Rabu, 28 Maret 2018

Sriwijaya sebagai pusat agama Budha terbesar di Asia Tenggara


Sriwijaya sebagai pusat Agama Budha
 terbesar di Asia Tenggara

Bab I
 Pendahuluan

Banyak teori yang dikemukakan oleh sejarawan  mengenai kapan mulai masuknya agama hindu-budha di indonesia. Hal tersebut disebabkan karena bukti sejarah terkait masuknya agama hindu-budha masih samar-samar. Hal lain yang masih disangsikan adalah mengenai pembentukan kebudayaan masyarakat indonesia, apakah kebudayaan tersebut lahir dari agama hindu-budha, atau sebaliknya yaitu agama hindu-budha-lah yang menyesuaikan dengan kebudayaan masyarakat indonesia. Pada tahun 400 M di pastikan agama hindu-budha telah berkembang di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan prasasti yupa di Kalimantan Timur, yang menunjukkan adanya kerajaan kutai yang berarti agama hindu-budha sudah masuk ke Indonesia.
Menurut para ahli sejarah terdapat beberapa teori mengenai awal masuknya agama hindu-budha di Indonesia yaitu:
1.      Hipotesa Brahmana
    Hipotesa brahma dikemukakan oleh Van Leur. Ia berpendapat bahwa hanya golongan cendikiawanlah yang dapat menyampaikan mengenai ajaran hindu-budha kepada masyarakat Indonesia saat itu. Golongan tersebut ia sebut Clerks dan untuk proses yang terjadi antara budaya Indonesia dan India ia menyebut dengan istilah penyuburan.
2.    Hipotesa ksatria
          Hipotesa ksatria yang di kemukakan oleh Bosch. Ia berpendapat bahwa telah terjadi kolonisasi oleh orang-orang India yang kemudian mereka menyebarkan kebudayaannya, kolonisasi tersebut di sertai pula dengan penaklukan wilayah nusantara. Peranan utama dalam penyebaran agama dipegang oleh golongan prajurit.
3.   Hipotesa Vaisya
        Hipotesa Vaisya di kemukakan oleh Krom. Ia  berpendapat bahwa golongan pedaganglah yang berperan dalam proses penyebaran agama hindu-budha. Para pedagang tersebut menetap di Indonesia dan kemudian memegang peranan penting dalam penyebaran pengaruh budaya india kepada penguasa-penguasa setempat. Dan kemungkinan terjadinya perkawinan antara para pedagang tersebut dengan wanita pribumi.
4.   Hipotesa  arus balik
       Hipotesa arus balik  dicetuskan oleh F.D.Bosch. menurutnya para penyebar ajaran hindu-budha adalah orang-orang Indonesia sendiri. Mereka mula-mula diundang atau datang sendiri ke India untuk belajar agama hindu-budha, kemudian mereka kembali ke Indonesia dan menyebarkan ajaran hindu-budha yang didapatnya selama belajar di India.
Berbeda dengan biksu agama budha, para brahmana dalam agam hindu tidak diwajibkan untuk menyebarkan agamanya, dan pada dasarnya seseorang tidak dapat menjadi hindu, tetapi seseorang dilahirkan sebagai hindu.
Muncul dan berkembangnya agama hindu-budha di Indonesia berdampak pada sistem ekonomi, sosial, agama, dan kebudayaan pada masyarakat Nusantara. Hal itu terlihat dari beberapa kerajaan yang ada di Indonesia bercorak hindu atau budha, atau bahkan kedua-duanya. Diantara kerajaan kerajaan yang bercorak hindu adalah kerajaan kutai, kerajaan

