Kerajaan
kutai
Keberadaan
kerajaan kutai masih banyak diperdebatkan oleh para ahli sejarah hal tersebut
didasari pada fakta hanya sedikit bukti-bukti sejarah yang menceritakaan
keberadaan kerajaan ini. letak kerajaan kutai di kalimantan timur yang terlepas
dari perhatian para pedagang Cina dikarenakan
tidak berada pada jalur lalu lintas perdaangan Niaga. Namun hal tersebut
tidak berlaku untuk daerah Sarawak dengan ditemukannnya benda-benda sejarah
yang diperkirakan berasal pada zaman dinasti Han tahun 220 SM, sementara itu di
Sempaga, Sulawesi Selatan ditemukannnya arca budha yang terbuat dari perunggu.
Berdasarkan
prasasti yupa yang ditemukan yang jumlahnya da 7 buah menyebutkan bahwa kerajaan
kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang terletak di muara kaman, Kalimantan
Timur yang berdiri sejak tahun V M. Nama
kutai diambil sebagai nama kerajaan berdasarkan daerah ditemukannya prasasti
kerajaan kutai tersebut. semua prasasti yupa dikeluarkan atas perintah dari
raja yang memerintah pada saat itu. Salah satu prasasti yupa menyebutkan
sislsilah raja-raja kutai yaitu :
“Srimaratah
sri-narendrasya,kudungasya mahatmanah, putro svavarmmovikhyatah, vansakartta
yathansuman,tasyaputra mahatmanah, trayas traya ivagnayah, tesan trayanam
pravarah, tapo-bala-damanvitah, sri mulavarmma rajendro, yastvabahusuvarnnakam,
tasya yajnasya yupo yam, dvijendrais samprakalpitah”.
Dari
isi prasasti tersebut memiliki arti “sang maha raja Kudungga, yang amat mulia,
mempunyai putra yang mashur, sang Aswawarmman namanya, yang seperti sang Ansuman
(dewa matahari) mnumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarmman
mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari tiga
putra itu ialah sang Mulawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa,
sang Mulawarmman telah mengadakan kenduri (upacara selamatan)emas amat banyak,
buat peringatan kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh brahmana.”
Dari
isi prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat sislsilah kerajaan yang
terdiri dari Kudungga yang mempunyai anak yang bernama Aswawarmman dan cucunya
bernama Mulawarmman. Kudungga dalam prasasti yupa tersebut disebutkan bukan
tokoh yang mendirikan keluarga kerajaan
kutai tetapi justru Aswawarmman, hal tersebut menimbulkan persepektif bahwa
yang mendirikan keluarga kerajaan kutai adalah ia yang sudah menganut agama
hindu yang mana nama Aswawarmman sendiri sudah terpengaruh oleh budaya hindu di
India, sedangkan Kudungga yang merupakan raja pertama kerajaan kutai masih
menggunakan nama asli dari Nusantara.
Sebelum
datangnya agama hindu di kerajaan kutai, masyarakatnya sudah menganut
kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang mereka, tetapi setelah datangnya
agama hindu yang mana raja kutai saat itu Aswawarman telah memeluk agama hindu
maka masyarakat kerajaan kutai banyak yang beralih ke agam hindu walaupun masih
juga terdapat masyarakat yang tetap pada pendirian semula yaitu percaya kepada
roh-roh nenek moyang mereka. Dalam agama hindu terdapat stratifikasi sosial
berdasarkan sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat. Hal tersebut tentu
menimbulkan masalah dimana masyarakat kutai yang pada waktu itu belum menganut
agama hindu, dapat memperoleh perlakuan dan terdaftar dalam kasta tersebut.
Maka untuk itu diadakanlah upacara penghinduan atau Vratyastoma yang dilakukan
oleh orang-orang Indonesia untuk memeluk agam hindu serta masuk kedalam salah
satu kasta yang telah ditentukan. Dalam melaksanakan upacara Vrastyastoma
kedudukan asal seseorang yang bersangkutan sangat penting, hal tersebut
dikarenakan pendeta Indonesia saat itu belum mampu memimpin jalannya upacara,
sehingga perlu mendatangkan brahmana agama hindu yang berasala dari India
secara langsung. Hal tersebut terjadi pada saat upacara Vrastyastoma untuk raja
Aswawarmman.
Dari beragam peninggalan yang ditemukan
diketahui bahwa kehidupan masyarakatnya Kutai sudah cukup teratur. Walau tak
secara terang diungkapkan, diperkirakan masyarakat Kutai sudah terbagi dalam
pengkastaan meskipun tak secara tegas. Dari penggunaan bahasa Sansekerta dan
pemberian hadiah sapi, disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat
golongan brahmana, golongan yang sebagaimana juga di India memegang monopoli
penyebaran dan upacara keagamaan. Di samping golongan brahmana, terdapat pula
kaum ksatria. Golongan ini terdiri dari kerabat dekat raja. Di luar kedua
golongan ini, beberapa besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat istiadat
dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi
kerajaan, namun masih terdapat kebebasan bagi masyarakat untuk menjalankan
kepercayaan aslinya.