Selasa, 18 Agustus 2020

Hubungan Indonesia dan India

 

Hubungan perdagangan indonesia dengan india

Kepulauan indonesia terletak antara 5 o 54’ lintang utara dan 11o lintang selatan, serta 95o 01’ bujur timur dan 141o 02’ bujur timur, letak indonesia yang di garis khatulistiwa menyebabkan indonesia memilikli dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, adanya dua musim dalam gejala tetap dalam iklimindonesia berpengaruh pada berbagai aspek    dalam kehidupan penduduk kepulauan indonesia, misalnya pada pola pertanian, pelayaran dan aspek-aspek lain yang dipengaruhi oleh iklim, angin musim jelas berpengaruh pada pola pelayaran dan pada gilirannya itu berpenagruh pada pelayaran perdaganagn dari dan ke indonesia,

Nusantar merupakan sebuah wilayah yang terdiri dari daratan yang terbagi kedalam pulau-pulau baik itu pulau besar maupaun yang kecil dan dikelilingi oleh lautan yang luas yang menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lainnya. Nusantara yang sekarang ini kita lebih mengenalnya dengan sebutan Indonesia dahulu merupakan sebuah wilayah  yang terdiri dari beberapa kerajaan yang mana dalam prosesnya kerajaan-kerajaan tersebut saling  tumbuh dan hancur karena pertikaian politik diantara kerajaan tersebut. Dengan jumlah pulau-pulau yang mencapai lebih dari seribu pulau, maka dahulu masayarakat setempat dalam perekonomiannya bergantng pada transportasi air untuk saling bertukar kooditi yang di perdagangkan. Dalam hal ini masyarakat nusantara sudah melakukan kerjasama dalam hal bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan agama dengan para pedagang yang singgah dan menjajakan dagangannya di nusantara ini.  diantara bangsa-bangsa tersebut adalah cina dan india yang mana diantara kedua negara tersebut memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan pada zamannnya.

 Hubungan India dengan Indonesia - Wikipedia bahasa Indonesia ...

Letak indonesia yang diantara daratan asia dan benua australia menjadikan indonesia sebagai jalur perdaganagn antara dua pusat perdagangan jaman kuna yaitu india dan cina. Hal tersebut tentu menjadi suatu keuntungan yang dimiliki oleh indonesia dimana para pedagang yang hendak menjajakan barang dagangannya dari india ke cina maupun sebaliknya akan singgah ke kepulauan indonesia untuk singgah dan kemudian melanjutkan perjalanannya kemudian. Dalam perkembangan selanjutnya hubungan perdagangan yang terjalin antara indonesia dengan india semakin intensif terjadi, dimana sebelumnya indonesia hanya dijakdikan sebagai tempat persinggahan para pedagang dari india hanya untuk sekedar menetap dan berdagang sambil menunggu angin musim yang hendak membawanya ke arah tujuan.

            Menurut J.C Van leur dan O.W. Wolters berpendapat bahwa hubungan dagang antara india dan indonesia lebih dahulu berkembang dari pada hubungan dagang antara indonesia dan Cina. Sedangkan para ahli berpendapat bahwa hubungan dagamg antara india dan kepulauan  indonesia telah lama terjadi sebelum hal tersebut disinggung dalam catatan sejarah. Hubungan tersebut pada awalnya sangat jarang terjadi tetapi dalam perkembangannnya semakin meningkat karena faktor-faktor yang mendorong bertambah ramainya hubungan dagang tersebut serta sudah diketahuinya angin musim yang baik untuk berlayar menyeberangi samudera india ke Timur dan juga sebaliknya. Dalam Penelitian sejarah dan etnografi dapat kita ketahuai bahwa penduduk Asia Tenggara, khususnya penduduk kepulauan Indoonesia, adalah pelaut-pelaut yang mampu melayari samudera lepas. Penyebaran perahu bercadik yang meliputi Polinesia sampai ke Hawaii di Timur, dan Madagaskar di barat menunjukkan penyebaran pada budaya yang sesuia dengan hasil penelitian bahasan Kern pada tahun 1886.

            Dengan hasil penelitia yang dilakukana oleh  Kern maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bukanlah suatu yang mustahil bagi masyarakat kepulauan indonesia untuk berlayar ke teluk Benggala, dan mungkin juga sampai ke India Selatan. Meskipun demikian para sejarawan masih kesulitan dalam mengetahuai keadaaan awal hubungan indonesia dengan india dikarenakan terbatasnya sumber-sumber yang memberikan keterangan yang jelas. Sumber-sumber tertulis yang berasal dari indonesia tidak ditemukan karena justru tulisan yang berasala dari indonesia adalah berasala dari tulisan di india. Hal tersebut di persulit lagi karena tidak adanya kebiasaan dari masyarakat india untuk membuat catatan-cataatn resmi mengenai kejadian-kejadian penting dalam suatu kurun waktu tertentu. Sumber dari india yang dapat digunakan adalah sumber sastra. Salah satu karya sastra yang digunakan untuk mendapat fakta-fakta sejarah mengenai hubungan antar indonesia dan india adalah kitab jataka yaitu itab yang memuat kisah-kisah tentang kehidupan sang buddha ini menyebut suvarnabhumi sebagai suatu negeri yang memerlukan perjalanan yang penuh bahaya untuk mencapainya.

            Dalam kitab ramayana yang didalamnya menyebut nama yawadwipa yang dihias oleh tujuh kerajaan. Pulau ini adalah pulau emas dan perak. Disamping itu dalam kitab ini juga menyebutkan nama suwarnadwipa sebuah namay yang digunakan untuk menyebut pulau Sumatera yang berarti pulau emas. Adanya nama yawadwipa dan suwarnadwipa dalam kitab-kitab tersebut menyebabakan beberapa ahli bertumpu pada kitab-kitab tersebut guna mengungkap masa awal kedatangan pengaruh india di indonesia. Dalam usaha untuk mengetahui awal hubungan india dengan daerah-daerah di sebelah timurnya, para peneliti telah pula mengkaji sumber-sumber barat jaman kuna. Sebuah kitab yang banyak dikaji sebagai sumber adalah kitab periplous tes Erythras thalasses. Periplous adalah sebuah kitab pedoman untuk berlayar di lautan erytharasa, yaitu samudera India. Kitab ini ditulis oleh seorang nahkoda yunani-mesir yang biasa mengadakan pelayaran antara asia barat dan india. Di perkirakan bahwa kitab ini ditulis pada awal tarikh masehi.

            Sumber-sumber yang telah disebutkan diatas baik sumber yang berasal dari india maupun yang berasal dari sumber barat, belum dapat mengungkapkan awal hubungan antara india dengan indonesia sepenuhnya. Tetapi agaknya dapat kita mengambil kesimpulan bahwa di sekitar abad II M, hubungan tersebut relatif lebih intensif. Kepulauan indonesia yang membentang disebelah timur India sebagai kelanjutan dari daratan Asia. Sejak zaman prasejarah di kesatuan wilayah Asia Tenggara telah terdapat lalulintas pertukaran barang. Hubungan ini merupakan salah satu benang merah pemersatu wilayah asia tenggara. Perdaganag antara indonesia dengan india bertumpi pada pola-pola perdagangan regional yang telah lama berkembang. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa pada abad ke V M, baik di daratan Asia Tenggara maupun di Semenanjung Tanah Melayu dan indonesia bagian barat telah terdapat pusat-pusat kekuasaan politik dengan taraf pengindian yang sama.

            Perdaganagn Asia tenggara dengan india adalah bagian dari perdagangan internasional india yang terbentang hingga asia barat. Menurut Van leur barang-barang yang diperdagangkan dalam pasaran internasional adalah barang-barang yang bernilai tinggi seperti logam mulia, perhiasan, berbagai jenis tenunan, barang-barang pecah belah, disamping bahan-bahan baku yang digunakan untuk kerajinan. Selain itu juga terdapat bahan-bahan ramuan untuk wangi-wangian dan obat. Menurut pendapat dari coedes alasan mengapa india menaruh m,unat dengan perdagangan di asia tenggara adalah pada awal tarikh masehi, india kehilanagan sumber emas yang utama yang berada di siberia dengan perantara kafilah-kafilah siberia melalui baktria. Dalam perkembangannya gerakan-gerakan berbagai bangsa penduduk asia tenggara telah memutuskan jalan-jalan kafilah dari utara tersebut. Sebagai gantinya india mengimpor mata uang emas yang berasal dari kerajaan romawi. Usaha ini kemudian di hentikan atas perintak kaisar Vespasianus (69-79 M). Keadaan inilah yang telah mendorong pedagang india untuk mencari emas di daerah lain sebagaimana telah di sebutkan diatas yaitu mereka menyebut swarnadwipa dan yawadwipa sebagai pulau emas. Sebuah naskah kuna india menyebutkan bahwa kayu gaharu dan kayu cendana berasal dari negeri asing, yang kemungkinan besar negeri tersebut adalah wilayah asia tenggara. Yang jelas ialah bahwa kayu gaharu indonesia tidak pernah menjadi bahan ekspor yang terkenal, yang lebih terkenal dalam perdagangan internasional adalah kayu cendana yag berasal dari indonesia timur. Kayu cendana terseibut dikumpulkan oleh para pedagang indonesia di pusat-pusat perdagangan dengan india di indonesia bagian barat dan kemudian diperdagangkan di india. Cengekh  merupakan komoditi yang banyak dicari oleh para pedagang india, sedangkan lada pada masa awal hubungan india dengan indonesia tidak begitu laku dipasaran india karena masyarakat india sendiri merupakan petani lada yang ulung.

            Dalam kitab-kitab tentang pengobatan kapur barus yang merupakan salah satu komoditi barang daganagn yang berharga dari daerah ini belum menduduki tempat yang penting dalam perdagangan. Awal peningkatan hubungan dagang antara indonesia dan india yang tidak dapat dinyatakan dalam angka tahun yang pasti.  

Candi Mjapahit

 

Candi brahu

A.    Sejarah berdirinya candi brahu

Candi brahu terletak di desa jambe mente desa bejijong kecamatan Trowulan kabupaten Mojokerto.  Candi ini merupakan salah satu dari sekian banyak bukti sejarah adanya kerajaan besar yang pernah ada di Indonesia yaitu kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sendiri mempunyai wilayah kekuasaan yang sangat luas yang meliputi hampir seluruh Nusantara sekarang dan sebagian besar wilayah Asia Tenggara.  Nama brahu yang disematkan dalam bangunan tersebut berasal dari sebuah prasasti yang ditemukan oleh sejarawan pada tahun 861 S yaitu prasasti Alasantan. Prasasti itu dibuat pada masa Mpu Sindok sebagai raja sekaligus pendiri dari dinasti wangsa Isyana yang telah memindahkan pusat kerajaan Mataram kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Dari isi prasasti tersebut terdapat kata “Wanaru” atau “Warahu” yaitu nama sebuah bangunan suci sebagai tempt keagamaan. Berdasarkan angka tahun yang terdapat dalam prasasti Alasantan tersebut dapat dipastikan bahwa candi brahu memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan dengan usia dari kerajaan Majapahit itu sendiri. Selain itu nama brahu juga dipercaya oleh masyarakat setempat berasal dari kata “rabu” atau “prabuhan” yang berarti tempat penyimpanan abu jenazah.

Candi Brahu (Jawa Timur) - Kepustakaan Candi

Candi Brahu merupakan candi yang bergaya budha. hal tersebut dapat kita ketahui dari ujung bangunan candi yang berbentuk tambun sebagai ciri khas bentuk candi budha. eksitensi candi brahu sebagai tempat beribadatan bagi umat yang beragama hindu budha masih terjaga sampai sekarang. candi ini digunakan untuk peribadatan dan  perayaan dalam  uapacara ritual hari-hari besar umat agama hindu budha. dalam pelaksanaanya tersebut dilakukan didepan bangunan candi atau altar.

Pemugaran pertama pada candi brahu dilakukan oleh Belanda. Hal tersebut dikarenakan perhatian mereka  yang besar pada situs situs purbakala. Jika kita melihat struktur batu bata candi tersebut maka akan terlihat perbedaan yaitu jika kita melihat batu bata yang tersusun rapi maka itu merupakan bagian yang dilakukan pemugaran. Sedangkan bagian candi  yang tidak dilakukan pemugaran maka batu batanya kan terlihat tidak utuh.

Sturtur bangunan candi Brahu dibagi menjadi tiga yaitu:

1.      Kaki candi

Kaki candi terdiri atas bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai atas. Bingkai tersebut terdiri dari pelipit rata, sisi genta dan setengah lingkaran. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh sejarawan ditemukan kaki candi yang posisinya terpisah dari badan candi. Ukuran kaki candi tersebut 17,5 × 17 m. Sedangkan jika kita mengunjungi candi brahu sekarang kaki candi yang kita lihat adalah hasil dari pemugaran. Kaki Candi brahu tediri dari dua tingkat dengan selasarnya serta tangga disisi barat.

2.      Tubuh candi

Bentuk tubuh candi brahu  tidak utuh persegi ha tersebut dikarenakan terdapat sudut-sudut yang banyak, tumpul dan berlekuk. pada tubuh candi terdapat lekukan yang menjorok ke dalam seperti membentuk pinggang. Lekukan tersebut dapat kita lihat pada bagian barat atau pada sisi depan candi.  Candi brahu disusun dari batu bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok.  Sebagian besar struktur batu bata  tubuh candi merupakan hasil pemugaran. Candi-candi yang terdapat di Trowulan sebagian besar menggunakan batu bata merah, hal itu berkaitan dengan unsur religi atau kepercayaan.

3.      Atap candi

Atap candi Brahu berukuran ± 6 m. Atap candi tidak berbentuk prisma bersusun ataupun segi empat, melainkan berbentuk datar pada puncaknya dengan terdapat banyak sudut pada bagian atapnya. Sebelah tenggara sudut candi terdapat hiasan lingkungan yang diduga sebagai bentuk stupa.

            Candi brahu memiliki tinggi 27 m. Didalamnya terdapat bilik yang berukuran 4×4 m. Pada saat dilakukan pembongkaran sturuktur batu bilik ditemukan arang-arang yang kemudian dianalisia di Pusat Penelitian Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Yogykarta. Hasil dari analisa tersebut menunjukkan bahwa hasil pertanggalan radio karbon pada arang  tersebut berasal antara tahun 1410 hingga 1646 M.  Kondidi lantai  candi Brahu  telah rusak, pada kompleks candi terdapat altar yang berbentuk Mahameru.

Senin, 17 Agustus 2020

Sekte

  

Sekte Budiah di Kendal 

Sekte Budiah didirikan oleh Haji Mohamad Rifangi dari Kalisalak pada petengahan abad ke 19. Pendirian sekte Budiah oleh Haji Rifangi dengan tujuan untuk memurnikan ajaran islam, selain itu sekte Budiah juga digunakan sebagai wadah untuk melakukan perlawanan terhadap kebobrokan agama yang telah menyebar ke dalam masyarakat islam di pulau Jawa pada saat itu. Ajaran yang diajarkan oleh Haji Rifangi mendapatkan tempat di hati masyarkat karisidanan Pekalongan dan Kedu. Keberadaan sekte Budiah pada jaman sekarang masih memiliki eksitensi di tengah masyarakat modern. Hal ini dapat kita ketahui melalui keberadaan pengikut-pengikutnya di daerah Pekalongan, padahal di dalam sejarah gerakan agama jarang terdapat sekte yang mampu bertahan dalam melakukan gerakan-gerakannya dari pengejaran pemerintah kolonial. Salah satu faktor penyebabnya adalah tiap anggota komunitas Rifa’iyah diupayakan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam tarjumah dan ditulis ulangnya kitab tarjumah karya Ahmad Rifa’i oleh muridmuridnya.

Berdasarkan catatan yang dimiliki oleh pemerintah Haji Mohamad Rifangi adalah seorang putra dari seorang penghulu, yang dilahirkan di Kendal (Semarang) pada tahun 1786. Di dalam catatan tersebut menyebutkan bahwa ia telah tinggal di Mekah selama delapan tahun, setelah kembali dari Mekah ia kemudian menetap di tempat kelahirannya. Haji Rifangi menikah dengan janda dari Demang Kalisalah, setelah ditinggal oleh istrinya yang meinggal. Dalam menyebarkan ajaran sekte Budiah, ia mendapatkan perlawanan dari penguasa-penguasa agama setempat. Hal itu dikarenakan ajaran agama islam yang dibawanya dianggap telah melakukan kesalahan. Sebagai hukuman atas kesalahannya tersebut, ia kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Setelah selasai melaksanakan hukuman penjara, ia kemudian di bebaskan dan pindah ke Kalisalak. Di Kalisalak Haji Rifangi kemudian mendirikan sekolah yang didalamnya mengajarkan pelajaran membaca Al-Qur’an bagi anak-anak dan orang dewasa.  Kegiatan yang dilakukan oleh Haji Rifangi dan pengikutnya dicurigai oleh pemerintah dan pejabat agama setempat. Hal itu dikarenakan ajaran agama yang diajarkan kepada pengikutnya lebih menjurus kepada adanya perlawanan terhadap pemerintah yang dianggap kafir dan juga terhadap agama islam yang murni. Pejabat-pejabat agama yang resmi di dalam wilayahnya menjadi marah atas tuduhan yang dilontarkan oleh Haji Rifangi bahwa mereka telah melakukan penambahan dan pemalsuan agama islam dari ajaran yang sebenarnya.

Pada dasarnya ada tiga ajaran dari Ahmad Rifa’i seperti termaktub dalam kitab-kitab tarujamah/tarjamah karangannya. Pandangan atau pemikirannya itu dalam bidang ushuluddin (akidah), fiqh dan tasawuf. Dalam bidang tauhid/ushuluddin ia mengikuti faham Ahli Sunnah Waljamaah, fiqh mengikuti Mazhab Syafi’i dan tasawuf mengikuti Al-Junaid dan Al-Gazali. Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang sangat mandasar dari ajaran Ahmad Rifa’i seperti yang terdapat dalam kitab-kitab tarjamah karangannya dengan kepercayaan umat Islam pada umumnya di Indonesia.

Karya-karya dari Haji Rifangi seperti Ilmu Hukum Islam, azas-azas dan kepercayaan, dan mistisisme yang semuanya dibentuk dalam bahasa Jawa dalam bentuk puisi. Kumpulan karyanya tersebut di sebuit dengan kitab Tardjumah. Isi pokok dari kitab dijadikan sebagi bahan ajar di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan agama, hal itu dikarenakan kitab tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa yang sebelumnya merupakan kitab suci yang  berbahasa Arab, sehingga mudah di mengerti oleh para muridnya. Kitab Tarjumah karya Haji Rifangi dapat dikatakan sebagai bunga rampai, karena didalamnya berisi kumpulan berbagai masalah yang diambil dari kitab-kitab penting. Haji rifangi menghendaki adanya pembaharuan dalam masyarakat Jawa sehingga mereka dapat menjalankan agama Islam sesuai apa yang diperintahkan oleh Tuhan dan Nabinya.

Salah satu karya dari Haji Rifangi adalah Nalam Wikayah, yang berisi tentang bagaimana cara mencari tingkat kesempurnaan jiwa yang tertinggi, menurutnya hal ini dapat dilaksanakan dengan melaksanakan perintah Tuhan, bekerjasama dengan sesama orang Muslim dalam mengamalkan agamanya, mengajarkan yang bodoh, dan memberikan peringatan bagi mereka yang lalai. Selain itu, ia juiga menyebutkan bahwa orang yang saleh, taat beribadat, adil dan bijaksana adalah mereka yang akan memperoleh kemenangan tertinggi. Ajaran yang peting dalam sekte Budiah adalah mengenai penyucian individu dan masyarakat, yang betujuan untuk memurnikan masyarakat islam atau kaum Muslimin.

Menurut pandangan dari Haji Rifangi, kehidupan agama yang dijalankan oleh masyarkat, dan para pemimpin-pemimpinnya, telah menyimpan dari petunjuk-petunjuk Tuhan. Selanjutnya ia kemudian mengatakan bahwa, penguasa negara seperti bupati-bupati, kepala-kepala distrik, dan kepala-kepala desa semuanya berdosa. Para penghulu menurut pandangan Haji Rifangi, mereka adalah bodoh dan tidak mau belajar. Mereka dianggap lebih suka melanggar kebenaran dari pada menjalankan hukum dan amalan agama sesuai apa yang sudah ditetapkan dalam islam. Sebagian besar guru-guru agama banyak yang melalaikan tugasnya untuk mendidik muridnya, takluk dengan adat atau kebiasaaan yang dijalankan oleh orang kafir, para pemimpin dan kepala-kepala agama juga di anggap sebagai orang kafir dan munafik, hal itu dikarenakan mereka menerima pengetahuan hanya secara turun-temurun saja tidak mau belajar untuk menambah pengetahuan mereka. Oleh sebab itulah mereka dianggap penuh dosa. Dengan kondisi masyarakat yang sudah bobrok tetsebut Haji Rifangi berusaha untuk menyadarkan mereka, bahwa apa yang mereka lakukan itu salah dan sudah melanggar aturan  yang diajarakan oleh agama islam. Selain itu perkawinan mereka juga tidak berdasarkan pada hukum, oleh sebab itu anak yang lahir hasil dari pernikahan tersebut maka dianggap tidak sah pula. Haji Rifangi juga menentang adat-kebiasaan yang banyak dilakukan oleh orang, seperti; pertunjukkan wayang dan gamelan, pertemuan-pertemuan yang diikuti oleh pria dan wanita yang duduk secara bersama tanpa ada pemisah, wanita yang berpergian tidak menggunakan pentup kepala, dan sebagainya.

Kondisi pemimpin-pemimpin yang bobrok tersebut, membuat Haji Rifangi enggan untuk takluk dan setia terhadap mereka, bahkan ia melarang orang-orang untuk mengikuti pemimpin atau kepalanya, oleh sebab itulah bagi guru agama dan haji yang mengikutinya diangagap setia kepada raja kafir. Rakyat hanya dibenarkan untuk setia kepada khalifah dari Nabi yang suci, yang patut dihormati ,dari pada harus hormat pada priyayi.  

Isi ajaran Haji Rifangi dalam Nalam Wikayah seperti: “Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan Melawan raja kafir sekemampuannya perlu difikirkan Demikian juga perang sabil lebih dari pada ucapan Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar” Hal yang sama juga dilakukan terhadap birokrat pribumi, “Melihat tubuh hina menghadap dengan tubuh merayap Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa Pendapat dan tindakan kaum priyayi membuat dosa besar Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan Kepada raja kafir senang jadi pengikut Termasuk haji abdi, menolong kemaksiatan Kemudian menjadi kadi khotib ibadah Kepada alim adil bertindak membenarkan syareat Sebab khawatir bila tidak mendapat kedudukan Itulah amalan orang munafik yang kosong imannya Mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi Tumenggung”

Beberapa tulisan yang terdapat dalam karya yang ditulis oleh  Haji Rifangi penuh dengan caci-makian, terhadap penyelewengan dan ketakhayulan yang meresap ke dalam islam. Ia mengatakan bahwa mereka yang tunduk kepada pemimpin yang kafir dianggapnya tidak lebih baik dari pada anjing-anjing atau babi. Ia menyakini bahwa kebobrokan Islam dapat diperbaiki hanya apabila pemimpinnya mau dibimbing oleh petunjuk-petunjuk Tuhan. Dalam salah satu tambihnya Haji Rifangi juga membahas tentang adanya perang sabil, yaitu  perang untuk melawan raja kafir.

Di dalam kitab Nilam Wikaya juga terdapat kepercayaan tentang akan datangnya suatu milenium. Hal itu dijelaskan bahwa bila mereka yang bodoh mau mengikuti bimbingan mereka yang memiliki kebijaksanaan dan berpengetahuan, maka Jawa akan menjadi makmur dan tidak akan ada pencuri, perampok, dan pemberontak.

Setelah Haji Rifangi di tangkap oleh pemerintah kolonial, pergerakan yang dilakukan oleh pengikutnya yaitu dengan melakukan gerakan protes sosial, dengan melakukan isolasi terhadap pemerintah., dan komunitas lain. Para pengikut Haji Rifangi  hidup dalam isolasi damai dan terkesan eklusif. Mereka tidak mau shalat jum’at di masjid di luar komunitasnya, melaksanakan shalat qadha pada tiap malam ramadhan, menikah dengan sesama jamah Rifa’iyah, tidak mau menikah di hadapan Penghulu dan sebagainya.

 

 

  

 



 

Selasa, 28 April 2020

Benteng Pendem Ambarawa


Fort Wilem I or Pendem Ambarawa
Central Java, Indonesian


Ambarawa is a part of Central Java, Indonesia. In this Place have a Fort the name is Fort Willem or Pendem Ambarawa, which was built in the year 1834 to 1845 by the Dutch East Indies goverment, under the leadership of Colonel Hoom. “Pendem” is originated from language Javanese because this Fortress is located underground. Design by Fort Pendem Ambarawa shaped rectangles are strikedly two floors.

Williem fort is the largest fort in Java, this place is used as a military complex capable of carrying 12,000 troops and various supporting facilities, such as armory, workshop, training ground, and hospital. It took around 18 years to build this fort. The construction of the Ambarawa fort was based on the construction of VOC strongholds since the early nineteenth century, along the Semarang-Salatiga-Solo route for the development of relations with the kingdom of Mataram. Also in 1827 - 1830 there were military barracks and logistics under the leadership of Colonel Horn.
In 1834 the fortress Fort Willem I was built with the approval of the Governor General of the Dutch Hindio J.C. Baud The process of building this fort using a mandatory work system. The workers are mostly from Ambarawa and Temanggung. They are forced to work for 10 days and pay 10 cents a day. this was what later received opposition from the Temanggung Sumodilogo Regent who was supported by the Kedu Resident, Von Hogendrop.
The initial purpose of the establishment of this fort was as a military barracks and military logistics storage, but in its development the fort was later used as a defense facility equipped with a moat surrounding it as a preparation in the war against the sultanate of Yogyakarta. The construction of this fort was completed in 1848 which was later given the name Fort Cochius which was taken from the name of Lieutenant General Frans David Cochius commander in the Dutch East Indies who led the Dutch troops during the Diponegoro war in 1825. However, in 1856 fort Cochius fort became a pupillenschool for children European children who were born in the Dutch East Indies and turned into Fort Willem I or Ambarawa Pendem Fort.