Bab II
 Pembahasan
                                          
Sriwijaya  merupakan salah satu kerajaan terbesar  yang pernah ada di indonesia dengan corak kerajaan maritim. Nama  Sriwijaya yang di kemukakan oleh G. Coedes dalam karangannya ,le royaume deCrivijaya yang mulai dikenal pada abad ke-20 , menurut prasasti kota kapur adalah nama sebuah kerajaan di Sumatra bagian Selatan yang pusat pemerintahannya ada di Palembang . munculnya kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan di Sumatra bagian Selatan telah mengalihkan perhatian para peneliti ahli sejarah kuno Indonesia dari kerajaan Mataram di Jawa bagian Tengah ,karena Sriwijaya lebih tua dari pada Mataram kuno.
Kerajaan sriwijaya yang juga disebut sebagai san-fo-ts’i  dalam bahasa cina dan swarnadwipa dalam bahasa india ,mepunyai sejarah yang sulit untuk diungkapkan secara sempurna ,karena terbatasnya bukti-bukti peninggalan sejarahnya. Menurut piagam kalasan sriwijaya dipimpin oleh dua wangsa yaitu : wangsa sailendra dan wangsa sanjaya . dalam wangsa sanjaya termasuk maharaja dyah pancapana pangkaran sedangkan wangsa sailendra sailendra yaitu maharaja panangkaran ,rajasinga dan para guru sailendra. Pada piagam ligor B tahun 775 M  menyebut bahwa wangsa sailendra dengan  gelar cri maharaja .sedangkan menurut chhabra beranggapan bahwa di sriwijaya hanya terdapat satu raja yaitu bernama wisnu dan bergelar cri maharaja. Berdasarkan  prasasti kedukan bukit yang merupakan prasasti tertua, berangka tahun 682 Masehi menyebutkan bahwa raja yang pertama memerintah kerajaan sriwijaya adalah dapunta hyang.
Sedangkan menurut prasasti talang tuo yang berisi 14 baris yang ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa melayu kuna, yang berangka tahun 606 S (23 Maret 684 M) berisi tentang pembuatan kebun sriksetra atas peritah dapunta hyang sri jayanasa untuk kemamuran semua mahluk. Pada piagam nalanda disebutkan bahwa nama raja sailendra  sri dharmasetu adalah nenek dari balaputradewa yang menjadi raja di jawa ,mempunyai anak samaragwira /rakai warak yang menikah putri Tara putri raja dharmesetu  dan somawangsa .dari pernikahan itu maka lahirlah Balaputradewa. Sriwijaya menjadi pusat studi agama budha mahayana di seluruh wilayah Asia Tenggara. Raja Balaputra dewa menjalin hubungan yang erat dengan kerajaan benggala dari India dengan rajanya Dewapala Dewa, yang kemudian ia menghadiahkan sebidang tanah kepada Balaputra Dewa untuk pendirian asrama bagi bagi para pelajar dan Mahasiswa yang sedang belajar di Nalanda.
Sriwijaya menjadi pusat pendidikan di wilayah Asia Tenggara, hal ini dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa asing yang belajar di Sriwijaya , mahasiswa yang ingin belajar ke India biasanya singgah terlebih dahulu di Sriwijaya untuk belajar bahasa sansekerta selama satu atau dua tahun. Kebanyakan mahasiswa asing tersebut berasal dari Asia Timur. Menurut berita dari I-Tsing dalam perjalannannya dari Cina ke India tahun 671 M, dan singgah di Sriwijaya. menyebutkan bahwa Sriwijaya dikelilingi benteng dan terdapat  ribuan pendeta dan pelajar (Mahasiswa) yang belajar dan meneliti agama budh. salah seorang pendeta agama budha yang terkenal adalah Sakyakirti. I-Tsing sendiri tinggal di Sriwijaya tahun 658-689 M, untuk menterjemahkan kitab Budha da-ri bahasa sansekerta  ke dalam bahasa Cina.
Salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya yang terbesar adalah bukit Siguntang. Situs bukit Siguntang merupakan yang tingginya mencapai 26 meter diatas permukaan air laut dan merupakan bentang lahan tertinggi di kota Palembang. Menurut Retno Purwanti Nadeak dalam jurnal forum arkeologi  menyebutkan bahwa bukit siguntang merupakan situs keagamaan kerajaan Sriwijaya, yang di jadikan sebagai tempat peribadatan ziarah bagi agama budha mahayana. Dalam kitab sejarah melayu menyebutkan bahwa tempat ini merupakan asal-usul raja-raja Melayu di Nusantara, baik itu yang berasal dari Sumatra, maupun raja-raja yang pernah berkuasa di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Patani, dan Thailand Selatan. Di situs ini di temukan beberapa peninggalan diantaranya struktur bangunan bata, stupa batu, Arca Budha, Prasasti bukit siguntang, kepala budha dari bahan perunggu dll.
            Pada tahun 1008 datang utusan dari raja yang bernama se-li-ma-la-pi (sri marawi)ke cina .yang dimaksud disini ialah raja sri marawijayottunggawarman. Dari berita tersebut berarti bahwa raja cudawaniwarman memerintah dalam waktu yang singkat  yaitu selama 5 tahun ,sebagai penggantinya adalah anaknya . sekitar tahun 1005-1006 ,pada masa pemerintahan ke-21 dari raja cola yang bernama rajakesariwarman rajaraja 1 ,raja sri marawijayottunggawarman mendirikan bangunan suci agama budha di nagipattana dengan bantuan raja cola yang diberi nama cudamanivarmavihara. Hubungan antara sriwijaya dan cola tidak berlangsung lama,karena pada tahun 1017 tanpa sebab raja cola rajendracoladewa tiba-tiba menyerang sriwijaya,serangan kedua pada tahun 1025  yang disebutkan dalam prasasti tanjore tahun 1030.

Bab III
Penutup

1.     Kesimpulan
          Kerajaan Sriwijaya menjadi  merupakan pusat pengajaran terbesar di Asia Tenggara bagi pengajaran agama budha Mahayana. Hal tersebut di buktikan dengan banyaknya para pendeta agama budha dan pelajar (mahasiswa) yang memilih kerajaan Sriwijaya dalam mempelajari dan meneliti agama budha Mahayana. Dengan berkembangnya Sriwijaya sebagai pusat ajaran Budha Mahayana, dapat kita simpulkan bahwa raja-raja yang memerintah kerajaan Sriwijaya sangat memperhatikan

2.   Daftra pustaka
hhtps://jurnal.ugm.ac.id/jkn/article, Sabtu, 2 Februari 2018, pukul 01.38 WIB
hhtps://forumarkeolog.kemendikbud.go.id/, Sabtu, 2 Februari 2018, pukul 01.41 WIB
hhtps://staff.uny.ac.id/sejarah indonesia hindu-budha, Rabu 28 Februari 2018, pukul 08.00 WIB
           
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar