukkan kembali diatas tahta tiga ratu berturut-turut setelah Taj al-Alam wafat pada 1675. Namaun, ketiga ratu baru ini tidak memiliki status seperti status yang pernah dinikmati putri dari seorang raja paling berkuasa dan janda dari yang lain. Setiap ratu baru, kekuasaan dijalankan oleh orangkaya terkemuka. Sementara pejabat-pedagang membangun sebuah tata pemerintahan yang sesuai di ibukota, sebuah kekuatan baru yang besar sedang  muncul di pedalaman pertanian.
Ada tingkatan susunan supra-desa pada abad ke-18 dan abad ke-19 di Aceh besar: mukmin, kelompok mukmin dibawah uleebalang, dan sagi. Sebab-sebab ,munculnya kekuatan politik baru ini dipedalaman Aceh besar sebagian adalah faktor ekonomi. Ancaman politik dari 22 mukmin, yang telah terlihat gejalanya oleh Bowrey pada 1675, semakin besar pada 1688 ketika ratu keempat, Kamalat Syah dinobatkan. Kedua belas “pengawal” tahta Aceh, yang terdiri dari empat Uleebalang dari setiap sagi, tamoaknya sudah menancapkan kuku kekuasaan mereka. [9]
Gajah dan Air dalam Perhelatan Kerajaan di Aceh Abad Ke-17
Dalam Adat Aceh, atau kisah-kisah dari para pedagang dan duta besar yang berkunjung ke Kesultanan Aceh ketika Aceh sedang jaya-jayanya, hampir tidak dipercaya betapa banyak waktu dan tenaga kerajaan yang digunakan untuk menyelenggarakan arak-arakan pertunjukkan, dan hiburan kerajaan. Dalam paruh pertama abad ke-17, Aceh merupakan salah satu kota pantai terkaya di Asia. Duta besar dan pedagang datang ke Aceh dari Siam, Bnaten, Pegu, (Burma), Moghul (India), Golconda (India Selatan), Persia, Inggris, Belanda dan Perancis.
      Di Siam dan Burma arak-arakan ayng paling besar adalah arak-arakan di sungai, yang melibatkan beratus-ratus perahu megah berhias yang membawa para pembesar setempat dan utusan-utusan dari negeri asing ke istana. Di pihak lain, di Malaya dan Sumatra, iringiringan gajah-gajah adalah lambang martabat dan kehormatan di seluruh Asia Tenggara ayng digunakan istana untuk arak-arakan memnbawa tamu-tamu penting ke istana dengan menggunakan gajah. Hal seperti ini juga ditemukan pula di pantai Patani pada awal abad ke-17. Pada tahun 1630-an dan 1640-an, gajah merupakan lambang keagungan bagi raja-raja Aceh dan raja-raja Siam.
Perkawinan dan Pemakaman Kerajaan
Di dalam kerajaan terdapat upacara transisi penting untuk anggota keluarga kerajaan, seperti upacara perkawinan, sunat, kdan penobatan.perhelatan pada 1765 ketika raja Ismail dari Johor menikah dengan seorang putri dari Trengganu “berlangsung selama tiga bulan, menyuguhkan hiburan-hiburan seperti wayang dan mendora”. Catatan istana Aceh menyebutkan sejumlah pernikahan yang megah, terutama pernikahan yang penting untuk legitimasi anggota kerajaan. Dalam Hikayat Aceh, pertunangan dan pernikahan orang tua sultan Iskandar Muda paling banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat.
      Upacara pemakaman yang dilakukan untuk memakamkan Sultan Iskandar Thani yang wafat pada Februari 1641 dilakukan secara megah. Hal itu dilakukan dengan iringan-iringan pemkaman yang terdiri atas barisan para pangeran, Bangsawan, Pejabat Tinggi, dan 260 ekor Gajah, semua berselimut kain sutra yang mahal, kain emas, dan kain bersulam.
Idul Adh
Perayaan hari besar islam Idul Adh, dilakukan dengan arak-arakan yang besar dan megah dengan rute dari istana ke Masjid Bait ur-Rahman. Adat Aceh berisi daftar 30 kelompok yang ikut dalam perayaan tersebut. Sultan menunggang Gajah kerajaan, Lela Manikam termasuk ke dalam kelompok 24.