Minggu, 26 April 2020

Kerajaan Majapahit


Indonesian Far East Asia
Majapahit Kingdom before Indonesia



Surya Majapahit
Sumber Wikipedia.org

        The existence of the Majapahit kingdom is inseparable from the existence of a poet named Prapanca. Prapanca name itself is known by the people of Indonesia as a poet who wrote the book Negarakertagama. In this case the prapanca name is actually not the original name of the author of the book, but that name is a pseudonym or we can call it "pen name" if it is associated with current conditions, where many of the authors have different names from the original names written in the results of his work. Prapanca itself means "barriers and deceivers". The origin of the word naming is known to be a symbol of Shiva's religion at that time which became a rival of Buddhism which developed simultaneously during the reign of King Hayam Wuruk. Through the work of the Prapanca poet, the Indonesian people can get to know the greatness of the Majapahit kingdom, which is one of the largest kingdoms in the archipelago or the region that is currently named Indonesia. There are several books written by poets Prapanca, among others sugataparwa, Bhismacharanantya, parwasagara and Nagarakretagama. In the last mentioned book has an important meaning in uncovering the history of the Majapahit kingdom itself.
        Nagarakretagama book written by Prapanca, he is a former official of Buddhism in the kingdom of Majapahit to replace his father. He ruled in religious affairs when Majapahit was ordered by king Rajasanagara in 1365 AD. We Negarakretagama contains poems as flattery to the king. This book was written by Prpanca when he was imprisoned on the slope of a mountain in the village of Kamalasana after leaving the city of Majapahit. He wrote the Nagarakretagama book based on his experience while serving as a Buddhist leader who had followed the king's activities around several regions or villages. The Nagarakretagama Book was written as an offering to the king for his love for the kingdom of Majapahit.
The Nagarakretagama book contains 98 poems which are divided based on events that occur. The division is as follows:
1. The first poem contains worship of the greatness of King Rajasanagara which is considered to be the incarnation of the god Shiva-Buddha who has provided welfare and peace for his people.
2. Poems 2 - 6 contain family relations to Rajasanagara;
3. Pupuh 3 describes the father and mother of your majesty who live in Singasari;
4. Pupuh 4 contains a marriage between Rani Jiwana who is the aunt of King Rajasanagara and King Wengker;
5. Pupuh 5 contains the younger brother named Rani Lasem and Rani Padyang;
6. Pupuh 6 describes the marriage of His Majesty's two sisters;
7. Poem 7 contains praise for His Majesty which everyone submits to;
8. Pupuh 8-12 contains the ins and outs of the kingdom from the royal capital which is the residence of the king to the servants and dignitaries of the kingdom;
9. Pupuh 13-16 concerning the area of ​​the Majapahit kingdom and its colonies or conquered kingdoms as contained in poem 15/1 which mentions the kingdoms of Campa, Siam, Daramanagara, Singanagara;
10. Poems 17 - 60 which tells the story of His Majesty's trip to Lumajang;
11. Pupuh 61 - 62 describes the journey of the king in Saka 1283 or 1361 in the village of Simping to repair the tomb temple;
12. Pupuh 63 - 67 contains the victims of the victims of Srada victims (Nyadran) in commemoration of the death of King Patani;
13. Pupuh 68 - 69 contains the division of the kingdom of Airlangga for his two children into the kingdom of Daha and Panjalu by Mpu Bharada by pouring water jugs into the air;
14. Pupuh 70 - 73 contains the return of His Majesty from Simping, then word got out that the Gadjah Mada patih was ill and finally died, then a meeting was held to choose a successor to the Gadjah Mada patih but the king did not find a suitable one;
15. Pupuh 74 - 82 contains the names of the Tombs, Wakaf land, boarding houses, Kebudhaan villages and Kesiwaan villages etc. Especially in Java and Bali;
16. Pupuh 83 contains the ancestors of the people and the welfare of the people of Java during their reign;
17. Pupuh 84 contains His Majesty's kirab, which travels around the city on a yellow stretcher, accompanied by princes, priests, scholars in uniform;
18. Canto 85 recounts the meeting every month of Caitra or the first month of the year which is a kind of deliberation with everyone;
19. Pupuh 86 - 92 tells the story of a big party held at the Bubat field, which was attended by His Majesty;
20. Poem 93 - 94 contains a description of how many poets who created poetry kakawin as idol of the king;
21. Pupuh 95 - 98 which tells the fate of the awkward poet who lives in the village and then ascetic on the slope.

Reference: Towards the Peak of Grandeur: History of the Majapahit Kingdom (Prof. Dr. Slamet Muljana)