Hubungan perdagangan indonesia dengan india
Kepulauan
indonesia terletak antara 5 o 54’ lintang utara dan 11o
lintang selatan, serta 95o 01’ bujur timur dan 141o 02’
bujur timur, letak indonesia yang di garis khatulistiwa menyebabkan indonesia
memilikli dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, adanya dua musim dalam
gejala tetap dalam iklimindonesia berpengaruh pada berbagai aspek dalam
kehidupan penduduk kepulauan indonesia, misalnya pada pola pertanian, pelayaran
dan aspek-aspek lain yang dipengaruhi oleh iklim, angin musim jelas berpengaruh
pada pola pelayaran dan pada gilirannya itu berpenagruh pada pelayaran
perdaganagn dari dan ke indonesia,
Nusantar
merupakan sebuah wilayah yang terdiri dari daratan yang terbagi kedalam
pulau-pulau baik itu pulau besar maupaun yang kecil dan dikelilingi oleh lautan
yang luas yang menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lainnya.
Nusantara yang sekarang ini kita lebih mengenalnya dengan sebutan Indonesia
dahulu merupakan sebuah wilayah yang
terdiri dari beberapa kerajaan yang mana dalam prosesnya kerajaan-kerajaan
tersebut saling tumbuh dan hancur karena
pertikaian politik diantara kerajaan tersebut. Dengan jumlah pulau-pulau yang
mencapai lebih dari seribu pulau, maka dahulu masayarakat setempat dalam
perekonomiannya bergantng pada transportasi air untuk saling bertukar kooditi
yang di perdagangkan. Dalam hal ini masyarakat nusantara sudah melakukan
kerjasama dalam hal bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan agama dengan
para pedagang yang singgah dan menjajakan dagangannya di nusantara ini. diantara bangsa-bangsa tersebut adalah cina
dan india yang mana diantara kedua negara tersebut memiliki hubungan yang erat
dengan kerajaan-kerajaan pada zamannnya.
![]()
Letak indonesia yang
diantara daratan asia dan benua australia menjadikan indonesia sebagai jalur
perdaganagn antara dua pusat perdagangan jaman kuna yaitu india dan cina. Hal
tersebut tentu menjadi suatu keuntungan yang dimiliki oleh indonesia dimana
para pedagang yang hendak menjajakan barang dagangannya dari india ke cina
maupun sebaliknya akan singgah ke kepulauan indonesia untuk singgah dan
kemudian melanjutkan perjalanannya kemudian. Dalam perkembangan selanjutnya
hubungan perdagangan yang terjalin antara indonesia dengan india semakin intensif
terjadi, dimana sebelumnya indonesia hanya dijakdikan sebagai tempat persinggahan
para pedagang dari india hanya untuk sekedar menetap dan berdagang sambil
menunggu angin musim yang hendak membawanya ke arah tujuan.
Menurut J.C Van leur dan O.W. Wolters berpendapat bahwa
hubungan dagang antara india dan indonesia lebih dahulu berkembang dari pada
hubungan dagang antara indonesia dan Cina. Sedangkan para ahli berpendapat
bahwa hubungan dagamg antara india dan kepulauan indonesia telah lama terjadi sebelum hal
tersebut disinggung dalam catatan sejarah. Hubungan tersebut pada awalnya
sangat jarang terjadi tetapi dalam perkembangannnya semakin meningkat karena
faktor-faktor yang mendorong bertambah ramainya hubungan dagang tersebut serta
sudah diketahuinya angin musim yang baik untuk berlayar menyeberangi samudera
india ke Timur dan juga sebaliknya. Dalam Penelitian sejarah dan etnografi
dapat kita ketahuai bahwa penduduk Asia Tenggara, khususnya penduduk kepulauan
Indoonesia, adalah pelaut-pelaut yang mampu melayari samudera lepas. Penyebaran
perahu bercadik yang meliputi Polinesia sampai ke Hawaii di Timur, dan Madagaskar
di barat menunjukkan penyebaran pada budaya yang sesuia dengan hasil penelitian
bahasan Kern pada tahun 1886.
Dengan hasil penelitia yang dilakukana oleh Kern maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
bukanlah suatu yang mustahil bagi masyarakat kepulauan indonesia untuk berlayar
ke teluk Benggala, dan mungkin juga sampai ke India Selatan. Meskipun demikian
para sejarawan masih kesulitan dalam mengetahuai keadaaan awal hubungan
indonesia dengan india dikarenakan terbatasnya sumber-sumber yang memberikan
keterangan yang jelas. Sumber-sumber tertulis yang berasal dari indonesia tidak
ditemukan karena justru tulisan yang berasala dari indonesia adalah berasala
dari tulisan di india. Hal tersebut di persulit lagi karena tidak adanya
kebiasaan dari masyarakat india untuk membuat catatan-cataatn resmi mengenai
kejadian-kejadian penting dalam suatu kurun waktu tertentu. Sumber dari india
yang dapat digunakan adalah sumber sastra. Salah satu karya sastra yang
digunakan untuk mendapat fakta-fakta sejarah mengenai hubungan antar indonesia
dan india adalah kitab jataka yaitu itab yang memuat kisah-kisah tentang
kehidupan sang buddha ini menyebut suvarnabhumi sebagai suatu negeri yang
memerlukan perjalanan yang penuh bahaya untuk mencapainya.
Dalam kitab ramayana yang didalamnya menyebut nama
yawadwipa yang dihias oleh tujuh kerajaan. Pulau ini adalah pulau emas dan
perak. Disamping itu dalam kitab ini juga menyebutkan nama suwarnadwipa sebuah
namay yang digunakan untuk menyebut pulau Sumatera yang berarti pulau emas.
Adanya nama yawadwipa dan suwarnadwipa dalam kitab-kitab tersebut menyebabakan
beberapa ahli bertumpu pada kitab-kitab tersebut guna mengungkap masa awal
kedatangan pengaruh india di indonesia. Dalam usaha untuk mengetahui awal
hubungan india dengan daerah-daerah di sebelah timurnya, para peneliti telah
pula mengkaji sumber-sumber barat jaman kuna. Sebuah kitab yang banyak dikaji
sebagai sumber adalah kitab periplous tes Erythras thalasses. Periplous adalah
sebuah kitab pedoman untuk berlayar di lautan erytharasa, yaitu samudera India.
Kitab ini ditulis oleh seorang nahkoda yunani-mesir yang biasa mengadakan
pelayaran antara asia barat dan india. Di perkirakan bahwa kitab ini ditulis
pada awal tarikh masehi.
Sumber-sumber yang telah disebutkan diatas baik sumber
yang berasal dari india maupun yang berasal dari sumber barat, belum dapat
mengungkapkan awal hubungan antara india dengan indonesia sepenuhnya. Tetapi
agaknya dapat kita mengambil kesimpulan bahwa di sekitar abad II M, hubungan tersebut
relatif lebih intensif. Kepulauan indonesia yang membentang disebelah timur
India sebagai kelanjutan dari daratan Asia. Sejak zaman prasejarah di kesatuan
wilayah Asia Tenggara telah terdapat lalulintas pertukaran barang. Hubungan ini
merupakan salah satu benang merah pemersatu wilayah asia tenggara. Perdaganag
antara indonesia dengan india bertumpi pada pola-pola perdagangan regional yang
telah lama berkembang. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa pada abad ke V
M, baik di daratan Asia Tenggara maupun di Semenanjung Tanah Melayu dan
indonesia bagian barat telah terdapat pusat-pusat kekuasaan politik dengan
taraf pengindian yang sama.
Perdaganagn Asia tenggara dengan india adalah bagian dari
perdagangan internasional india yang terbentang hingga asia barat. Menurut Van
leur barang-barang yang diperdagangkan dalam pasaran internasional adalah
barang-barang yang bernilai tinggi seperti logam mulia, perhiasan, berbagai
jenis tenunan, barang-barang pecah belah, disamping bahan-bahan baku yang digunakan
untuk kerajinan. Selain itu juga terdapat bahan-bahan ramuan untuk
wangi-wangian dan obat. Menurut pendapat dari coedes alasan mengapa india
menaruh m,unat dengan perdagangan di asia tenggara adalah pada awal tarikh
masehi, india kehilanagan sumber emas yang utama yang berada di siberia dengan
perantara kafilah-kafilah siberia melalui baktria. Dalam perkembangannya
gerakan-gerakan berbagai bangsa penduduk asia tenggara telah memutuskan
jalan-jalan kafilah dari utara tersebut. Sebagai gantinya india mengimpor mata
uang emas yang berasal dari kerajaan romawi. Usaha ini kemudian di hentikan
atas perintak kaisar Vespasianus (69-79 M). Keadaan inilah yang telah mendorong
pedagang india untuk mencari emas di daerah lain sebagaimana telah di sebutkan
diatas yaitu mereka menyebut swarnadwipa dan yawadwipa sebagai pulau emas.
Sebuah naskah kuna india menyebutkan bahwa kayu gaharu dan kayu cendana berasal
dari negeri asing, yang kemungkinan besar negeri tersebut adalah wilayah asia
tenggara. Yang jelas ialah bahwa kayu gaharu indonesia tidak pernah menjadi
bahan ekspor yang terkenal, yang lebih terkenal dalam perdagangan internasional
adalah kayu cendana yag berasal dari indonesia timur. Kayu cendana terseibut
dikumpulkan oleh para pedagang indonesia di pusat-pusat perdagangan dengan
india di indonesia bagian barat dan kemudian diperdagangkan di india. Cengekh merupakan komoditi yang banyak dicari oleh
para pedagang india, sedangkan lada pada masa awal hubungan india dengan
indonesia tidak begitu laku dipasaran india karena masyarakat india sendiri
merupakan petani lada yang ulung.
Dalam kitab-kitab tentang pengobatan kapur barus yang
merupakan salah satu komoditi barang daganagn yang berharga dari daerah ini
belum menduduki tempat yang penting dalam perdagangan. Awal peningkatan
hubungan dagang antara indonesia dan india yang tidak dapat dinyatakan dalam
angka tahun yang pasti.