Perayaan Bulan Puasa
Perayaan sebelum dan sesudah bulan puasa dilakukan dalam kerajaan Aceh, awal dan akhir bulan puasa dilakukan dengan melihat bulan, seperti yang ditetapkan oleh kaum Shafi’i. Hal yang penting dalam upacara ini adalah upacara yang dilakukan pada awal puasa dan idul fitri seperti iring-iringan ke istana dan ke masjid, hadiah yang diberikan kepada sultan sebagai tanda kesetiaan, bunyi-bunyian yang gegap gempita berupa tembakan senjata yang dilakukan di sekitar istana.
Sembahyang Jumat
Iring-iringan ke masjid tampaknya sudah menjadi kegiatan rutin dan para pedagang Inggris diberitahukan untuk mengikuti acara tersebut pada hari Jumat, 2 Juli 1613. Sulit dipercaya bahwa sekitar 5.000 prajurit dikerahkan setiap minggu sepanjang tahununtuk melakukan arak-arakan, tetapi berdasarkan pernyataan dari Croft mengenai dua acara Jumat berturut-turut (26 Juni dan 2 Juli)dapat disimpulkan bahwa pada masa itu arak-arakan semacam itu merupakan kegiatan yang rutin dilakukan setiap minggu.
Adu Bintang
Adu Bintang merupakan pertunjukkan yang diadakan oleh istana kerajaan Aceh bagi rakyat menjelang akhir abad ke-16 dan abad ke-17. Berdasarkan Hikayat Aceh menjelaskan bahwa sulatan selalu keluar untuk melakukan kesenangannay mengadu Gajah liar dengan gajah jinak, dan akibatnya banyak orang mati akibat terkena tusuk gading gajah. Selain itu kerbau, sapi dan biri-biri disuruh berlaga satu sama lain. Pada abad ke-17 tamapaknya adu binatang sudah digantikan dengan adu manusia. Motif utama adu binatang berkaitan denan perang dan lambang kemenangan bagi raja. Karena gajah dianggap bagian penting dari kekuatan pasukan Aceh. Peperangan gajah dilakukan dengan maksud untuk melatih kekuatan gajah dan melatih gajah dengan pawangnya.
Pesta Air
Mandi Safar atau u pacara bersih diri di dunia kepulauan Aceh tidak kalah menarik menyenagkan dari acara perang air pada tahun baru di daratan Asia Tenggara. Sultan-sultan Malaka pada abad ke-15 mandi di kolam dari batu pualam dengan air yang dialirkan dari mata air yang mungkin sama dengan pola pesta air di Aceh di kemudian hari. Sultan Iskandar Muda sering juga mengadakan pesta-pesta air semacam itu, dan kemungkinan ia sering pergi ke Mata le [cf. Melayu Mata ayer], tempat nyaman yang berada  8 km ke barat daya dari dalam tempat air jernih sungai Krueng Daroy mengalir dua mata air di kaki  sebuah bukit. [10]
Peralihan dari Otokrasi (ditulis bersama Takeshi Ito)
Peralihan Asia Tenggara
Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 sejumlah kerajaan kuat dan berpusat di ibukota membuat kagum para pengamat Eropa-Burma dibawah raja Bayinnaung (1551-1581) dan raja Anaukhpetlun (1606-1629), Ayutthaya (Siam) dibawah raja Songtham dan raja Prasat Thong (1610-1656), Mataram (Jawa) dibawah Sultan Agung dan Amangkurat I (1616-1677), Aceh dibawah sultan Iskandar Muda (1589-1636).
      Ciri utama kerajaan-kerajaan otokratik (pumusatan kekuasaan mutlak dalam tangan satu penguasa) sbb:
1.      Pasukan yang sangat besar denga pengerahan bagian seluruh tenaga manusia. Terdapat pasukan kecil tetap sebagai pengawal istana, serdadu asing bayaran, dsb. Kendali senjata api yang ketat oleh kerajaan, dan banyak tawana perang akibat perang.
2.      Pedagang internasional terpusat pada satu pelabuhan di bawah kekuasaan raja. Penghasilan raja sebagian besar bergantung pada pelabuhan, termasuk sektor perdagangan yang lebih besar yang dimiliki oleh raja.
3.      Kewajiabn mengabdi di istana kerajaan bagi bangsawan.
4.      Mulai ada tatanan birokrasi dalam pemerintahan, pejabat diangkat secara berkala, tidak turun temurun.
5.      Kodifikasi hukum dan pelembagaan struktur hukum, umunya berdasar model India atau Islam sebagai dasa legitimasi bagi pemusatan wewenang menyusun undang-undang dalam tangan istana.
6.      Pengembangan budaya kosmopolitan perkotaan, yang mendominasi pedesaan dan menjadi model budaya bagi periode-periode berikutnya.
Senjata yang paling awal diperkenalkan sebagai alat perang di Asia Tenggara adalah meriam. Pada abad ke-16 dan abad ke-17, merima pada umumnya diperagakan kepada, dibeli oleh atau dibuat semata-mata untuk raja. Perbedaan-perbedaan sosial antara Eropa dan Asia Tenggara cukup jelas sehingga siapa saja akan berhati-hati menggunakan cap “feodal” pada sistem politik. meski beberapa gambaran klasik dari ciri-ciri kunci feodalisme dapat diterapkan kepada Aceh dan masyarakat Asia Tenggara yang lainnya pada abad ke-18, ada beberapa ciri penting Asia Tenggara yang tetap berbeda. [11]








[1] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 1-2.
[2] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 6-9.

[3] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 10-11.

[4] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 40-42.
[5] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 68-72.

[6] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 73-79.
[7] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 82-87.
[8] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 92-97.

[9] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 98-107.


[10] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 110-1130.

[11] Reid, Anthony.2011.Menuju Sejarah Sumatra Antara Indonesia dan Dunia.Jakarta:Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 130-145.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar