Jumat, 30 Maret 2018

Kerajaan Kutai


Kerajaan kutai

Keberadaan kerajaan kutai masih banyak diperdebatkan oleh para ahli sejarah hal tersebut didasari pada fakta hanya sedikit bukti-bukti sejarah yang menceritakaan keberadaan kerajaan ini. letak kerajaan kutai di kalimantan timur yang terlepas dari perhatian para pedagang Cina dikarenakan  tidak berada pada jalur lalu lintas perdaangan Niaga. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk daerah Sarawak dengan ditemukannnya benda-benda sejarah yang diperkirakan berasal pada zaman dinasti Han tahun 220 SM, sementara itu di Sempaga, Sulawesi Selatan ditemukannnya arca budha yang terbuat dari perunggu.
Berdasarkan prasasti yupa yang ditemukan yang jumlahnya da 7 buah menyebutkan bahwa kerajaan kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang terletak di muara kaman, Kalimantan Timur yang berdiri sejak tahun V M.  Nama kutai diambil sebagai nama kerajaan berdasarkan daerah ditemukannya prasasti kerajaan kutai tersebut. semua prasasti yupa dikeluarkan atas perintah dari raja yang memerintah pada saat itu. Salah satu prasasti yupa menyebutkan sislsilah raja-raja kutai yaitu :
“Srimaratah sri-narendrasya,kudungasya mahatmanah, putro svavarmmovikhyatah, vansakartta yathansuman,tasyaputra mahatmanah, trayas traya ivagnayah, tesan trayanam pravarah, tapo-bala-damanvitah, sri mulavarmma rajendro, yastvabahusuvarnnakam, tasya yajnasya yupo yam, dvijendrais samprakalpitah”.
Dari isi prasasti tersebut memiliki arti “sang maha raja Kudungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, sang Aswawarmman namanya, yang seperti sang Ansuman (dewa matahari) mnumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari tiga putra itu ialah sang Mulawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa, sang Mulawarmman telah mengadakan kenduri (upacara selamatan)emas amat banyak, buat peringatan kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh brahmana.”
Dari isi prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat sislsilah kerajaan yang terdiri dari Kudungga yang mempunyai anak yang bernama Aswawarmman dan cucunya bernama Mulawarmman. Kudungga dalam prasasti yupa tersebut disebutkan bukan tokoh yang mendirikan keluarga  kerajaan kutai tetapi justru Aswawarmman, hal tersebut menimbulkan persepektif bahwa yang mendirikan keluarga kerajaan kutai adalah ia yang sudah menganut agama hindu yang mana nama Aswawarmman sendiri sudah terpengaruh oleh budaya hindu di India, sedangkan Kudungga yang merupakan raja pertama kerajaan kutai masih menggunakan nama asli dari Nusantara.
Sebelum datangnya agama hindu di kerajaan kutai, masyarakatnya sudah menganut kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang mereka, tetapi setelah datangnya agama hindu yang mana raja kutai saat itu Aswawarman telah memeluk agama hindu maka masyarakat kerajaan kutai banyak yang beralih ke agam hindu walaupun masih juga terdapat masyarakat yang tetap pada pendirian semula yaitu percaya kepada roh-roh nenek moyang mereka. Dalam agama hindu terdapat stratifikasi sosial berdasarkan sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat. Hal tersebut tentu menimbulkan masalah dimana masyarakat kutai yang pada waktu itu belum menganut agama hindu, dapat memperoleh perlakuan dan terdaftar dalam kasta tersebut. Maka untuk itu diadakanlah upacara penghinduan atau Vratyastoma yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia untuk memeluk agam hindu serta masuk kedalam salah satu kasta yang telah ditentukan. Dalam melaksanakan upacara Vrastyastoma kedudukan asal seseorang yang bersangkutan sangat penting, hal tersebut dikarenakan pendeta Indonesia saat itu belum mampu memimpin jalannya upacara, sehingga perlu mendatangkan brahmana agama hindu yang berasala dari India secara langsung. Hal tersebut terjadi pada saat upacara Vrastyastoma untuk raja Aswawarmman.
Dari beragam peninggalan yang ditemukan diketahui bahwa kehidupan masyarakatnya Kutai sudah cukup teratur. Walau tak secara terang diungkapkan, diperkirakan masyarakat Kutai sudah terbagi dalam pengkastaan meskipun tak secara tegas. Dari penggunaan bahasa Sansekerta dan pemberian hadiah sapi, disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat golongan brahmana, golongan yang sebagaimana juga di India memegang monopoli penyebaran dan upacara keagamaan. Di samping golongan brahmana, terdapat pula kaum ksatria. Golongan ini terdiri dari kerabat dekat raja. Di luar kedua golongan ini, beberapa besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi kerajaan, namun masih terdapat kebebasan bagi masyarakat untuk menjalankan kepercayaan aslinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar